Amplop cokelat itu sudah tiga tahun mengendap di dasar lemari kayu jati, terselip di antara kain-kain batik yang belum sempat dijahit. Kirana Wastuti tahu persis di mana ia menyimpannya—di balik jajaran kebaya pesanan, di bawah kotak kancing mutiara—karena setiap malam sebelum tidur, tangannya selalu berhenti sejenak di situ, seolah memastikan amplop itu masih bernapas.
"Bu Kirana masih di sini?"
Suara dari depan rumah membuat Kirana buru-buru menutup lemari. Ia mengintip dari balik gorden. Sebuah mobil hitam mengkilap terparkir di depan gang sempit rumahnya di Kotagede, jauh lebih besar dari ukuran jalan itu sendiri, sampai roda belakangnya harus menyenggol pot bunga tetangga.
Radya, lima tahun, sedang duduk di lantai ruang tengah, menyusun kepingan puzzle gambar kereta api. Anak itu mendongak begitu mendengar suara mesin mobil berhenti.
"Ibu, ada tamu?"
"Bukan siapa-siapa, sayang. Lanjutkan puzzle-nya."
Tapi Kirana tahu, dari cara jantungnya berdebar, bahwa hari yang selama tiga tahun ia takutkan akhirnya datang juga.
Ia membuka pintu sedikit. Seorang pria berjas abu-abu berdiri di sana, membawa map kulit, wajahnya datar seperti orang yang terbiasa menyampaikan berita buruk untuk orang lain.
"Saya dari kantor hukum Wibawa Group. Kami mencari Ibu Kirana Wastuti, wali dari anak bernama Radya Danurendra."
Kata "wali" itu menusuk telinga Kirana lebih tajam dari kata apa pun yang pernah ia dengar sejak Danang meninggal.
"Ada apa ini?"
Pria itu membuka map, menyerahkan selembar kertas berkop surat resmi. "Bapak Prasetyo Wibawa telah kembali secara sah dan mengajukan permohonan hak asuh atas anak kandungnya. Ibu diminta hadir dalam mediasi keluarga dalam waktu tujuh hari."
Prasetyo. Nama itu seperti hantu yang tiba-tiba punya wajah lagi.
Kirana ingat malam itu—tiga tahun lalu—ketika Danang pulang dengan wajah pucat, menggenggam tangannya erat-erat di meja makan yang sama tempat Radya sekarang menyusun puzzle. "Kalau terjadi apa-apa pada Mas Broto—" Danang selalu memanggil Prasetyo dengan nama kecilnya, Broto, "—atau pada aku, yang masih hidup harus menjaga anak yang lain. Janji, ya, Kir."
Ia mengangguk waktu itu tanpa tahu bahwa dua minggu kemudian, mobil yang ditumpangi suaminya dan sahabatnya itu akan terguling di tikungan Kaliurang, dan hanya satu yang selamat—namun kemudian dinyatakan hilang, lalu diberitakan meninggal di luar negeri.
Kini pria yang katanya sudah mati itu berdiri lagi, dalam wujud selembar surat resmi di tangan pengacaranya.
"Radya sudah tiga tahun tinggal bersama saya," kata Kirana, suaranya bergetar tapi tak mau pecah. "Ayahnya sendiri—almarhum suami saya—mempercayakan anak ini pada saya."
"Kami memahami keberatan Ibu. Tapi hukum di Indonesia mengakui hak ayah kandung, kecuali ada dasar hukum lain yang kuat." Pria itu melirik map di tangannya, lalu ke arah rumah kecil di belakang Kirana. "Apakah Ibu memiliki dokumen yang menunjukkan status wali sah?"
Kirana menatap ke arah lemari jati di sudut ruangan.
Amplop itu.
Ia belum pernah membukanya sepenuhnya. Danang menyerahkannya seminggu sebelum kecelakaan, dengan pesan singkat yang masih terngiang: "Jangan dibuka dulu, Kir. Kalau saatnya tiba, kamu akan tahu kapan harus membukanya. Ini bukan cuma soal Radya. Ini soal siapa yang bisa dipercaya."
Selama tiga tahun ia menahan rasa penasaran itu, menghormati kata-kata terakhir suaminya seperti sumpah. Tapi sekarang, dengan pengacara berdiri di ambang pintunya dan tenggat tujuh hari menggantung di udara seperti kapak, ia tahu—saatnya sudah tiba.
"Tujuh hari," ulang Kirana pelan.
"Tujuh hari," pria itu mengonfirmasi. "Setelah itu, jika Ibu tidak dapat menunjukkan dasar hukum yang kuat, hak asuh otomatis kembali kepada ayah kandung."
Setelah mobil hitam itu pergi, Kirana berdiri lama di depan pintu, memandangi debu yang diterbangkan roda-rodanya. Radya menghampirinya, menarik ujung daster ibunya.
"Ibu kenapa? Ibu nangis?"
Kirana berjongkok, memeluk anak itu erat-erat, mencium rambutnya yang harum sampo bayi. "Enggak, sayang. Ibu cuma... kelilipan."
Malam itu, setelah Radya tertidur, Kirana akhirnya membuka lemari jati, mengeluarkan amplop cokelat yang bertahun-tahun tak tersentuh penuh. Tangannya gemetar saat merobek segelnya.
Di dalamnya, selain sepucuk surat wasiat bermeterai, ada sebuah nama yang membuat dadanya berhenti berdetak sesaat—nama Radya, tertulis lengkap dengan garis keturunan yang selama ini ia tak pernah tahu sepenuhnya. Dan di baris terakhir, tinta yang mulai memudar namun masih terbaca jelas:
*"...dengan ini menunjuk Kirana Wastuti sebagai wali sah atas anak tersebut, apabila terjadi sesuatu pada kedua orang tua kandung maupun orang tua asuh."*
Kirana menutup mulutnya sendiri, menahan isak yang tiba-tiba pecah.
Tujuh hari. Ia punya tujuh hari untuk membuktikan bahwa surat ini asli—dan bahwa dirinya, seorang penjahit kebaya dari gang sempit Kotagede, punya hak yang sama kuatnya dengan seorang konglomerat yang baru saja bangkit dari kematian.
Ia duduk di lantai kamar sampai larut, menatap tulisan tangan Danang yang mulai memudar itu berulang-ulang, seakan setiap kali dibaca akan muncul makna baru yang belum ia pahami. Ingatan tentang malam terakhir mereka berdua kembali memenuhi kepalanya—Danang yang pulang dengan wajah pucat, tangannya dingin saat menggenggam jemari Kirana, matanya menyimpan sesuatu yang tak pernah ia jelaskan sepenuhnya.
"Kalau kamu baca ini, berarti aku sudah nggak ada," bisik Kirana pelan, membaca ulang satu baris yang ditambahkan Danang di catatan kaki surat itu, seolah bicara langsung pada suaminya yang telah tiada. "Aku janji, Mas. Aku akan jaga Radya, apa pun yang terjadi."
Ia melipat kembali surat itu perlahan, memasukkannya ke dalam sebuah kotak kayu kecil yang biasa ia gunakan menyimpan jarum dan gunting jahit—benda paling aman yang ia punya, karena tak seorang pun akan menduga dokumen sepenting itu tersembunyi di antara peralatan menjahit sehari-hari.
Radya menggeliat dalam tidurnya di kamar sebelah, mengigau pelan memanggil nama boneka kelincinya. Kirana bangkit, memeriksa anak itu, menyelimutinya lebih rapat, mengecup dahinya lembut.
"Apa pun yang terjadi besok," bisiknya pada anak yang tertidur pulas itu, "Ibu tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu tanpa perlawanan."
Di luar, angin malam Kotagede berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dari hujan sore yang baru reda. Kirana menatap keluar jendela, ke arah gang sempit yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun, tempat setiap sudutnya menyimpan kenangan tentang Danang, tentang kehidupan sederhana yang mereka bangun bersama sebelum semuanya berubah dalam satu malam kecelakaan di Kaliurang.
Ia tahu, mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Bersambung ke Bab 2...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar