Prasetyo Wibawa berdiri di depan gerbang rumah orang tuanya sendiri seperti seorang asing.
Tiga tahun ia menghilang, bersembunyi di bawah nama palsu di sebuah kota kecil di Vietnam, menjalankan usaha kopi kecil-kecilan yang tak seorang pun mengaitkannya dengan pewaris tunggal Wibawa Group. Ia melakukannya demi satu alasan: melindungi Radya dari orang-orang yang membunuh istrinya, Alana, dan yang—ia yakini—juga berusaha mencelakainya di tikungan Kaliurang tiga tahun lalu.
Tapi hari ini, dengan laporan dari detektif swasta yang akhirnya berhasil ia percaya, ia tahu ancaman itu sudah mereda. Dan ia tak bisa lagi menahan diri untuk kembali kepada anaknya.
"Bapak yakin ingin langsung menemui anak itu hari ini?" tanya Yudo, pengacara sekaligus orang kepercayaannya, sambil menyetir mobil menuju Kotagede.
"Sudah tiga tahun, Yud. Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu."
Namun ketika mobil berbelok memasuki gang sempit dan berhenti di depan rumah kayu sederhana beratap genteng tua, sesuatu dalam dada Prasetyo mengerut. Ia melihat sesosok anak kecil bermain di teras—rambut ikal, mata bulat, persis seperti Alana.
Radya.
Anak itu sedang mengejar kupu-kupu, tertawa lepas, tak menyadari bahwa pria yang menatapnya dari balik jendela mobil adalah ayah kandungnya sendiri.
Seorang perempuan muncul dari dalam rumah, menggendong keranjang cucian. Wajahnya lelah tapi teduh, rambutnya disanggul asal-asalan, dan cara ia memanggil nama Radya—penuh kelembutan yang tak dibuat-buat—membuat sesuatu dalam diri Prasetyo bergeser tanpa ia mau akui.
"Itu Kirana Wastuti?" tanya Prasetyo, meski ia sudah tahu jawabannya dari berkas yang dikirim Yudo.
"Betul. Istri kedua—maksud saya, istri dari sahabat Bapak, Danang. Dia yang merawat Radya sejak kecelakaan itu."
Prasetyo turun dari mobil tanpa berpikir panjang. Ia berjalan mendekat, dan Radya—yang tak mengenalnya sama sekali—mundur ketakutan, bersembunyi di balik kaki Kirana.
"Ibu, siapa Om itu?"
Kirana menatap pria di depannya, dan seketika ia tahu. Wajah itu—meski lebih tirus, lebih keras dimakan waktu—adalah wajah yang pernah ia lihat di foto lama Danang, tersenyum lebar di sebelah sahabatnya di hari pernikahan.
"Prasetyo," bisiknya, hampir tak percaya. "Kau... masih hidup?"
"Aku minta maaf soal caranya," kata Prasetyo, suaranya berat menahan emosi yang campur aduk. "Tapi aku di sini untuk anakku."
"Anakmu?" Kirana memeluk Radya lebih erat, seolah kalimat itu adalah ancaman fisik. "Kau menghilang tiga tahun, Prasetyo. Tiga tahun aku membesarkannya sendirian—menyuapinya saat sakit, menemaninya belajar jalan, mendengarkan mimpi-mimpi burukmu tentang ibunya yang sudah tiada. Dan sekarang kau muncul begitu saja dan bilang dia anakmu?"
"Aku punya alasan untuk menghilang. Alasan yang menyangkut nyawanya."
"Alasan yang tak pernah kau sampaikan padaku selama tiga tahun ini!"
Radya, merasakan ketegangan di udara, mulai menangis pelan. Kirana segera berjongkok, menenangkannya, membisikkan kata-kata lembut yang membuat tangis anak itu mereda dalam hitungan detik—sebuah keahlian yang hanya dimiliki seseorang yang benar-benar mengenal setiap jengkal ketakutan anak itu.
Prasetyo menyaksikan itu dengan dada sesak. Ia yang seharusnya bisa melakukan itu. Ia yang seharusnya ada di sana selama tiga tahun ini.
"Aku sudah mengirim pengacara pagi ini," kata Prasetyo akhirnya, suaranya melunak tapi tetap tegas. "Aku tidak bermaksud merebutnya secara kasar. Tapi aku ayahnya, Kirana. Secara hukum, secara darah, hak itu ada padaku."
"Danang mempercayakan dia padaku."
"Danang bukan ayah kandungnya."
Kalimat itu jatuh seperti pisau. Kirana terdiam, matanya berkaca-kaca, tapi ia tak mau menyerah di depan anak yang masih menggenggam ujung dasternya.
"Kalau begitu," katanya, suaranya tiba-tiba menjadi dingin dan tenang, "kita selesaikan ini secara hukum, seperti yang tertulis di surat pengacaramu. Tujuh hari, kan?"
Prasetyo mengangguk, meski dalam hati ia tak menyangka perempuan sederhana ini akan menatapnya dengan keberanian sebesar itu.
"Tujuh hari," ulangnya.
Kirana membawa Radya masuk ke dalam rumah, menutup pintu di depan wajah Prasetyo tanpa berkata apa-apa lagi. Tapi sebelum pintu benar-benar tertutup, Prasetyo sempat melihat sekilas—di atas meja ruang tamu, terselip di antara majalah dan kain jahitan—sebuah amplop cokelat yang sudah terbuka, dengan kop surat firma hukum lama milik ayahnya sendiri.
Ia mengenali kop surat itu.
Dan seketika, ia tahu bahwa perempuan di balik pintu itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kenangan tentang mendiang suaminya.
Prasetyo berjalan kembali ke mobilnya dengan langkah berat, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Yudo menunggunya di kursi kemudi, wajahnya penuh tanda tanya melihat perubahan raut Bapaknya.
"Bagaimana, Pak? Apa yang terjadi di dalam?"
"Perempuan itu..." Prasetyo menatap ke arah rumah kecil yang kini kembali sunyi, "dia lebih kuat dari yang kubayangkan. Dan dia menyimpan sesuatu yang aku perlu tahu secepatnya."
"Apa maksud Bapak?"
Prasetyo menceritakan sekilas tentang amplop yang ia lihat, tentang kop surat firma hukum lama keluarganya yang seharusnya sudah tak beroperasi sejak kakeknya meninggal belasan tahun lalu. Yudo mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail di ponselnya.
"Saya akan cari tahu soal firma hukum itu, Pak. Kalau memang masih ada dokumen yang beredar dengan kop surat mereka, berarti ada seseorang yang sengaja mempertahankannya untuk suatu alasan."
Sepanjang perjalanan pulang, Prasetyo terus memikirkan wajah Radya—wajah yang begitu mirip Alana, penuh keceriaan yang selama tiga tahun ini tumbuh tanpa kehadirannya. Ia merasa bersalah, namun di sisi lain juga merasa lega mengetahui anaknya dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh seseorang yang, meski awalnya tampak sebagai lawan, ternyata memiliki hati yang jauh lebih tulus dari siapa pun yang pernah ia temui di lingkaran bisnisnya.
"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hak asuh Radya," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Yudo yang duduk di sampingnya. "Tapi aku juga tidak akan menghancurkan perempuan yang telah menjaga anakku dengan begitu tulus."
Malam itu, sebelum tidur, Prasetyo membuka laptopnya, mencari nama "Kirana Wastuti" di internet—hanya untuk menemukan sebuah akun media sosial sederhana berisi foto-foto hasil jahitan kebaya, dengan keterangan penuh semangat tentang setiap detail kain dan motif yang ia kerjakan dengan tangannya sendiri. Di antara foto-foto itu, terselip beberapa gambar Radya—tertawa lepas, bermain di halaman rumah sederhana, tumbuh dalam kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Ia menatap layar itu lama, dadanya sesak oleh perasaan yang sulit ia definisikan—antara rasa syukur, penyesalan, dan sesuatu yang lain yang baru saja mulai tumbuh tanpa ia sadari sepenuhnya.
Bersambung ke Bab 3...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar