Kantor Dinas Sosial siang itu penuh sesak, tapi Kirana merasa sendirian di tengah kerumunan. Ia duduk di bangku tunggu sambil menggenggam map berisi fotokopi akta kelahiran Radya, kartu keluarga, dan—setelah pergolakan batin semalaman—salinan surat wasiat dari Danang, meski aslinya masih ia simpan rapat-rapat di brankas kecil di kamarnya.
"Ibu Kirana Wastuti?"
Seorang petugas mediasi keluarga memanggilnya. Di ruangan itu, Prasetyo sudah duduk lebih dulu, didampingi Yudo dan seorang psikolog anak yang disewa khusus oleh keluarganya. Semuanya berjas rapi, semuanya bicara dengan istilah hukum yang membuat Kirana merasa seperti terdakwa, bukan seorang ibu.
"Kami akan memulai proses mediasi ini dengan asesmen kelayakan pengasuhan," kata petugas itu, membuka berkas. "Bapak Prasetyo Wibawa telah menyerahkan bukti kepemilikan aset, riwayat pendidikan, serta rencana pengasuhan lengkap dengan tim pendukung: pengasuh profesional, psikolog anak, dan sekolah internasional."
Kirana menelan ludah. Di tangannya hanya ada map tipis berisi fotokopi dan tabungan sederhana hasil menjahit.
"Ibu Kirana, apa yang bisa Ibu tawarkan untuk kesejahteraan anak?"
"Cinta," jawab Kirana, spontan, sebelum ia sempat memikirkan kata yang lebih 'strategis'. "Saya tahu itu terdengar sederhana di depan semua dokumen ini. Tapi saya tahu Radya takut gelap sejak usia dua tahun karena mimpi buruk tentang kecelakaan orang tuanya. Saya tahu dia tidak suka wortel tapi mau makan kalau dipotong bentuk bintang. Saya tahu dia memanggil boneka kelincinya 'Pak Danang' karena dia rindu sosok ayah. Saya di sana untuk semua itu. Bukan tim pendukung. Saya."
Ruangan hening sejenak. Bahkan Prasetyo, yang sejak tadi menatap lurus ke depan dengan wajah kaku, sedikit menoleh.
Petugas mediasi berdehem, mencatat sesuatu. "Terima kasih, Ibu Kirana. Namun sesuai prosedur, kami tetap memerlukan dasar hukum yang sah untuk mempertimbangkan hak asuh di luar orang tua kandung. Apakah Ibu memiliki dokumen resmi yang menetapkan status wali?"
Ini saatnya.
Kirana membuka map, mengeluarkan salinan surat wasiat itu, tangannya sedikit gemetar. "Ini adalah surat wasiat almarhum suami saya, Danang Purnomo, yang menunjuk saya sebagai wali sah atas Radya apabila terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya."
Yudo, pengacara Prasetyo, segera mengangkat tangan. "Keberatan. Dokumen ini belum melalui verifikasi notaris resmi dan tidak menyebutkan persetujuan dari ayah kandung anak—yang saat itu dianggap telah meninggal, namun kini terbukti masih hidup."
"Almarhum suami saya membuat surat itu berdasarkan janji lisan dengan Bapak Prasetyo sendiri," bantah Kirana. "Mereka berdua sepakat, siapa pun yang hidup akan menjaga anak yang lain."
Semua mata beralih ke Prasetyo.
Untuk pertama kalinya sejak mediasi dimulai, Prasetyo terlihat goyah. Ia ingat malam itu—di kedai kopi kecil dekat kampus, bertahun-tahun lalu, sebelum keduanya menikah, sebelum anak-anak lahir—ketika ia dan Danang, dua sahabat karib yang tumbuh bersama sejak SMA, saling berjanji dengan tangan terjabat erat: *"Kalau salah satu dari kita nggak ada, yang lain jaga anaknya. Nggak peduli apa kata keluarga besar."*
"Itu benar," kata Prasetyo pelan, mengejutkan pengacaranya sendiri. "Kami memang pernah membuat janji semacam itu."
"Pak Prasetyo—" Yudo mencoba menyela, tapi Prasetyo mengangkat tangan.
"Tapi janji lisan bukan dokumen hukum yang mengikat, Kirana. Kau tahu itu."
"Makanya Danang menuliskannya," jawab Kirana tegas, menyodorkan surat itu ke tengah meja. "Dan Danang bukan orang bodoh yang menulis wasiat sembarangan. Dia meminta bantuan seseorang untuk memformalkannya. Seseorang dari kantor hukum lama keluarga Wibawa."
Prasetyo membeku.
Kop surat yang ia lihat semalam di rumah Kirana.
"Siapa yang membantunya?" tanya Prasetyo, suaranya mendadak serak.
Kirana menatapnya lurus-lurus. "Aku belum tahu nama lengkapnya. Tapi dokumen ini menyebut seseorang bernama 'R.S.' sebagai saksi dan notaris tidak resmi. Kau kenal siapa itu?"
Prasetyo tak menjawab. Wajahnya pucat, seolah nama berinisial itu membangkitkan sesuatu yang selama ini ia coba lupakan—sesuatu yang berhubungan dengan kematian istrinya sendiri.
Petugas mediasi, tak menyadari ketegangan tersembunyi itu, menutup berkasnya. "Baik, kami akan menjadwalkan verifikasi keaslian dokumen dalam waktu tiga hari. Sementara itu, hak asuh sementara tetap berada di tangan Ibu Kirana, dengan kunjungan terbatas untuk Bapak Prasetyo."
Kirana menghela napas lega, meski hanya sedikit.
Tapi saat mereka berjalan keluar ruangan, Prasetyo berjalan cepat menyusulnya, mencengkeram lengannya pelan. "Inisial R.S. itu—di mana kau menemukannya di surat itu?"
"Kenapa? Kau mengenalnya?"
Wajah Prasetyo berubah seperti orang yang baru saja melihat hantu.
"Kalau benar itu orangnya," bisiknya, "maka Radya—dan kita berdua—dalam bahaya yang lebih besar dari yang kau kira."
Kirana menatapnya, jantungnya berdegup kencang mendengar nada suara Prasetyo yang tiba-tiba berubah begitu serius. "Bahaya apa? Katakan padaku dengan jelas, Prasetyo. Aku sudah cukup lelah dikelilingi teka-teki sejak kau muncul kembali."
Prasetyo menatap sekeliling koridor kantor yang mulai sepi, memastikan tak ada orang yang mendengarkan sebelum melanjutkan. "Aku tidak bisa membicarakannya di sini. Terlalu banyak telinga yang mungkin melapor pada orang yang salah."
"Kalau begitu, kapan?"
"Besok. Aku akan datang ke rumahmu, membawa beberapa dokumen yang mungkin bisa menjelaskan semuanya." Ia menatap Kirana lekat-lekat, matanya penuh kekhawatiran yang tulus. "Sementara itu, jangan biarkan siapa pun selain orang yang benar-benar kau percaya masuk ke rumahmu. Dan jangan tinggalkan surat wasiat itu di tempat yang mudah ditemukan."
Kirana mengangguk pelan, meski hatinya dipenuhi kecemasan yang semakin besar. Ia menggenggam map berisi dokumen-dokumennya erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari ancaman yang belum sepenuhnya ia pahami.
Dalam perjalanan pulang, ia terus memikirkan reaksi Prasetyo—ketakutan yang begitu nyata di wajahnya saat mendengar inisial R.S., sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar sengketa hak asuh biasa. Ia mulai menyadari bahwa perjuangannya bukan lagi sekadar melawan seorang ayah kandung yang tiba-tiba muncul, melainkan menghadapi sesuatu yang jauh lebih rumit dan berbahaya, yang mengakar dalam sejarah keluarga besar Wibawa sendiri.
Sesampainya di rumah, ia mendapati Radya sudah tertidur di pangkuan tetangganya yang membantu menjaga selama ia pergi ke sidang mediasi. Ia menggendong anak itu masuk ke kamar dengan hati-hati, menatap wajah polosnya yang tak menyadari betapa besar pertaruhan yang sedang berlangsung demi masa depannya.
"Ibu akan lindungi kamu, apa pun yang terjadi," bisiknya, mengecup dahi Radya lembut sebelum akhirnya ikut berbaring, meski matanya sulit terpejam dipenuhi kekhawatiran akan apa yang akan diungkapkan Prasetyo esok hari.
Bersambung ke Bab 4...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar