Malam itu Kirana tak bisa tidur. Kata-kata Prasetyo terus terngiang: *"Radya—dan kita berdua—dalam bahaya yang lebih besar dari yang kau kira."*

Ia duduk di lantai kamar, mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul kain batik lusuh dari bawah kasur. Buku harian perawatan Radya—catatan yang ia mulai sejak hari pertama anak itu tinggal bersamanya, tiga tahun lalu. Setiap demam, setiap gigi yang tanggal, setiap kata baru yang diucapkan, setiap mimpi buruk yang membangunkannya tengah malam—semua tercatat rapi di sana, seperti seorang ibu yang tak mau kehilangan satu detik pun dari hidup anaknya.

Ia membuka halaman-halaman awal. *"Radya hari ini bertanya kapan ayahnya pulang. Aku bilang ayahnya sedang jauh, bekerja. Aku benci berbohong padanya, tapi apa lagi yang bisa kukatakan?"*

Ia menutup buku itu, dadanya sesak. Selama tiga tahun ia hidup dengan kebohongan kecil demi kebaikan, dan sekarang kebohongan itu berbalik menghantamnya.

Keesokan paginya, sebelum mengantar Radya ke taman kanak-kanak, ponsel Kirana berdering. Nomor tak dikenal.

"Bu Kirana Wastuti?" Suara pria di seberang, dingin dan formal. "Kami dari firma hukum Rahardjo & Rekan, mewakili keluarga besar Wibawa. Kami ingin membicarakan penyelesaian di luar pengadilan."

"Penyelesaian?"

"Klien kami bersedia memberikan kompensasi yang layak jika Ibu bersedia mengalihkan hak asuh secara sukarela, tanpa perlu memperpanjang proses hukum yang melelahkan ini."

Kirana mengerutkan kening. "Bapak Prasetyo sendiri yang meminta ini?"

Ada jeda sedikit terlalu lama sebelum suara itu menjawab, "Kami mewakili kepentingan keluarga besar."

Bukan Prasetyo. Seseorang lain.

"Saya tidak tertarik dengan uang," jawab Kirana tegas. "Radya bukan barang yang bisa ditukar kompensasi."

"Pikirkan baik-baik, Bu Kirana. Angka yang kami tawarkan cukup untuk membeli rumah baru, membuka usaha jahit sendiri, bahkan menyekolahkan diri Ibu sendiri jika mau. Sementara jika kasus ini berlanjut ke pengadilan, biaya hukum yang harus Ibu tanggung akan jauh lebih besar dari yang bisa Ibu bayangkan."

Ancaman terselubung itu membuat tangan Kirana mengepal.

"Siapa nama Bapak?"

"Itu tidak penting. Yang penting adalah keputusan Ibu. Kami tunggu jawaban dalam dua hari."

Sambungan terputus.

Sore harinya, ketika Kirana menjemput Radya, ia melihat sosok Yudo—pengacara Prasetyo—menunggu di dekat gerbang sekolah, wajahnya tegang.

"Bu Kirana, saya perlu bicara. Bukan atas nama Pak Prasetyo. Ini... pribadi."

Kirana waspada, tapi mengangguk.

"Tadi pagi, apakah Ibu menerima telepon dari seseorang mengaku dari firma hukum Rahardjo & Rekan?"

Kirana terkejut. "Bagaimana Anda tahu?"

"Karena firma itu tidak pernah mewakili keluarga Wibawa secara resmi." Yudo melirik sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar. "Firma itu terafiliasi dengan Ratna Suhardjo—mantan tunangan Pak Prasetyo sebelum ia menikah dengan Alana. Ratna masih menyimpan dendam, dan yang lebih penting, ia dekat dengan ibunda Pak Prasetyo yang sangat ingin Radya kembali ke keluarga besar—dengan atau tanpa Ibu."

"Ratna Suhardjo. R.S." Kirana tercekat. "Inisial di surat wasiat itu—"

"Bukan," potong Yudo cepat. "Inisial di surat itu kemungkinan besar bukan Ratna. Tapi Ratna tahu tentang keberadaan surat itu, entah bagaimana. Dan jika dia sampai lebih dulu mendapatkannya sebelum verifikasi resmi..."

"Dia akan memusnahkannya," Kirana menyelesaikan kalimat itu, jantungnya berdegup kencang.

Yudo mengangguk berat. "Saya menyarankan Ibu segera menyerahkan dokumen asli ke notaris terpercaya untuk verifikasi, secepat mungkin. Jangan tunggu jadwal resmi tiga hari lagi. Terlalu berisiko."

Malam itu, setelah Radya tidur, Kirana kembali membuka brankas kecilnya, memeriksa amplop cokelat itu—memastikan masih di tempatnya. Tapi saat ia menyentuhnya, ia baru sadar ada sesuatu yang selama ini terlewat: di bagian dalam amplop, terselip potongan kertas kecil yang nyaris menyatu dengan lipatan surat wasiat.

Ia membuka lipatan itu perlahan.

Sebuah nomor rekening bank, dan sebaris tulisan tangan Danang yang membuat dadanya berdegup lebih kencang dari sebelumnya:

*"Kir, kalau kau membaca ini, berarti Broto sudah kembali dan sesuatu yang buruk sedang terjadi. Jangan percaya siapa pun dari keluarga besar Wibawa kecuali Broto sendiri. Ada orang dalam yang menginginkan Radya mati sejak ia lahir—karena kelahirannya mengubah urutan warisan Wibawa Group selamanya."*

Kirana menutup mulutnya dengan tangan gemetar.

Ini bukan lagi soal siapa yang berhak mengasuh Radya.

Ini soal siapa yang ingin anak itu tak pernah tumbuh dewasa.

Tangan Kirana masih gemetar saat ia melipat kembali potongan kertas kecil itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop dengan hati-hati seperti menangani bahan peledak. Ia duduk lama di lantai kamarnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang, mencoba memahami betapa besar rahasia yang selama ini tersimpan dalam benda sesederhana amplop cokelat itu.

Ia teringat kembali malam-malam terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi—bagaimana Danang sering pulang larut, wajahnya tegang, sering kali menerima telepon misterius yang selalu ia jawab di luar rumah agar Kirana tidak mendengar. Waktu itu Kirana mengira suaminya sekadar sibuk dengan urusan pekerjaan biasa. Sekarang, dengan potongan kertas ini di tangannya, ia menyadari betapa banyak hal yang tak pernah Danang ceritakan padanya—bukan karena tak percaya, melainkan karena ingin melindunginya dari bahaya yang mengintai.

Keesokan paginya, sebelum Prasetyo datang seperti yang dijanjikan, Kirana memutuskan untuk memindahkan amplop itu ke tempat yang lebih aman—sebuah brankas kecil yang selama ini ia gunakan untuk menyimpan sertifikat rumah dan surat-surat penting lainnya, tersembunyi di balik lemari pakaian yang jarang disentuh siapa pun.

Ia juga mulai lebih waspada terhadap sekelilingnya—memeriksa setiap tamu yang datang, mengunci pintu lebih rapat dari biasanya, bahkan meminta tetangganya, Bu Darti, untuk lebih sering mengawasi rumahnya saat ia harus keluar mengantar atau menjemput Radya.

"Kenapa tiba-tiba jadi waspada begini, Kir?" tanya Bu Darti, keheranan melihat perubahan sikap Kirana yang biasanya begitu terbuka dengan tetangga.

"Ada urusan hukum yang rumit, Bu," jawab Kirana, mencoba tidak mengungkapkan terlalu banyak detail yang bisa membahayakan orang lain. "Saya cuma perlu lebih hati-hati untuk sementara waktu, demi Radya."

Bu Darti mengangguk pengertian, meski rasa penasarannya masih tersirat jelas di wajahnya. "Kalau butuh apa-apa, bilang saja. Kami di sini selalu siap bantu, Kir. Radya itu sudah seperti cucu sendiri buat kami semua di gang ini."

Kata-kata itu menghangatkan hati Kirana di tengah kecemasan yang terus membayangi. Ia menyadari, meski keluarga besar Wibawa memiliki kekuasaan dan kekayaan yang jauh lebih besar, ia memiliki sesuatu yang tak kalah berharga—komunitas kecil yang tulus mencintai dan melindungi mereka berdua, tanpa pamrih apa pun.

Bersambung ke Bab 5...