Pagi itu, tanpa pemberitahuan, tiga orang berjas hitam berdiri di depan rumah Kirana, membawa surat perintah yang tampak resmi namun terasa janggal bagi mata awamnya.

"Kami dari kantor pengacara keluarga Wibawa," kata salah satu dari mereka, seorang wanita berkacamata dengan senyum yang tak sampai ke matanya. "Kami memiliki surat kuasa untuk memeriksa lingkungan tempat anak diasuh, guna kelengkapan asesmen kelayakan."

Kirana menatap surat itu dengan curiga. "Ini bukan prosedur yang disampaikan petugas Dinas Sosial kemarin."

"Ini permintaan tambahan dari pihak keluarga besar, Bu. Sah secara hukum." Wanita itu—yang belakangan Kirana ketahui bernama Ratna Suhardjo—melangkah masuk tanpa menunggu izin, diikuti dua orang lainnya yang mulai memotret setiap sudut rumah: kamar sempit Radya, dapur kecil dengan kompor tua, kamar mandi dengan ember plastik retak.

"Kondisi tempat tinggal cukup memprihatinkan untuk standar pengasuhan anak kelas atas," gumam Ratna, sengaja cukup keras agar Kirana mendengar, sambil mencatat sesuatu di tabletnya.

"Radya tidak butuh 'kelas atas'," jawab Kirana, menahan amarah. "Dia butuh rumah yang penuh cinta. Dan ini rumahnya."

Ratna tersenyum tipis, mendekat, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa didengar Kirana. "Kamu pikir cinta bisa melawan pengadilan, Kirana? Aku sudah kenal keluarga Wibawa sejak sebelum kau tahu nama Prasetyo. Anak itu akan kembali ke tempat asalnya—dengan atau tanpamu."

"Kau bukan siapa-siapa dalam hidup Radya."

"Belum," koreksi Ratna, mata berkilat penuh ambisi. "Tapi begitu Prasetyo sadar bahwa perempuan sepertimu tidak sepadan dengannya, aku akan menjadi ibu tiri yang jauh lebih 'layak' untuk anak itu."

Saat itulah suara mobil berhenti di depan rumah. Prasetyo turun tergesa, wajahnya keras melihat pemandangan di dalam rumah Kirana.

"Ratna? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Membantu keluarga, Broto." Ratna tersenyum manis, berbeda sekali dari nada suaranya beberapa detik lalu. "Ibumu memintaku memastikan lingkungan Radya layak."

"Aku tidak pernah menyetujui inspeksi ini." Prasetyo menatap surat kuasa yang dipegang salah satu orang Ratna, merampasnya, membacanya cepat. Wajahnya memerah menahan amarah. "Surat ini ditandatangani ibuku, bukan aku. Aku yang mengajukan hak asuh ini, bukan dia."

"Ibumu hanya ingin yang terbaik untuk cucunya."

"Ibuku ingin cucu yang bisa dipamerkan di gala keluarga, bukan cucu yang dicintai." Suara Prasetyo bergetar menahan kemarahan yang selama tiga tahun terpendam. "Keluar dari rumah ini. Sekarang."

Ratna menatap Prasetyo lama, ada kekecewaan yang tersembunyi di balik senyum kakunya, sebelum akhirnya berbalik pergi bersama timnya, tapi tidak sebelum melirik ke arah Kirana sekali lagi—tatapan yang menjanjikan bahwa ini belum berakhir.

Setelah rumah kembali sepi, Prasetyo berdiri canggung di ruang tengah yang baru saja diobrak-abrik.

"Aku minta maaf," katanya pelan. "Aku tidak tahu ibuku akan bertindak sejauh ini."

Kirana duduk di kursi, tangannya masih gemetar. "Kau bilang aku dalam bahaya. Apa maksudmu sebenarnya, Prasetyo?"

Prasetyo menghela napas panjang, duduk di kursi seberangnya. "Tiga tahun lalu, sebelum kecelakaan itu, aku baru saja menemukan bukti bahwa seseorang di dalam perusahaan sengaja memanipulasi laporan keuangan untuk mengalihkan hak waris ke pihak lain—jika aku dan Radya 'tidak ada', seluruh kendali Wibawa Group jatuh ke tangan sepupu jauh yang selama ini dikendalikan oleh... seseorang yang sangat dekat dengan keluarga besar."

"Ratna?"

"Aku belum yakin sepenuhnya. Tapi kecelakaan yang menewaskan Danang dan hampir membunuhku juga—itu bukan kecelakaan biasa. Rem mobil sengaja dirusak. Aku hanya selamat karena keluar dari mobil sebelum tikungan terakhir untuk menerima telepon."

Kirana merasa lantai di bawah kakinya seolah runtuh. "Jadi Danang meninggal... karena kau?"

"Karena aku menjadi target," koreksi Prasetyo, suaranya penuh penyesalan yang telah lama terpendam. "Dan Danang ada di mobil yang sama. Aku menghilang bukan untuk lari dari tanggung jawab, Kirana. Aku menghilang supaya Radya tidak jadi target berikutnya, sampai aku yakin dalangnya sudah tak berdaya."

"Dan sekarang kau kembali karena kau pikir sudah aman?"

"Aku kembali," kata Prasetyo, menatap lurus ke mata Kirana, "karena detektif yang kusewa menemukan bahwa dalang sebenarnya sudah lama merencanakan langkah berikutnya—dan langkah itu melibatkan surat wasiat yang kau simpan."

Kirana memegang dadanya sendiri, mencoba menahan napas yang tercekat.

"Surat itu bukan cuma soal wali Radya, ya kan?"

Prasetyo menggeleng pelan. "Surat itu berisi bukti transaksi ilegal yang dilakukan dalang di balik semua ini—dan Danang, entah bagaimana, mengetahuinya sebelum ia meninggal."

Kirana terdiam lama, mencerna semua yang baru saja diungkapkan Prasetyo. Rasanya seperti seluruh dunianya terbalik dalam hitungan menit—dari sekadar sengketa hak asuh yang menyakitkan, menjadi bagian dari konspirasi besar yang telah merenggut nyawa suaminya sendiri.

"Kenapa kau tidak langsung memberi tahu polisi soal kecurigaanmu ini sejak dulu?" tanya Kirana, suaranya bergetar antara marah dan bingung.

"Karena aku tidak punya bukti kuat, hanya kecurigaan," jawab Prasetyo, menggosok wajahnya yang lelah. "Dan karena aku tidak tahu siapa di dalam kepolisian atau bahkan di dalam keluargaku sendiri yang bisa dipercaya. Orang yang merancang kecelakaan itu jelas memiliki akses dan pengaruh yang luas."

"Jadi sekarang apa rencanamu?"

"Aku perlu melihat isi lengkap surat wasiat itu," kata Prasetyo hati-hati. "Bukan untuk merebutnya darimu, tapi untuk memahami apa yang Danang temukan, dan siapa saja yang mungkin terlibat."

Kirana menimbang permintaan itu lama. Kepercayaannya pada Prasetyo masih rapuh, namun ia juga menyadari bahwa tanpa kerja sama, mereka berdua—dan yang terpenting, Radya—akan terus berada dalam bahaya yang tak jelas ujungnya.

"Baik," katanya akhirnya, bangkit menuju kamarnya untuk mengambil amplop dari brankas kecil. Ia kembali dengan dokumen itu di tangan, namun menahannya sejenak sebelum menyerahkannya pada Prasetyo. "Tapi aku ikut membaca setiap halamannya bersamamu. Aku tidak akan membiarkan dokumen ini keluar dari pengawasanku."

"Setuju," jawab Prasetyo, menghargai kehati-hatian itu.

Mereka duduk berdampingan di meja ruang tengah, membuka amplop itu bersama-sama, membaca setiap kalimat dengan seksama. Selain penunjukan wali dan pesan pribadi Danang, mereka menemukan beberapa lampiran tambahan berupa salinan kasar laporan keuangan yang mencurigakan—transaksi-transaksi besar yang dialihkan ke rekening tak dikenal, dengan tanggal yang bertepatan dengan minggu-minggu sebelum kecelakaan itu terjadi.

"Ini polanya sama dengan yang kucurigai selama ini," gumam Prasetyo, matanya menyusuri deretan angka itu dengan seksama. "Seseorang sengaja mengalihkan dana perusahaan, dan Danang entah bagaimana menemukan bukti ini sebelum ia sempat melaporkannya."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kedatangan Prasetyo yang mengejutkan, mereka berdua bekerja sama sebagai sekutu, bukan lagi sebagai musuh yang memperebutkan hak asuh seorang anak.

Bersambung ke Bab 6...