Takdir tampaknya tak peduli pada tembok-tembok yang dibangun manusia. Beberapa hari kemudian, Maya kembali berhalangan menjaga Bima, dan Laras sekali lagi terpaksa membawa anaknya ke rumah Wicaksana. Kali ini ia menyembunyikan Bima di gudang kecil di belakang taman, memberinya bekal dan mainan, serta berpesan agar tidak keluar sampai ibunya menjemput. Bima yang penurut mengangguk, meski matanya menyiratkan kebosanan.
Namun anak berusia lima tahun tak bisa diam terlalu lama. Saat Laras sibuk membersihkan lantai dua, Bima menyelinap keluar dari gudang dan berjalan-jalan di taman. Ia mengejar kupu-kupu, memungut bunga yang gugur, lalu tanpa sadar berjalan semakin jauh hingga sampai di kolam ikan di sisi rumah. Bocah itu berjongkok di tepi kolam, terpesona oleh ikan-ikan koi berwarna oranye yang berenang lincah.
Saat itulah kakinya tergelincir di tepi kolam yang basah. Bima nyaris terjatuh ke air ketika sepasang tangan kuat menariknya kembali. Bagas, yang kebetulan sedang berjalan di taman, berhasil meraih bocah itu tepat waktu. Ia memeluk Bima yang terkejut, menenangkannya dengan suara lembut, lalu memeriksa apakah anak itu terluka. Bima menggeleng, lalu tersenyum mengenali wajah yang menolongnya. “Om baik,” serunya riang.
Laras yang baru saja turun untuk mencari anaknya melihat pemandangan itu dari kejauhan. Jantungnya mencelos membayangkan apa yang nyaris terjadi. Ia berlari menghampiri, memeluk Bima, memeriksa tubuh anaknya dengan tangan gemetar. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan. Bagas berdiri di samping mereka, menjelaskan dengan tenang bahwa Bima baik-baik saja, hanya sedikit terkejut.
“Terima kasih, Tuan,” bisik Laras di sela isaknya. “Kalau terjadi apa-apa pada Bima, saya tidak tahu harus hidup untuk apa lagi.” Kalimat itu meluncur begitu saja, jujur dan telanjang, membuka sedikit luka yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Bagas terdiam, menatap perempuan yang berlutut memeluk anaknya itu dengan perasaan yang semakin sulit ia jelaskan.
Ia membantu Laras membawa Bima ke dapur, memberinya minum hangat, dan duduk bersama mereka sampai bocah itu kembali ceria. Dalam suasana itu, Bima mulai bercerita panjang lebar tentang ayahnya yang sudah di surga, tentang betapa ia ingin punya ayah lagi yang bisa mengajaknya bermain bola. Laras berusaha menghentikan celoteh anaknya, malu dan tak enak hati. Tapi Bagas hanya tersenyum, mendengarkan dengan sabar, sesekali menimpali dengan lembut.
Ada sesuatu yang bergetar di dada Bagas saat itu. Ia melihat seorang ibu yang berjuang sendirian, seorang anak yang merindukan sosok ayah, dan ia merasa ingin menjadi bagian dari kehangatan yang rapuh itu. Perasaan itu menakutkan sekaligus memabukkan. Ia tahu keluarganya tak akan pernah merestui, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menemukan sesuatu yang lebih berharga dari semua warisan yang akan ia terima.
Sore itu, sebelum Laras pulang, Bagas menyelipkan amplop kecil ke tas anaknya tanpa sepengetahuan perempuan itu. Bukan sedekah, melainkan tabungan untuk Bima, begitu ia menulis di secarik kertas. Ketika Laras menemukannya di rumah, ia menangis lagi. Antara bersyukur dan merasa terhina oleh kebaikan yang tak sanggup ia balas. Ia bertekad mengembalikan uang itu keesokan harinya. Tapi ia tahu, jauh di dalam hati, bahwa yang ingin ia tolak bukanlah uangnya, melainkan perasaan yang ikut terselip bersamanya.
Gudang kecil di belakang taman itu pengap dan berdebu, penuh peralatan kebun yang sudah lama tak terpakai. Laras membersihkannya seadanya, menggelar kain di lantai, lalu mendudukkan Bima di sana dengan beberapa mainan dan bekal. “Diam di sini ya, Nak. Jangan keluar sampai Ibu jemput,” pesannya berulang-ulang. Bima mengangguk patuh, tapi Laras tahu betapa berat meminta anak lima tahun untuk diam berjam-jam dalam ruangan sempit. Setiap kali ia naik ke lantai dua untuk bekerja, hatinya tertinggal di gudang itu, cemas dan bersalah. Ia membenci keadaan yang memaksanya menyembunyikan anaknya sendiri seperti rahasia memalukan, padahal Bima adalah satu-satunya hal terindah dalam hidupnya yang penuh kepahitan.
Ketika Bagas menarik Bima dari tepi kolam tepat sebelum bocah itu tergelincir ke air, dunia Laras seolah berhenti berputar. Bayangan kehilangan anaknya, satu-satunya alasannya bertahan hidup, terasa lebih mengerikan daripada maut itu sendiri. Ia berlari, memeluk Bima, memeriksa tubuh mungil itu dengan tangan yang gemetar hebat. Dalam pelukan ketakutan itu, ia teringat ranjang rumah sakit tempat Aditya menghembuskan napas terakhir, teringat janjinya untuk menjaga Bima apa pun yang terjadi. Ia tak akan sanggup kehilangan untuk kedua kalinya. Maka rasa terima kasihnya pada Bagas malam itu bukan sekadar basa-basi; itu adalah syukur seorang ibu yang baru saja diselamatkan dari kehancuran yang paling ia takuti.
Amplop itu ia temukan di tas Bima saat membongkar bekal di kontrakan. Di dalamnya ada sejumlah uang dan secarik kertas bertuliskan tabungan untuk anaknya. Laras duduk lama menatap amplop itu, dadanya sesak oleh perasaan yang bertentangan. Sebagian dirinya bersyukur, sebagian lagi merasa terhina, sebab harga dirinya tak rela menerima sesuatu yang tak sanggup ia balas. Ia bertekad mengembalikannya esok hari, menyusun kalimat-kalimat penolakan yang sopan namun tegas. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu yang sebenarnya ingin ia tolak bukanlah uang itu, melainkan perasaan yang ikut terselip bersamanya, perasaan yang setiap hari semakin sulit ia abaikan, semakin sulit ia pura-pura tak rasakan.
Malam itu Bima tertidur sambil menggenggam erat sebuah kelereng pemberian Bagas. Laras menatap wajah polos anaknya, lalu berbisik pelan pada Aditya yang entah di mana, memohon petunjuk atas hati yang mulai goyah. Tapi langit malam hanya diam, dan ia harus menghadapi semuanya sendirian, seperti yang sudah-sudah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar