Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang sama. Laras datang sebelum matahari benar-benar tinggi, mengenakan seragam abu mudanya, dan langsung tenggelam dalam pekerjaan. Ia belajar cepat di mana setiap perabot harus diletakkan, jam berapa Nyonya Besar suka tehnya disuguhkan, dan sudut-sudut mana yang paling sering luput dari perhatian asisten sebelumnya. Bik Sumi mulai melunak padanya, meski tak pernah mengakuinya terang-terangan.
Rumah keluarga Wicaksana ternyata dihuni oleh tiga orang inti. Pak Broto, sang kepala keluarga, lelaki berusia enam puluhan dengan wajah teduh tapi tatapan yang seolah menyimpan banyak cerita. Bu Rahayu, istrinya, perempuan anggun yang setiap kata dan gerak tubuhnya memancarkan kebanggaan akan derajat keluarga. Dan Bagas, putra tunggal mereka, lelaki yang kemarin sore melintas di dekat tangga.
Laras baru benar-benar melihat wajah Bagas pada hari ketiga. Ia sedang membersihkan ruang baca ketika lelaki itu masuk untuk mengambil sesuatu. Tidak seperti yang ia bayangkan tentang anak orang kaya, Bagas tidak berjalan dengan dagu terangkat. Ia justru mengangguk sopan dan meminta maaf karena mengganggu pekerjaannya. Laras terkejut, hampir tak tahu harus merespons bagaimana. Selama ini, orang-orang seperti Bagas memperlakukannya seolah ia bagian dari perabotan.
“Tidak apa-apa, Tuan,” jawab Laras pelan, kembali menunduk pada lap di tangannya. Bagas mengambil buku yang dicarinya, lalu berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menatap rak yang baru saja dibersihkan Laras, lalu berkata bahwa ruangan itu terlihat lebih rapi dari biasanya. Pujian sederhana itu membuat pipi Laras menghangat, bukan karena tersanjung, melainkan karena sudah lama sekali tak ada yang menghargai hasil kerjanya.
Bik Sumi yang melihat dari kejauhan langsung menarik Laras ke dapur begitu Bagas pergi. “Jaga jarak,” bisiknya tegas. “Tuan Muda memang baik pada semua orang. Tapi kamu jangan sampai salah paham. Kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk diperhatikan.” Laras mengangguk patuh. Ia tahu persis posisinya. Ia tidak datang ke rumah ini untuk bermimpi; ia datang untuk bertahan hidup.
Namun hidup punya cara sendiri untuk mempertemukan orang-orang yang seharusnya tak bersinggungan. Sore itu, ketika Laras sedang menyiram tanaman di taman belakang, ia mendengar suara batuk kecil. Bima. Anaknya. Maya menelepon siang tadi mengabarkan bahwa ia harus pergi mendadak, dan tak ada tempat menitipkan Bima selain membawanya serta. Dengan berat hati, Laras menyelundupkan anaknya ke pojok taman belakang, memintanya duduk diam sambil bermain.
Jantung Laras nyaris copot ketika menyadari Bagas berdiri tak jauh dari situ, menatap Bima yang sedang asyik menyusun kerikil. Ia bergegas menghampiri, siap meminta maaf dan menerima teguran apa pun. Tapi Bagas tidak marah. Ia justru berjongkok di dekat Bima, bertanya nama bocah itu dengan suara lembut, dan tersenyum ketika Bima menjawab dengan polos sambil menunjukkan susunan kerikilnya yang katanya berbentuk istana.
Laras berdiri kaku, tak tahu harus berbuat apa. Ada perasaan asing yang menyusup ke dadanya melihat seorang lelaki asing memperlakukan anaknya dengan begitu hangat. Sudah lama Bima tak punya figur lelaki dalam hidupnya. Sudah lama pula Laras tak melihat anaknya tertawa selepas itu.
“Anak Ibu?” tanya Bagas akhirnya, berdiri dan menatap Laras. Ia mengangguk gugup, menjelaskan keadaannya dengan terbata, memohon agar hal ini tak sampai ke telinga Nyonya Besar. Bagas hanya tersenyum dan berkata bahwa rahasia mereka aman. Lalu ia pergi, meninggalkan Laras yang berdiri dengan perasaan campur aduk antara lega dan sesuatu yang tak berani ia namai.
Hari-hari itu mengajari Laras bahwa rumah besar punya hukumnya sendiri. Ada jam-jam yang harus dihafal, sudut-sudut yang tak boleh terlewat, dan aturan tak tertulis tentang siapa boleh bicara pada siapa. Beberapa asisten yang lebih lama bekerja memperlakukannya dengan dingin, menganggapnya pendatang baru yang harus tahu diri. Mereka jarang menyapa, sesekali sengaja menyenggol embernya, lalu pura-pura tak melihat. Laras menelan semuanya tanpa mengeluh, sebab ia tahu, mengeluh hanya akan membuatnya makin terasing. Ia memilih bekerja lebih rajin, bangun lebih pagi, pulang lebih malam, membiarkan hasil kerjanya berbicara lebih keras daripada mulut siapa pun yang meremehkannya di dapur itu.
Saat menyembunyikan Bima di pojok taman, jantung Laras berdegup sepanjang hari. Setiap kali ada langkah mendekat, ia menahan napas, takut ada yang menemukan anaknya dan melaporkannya pada Nyonya Besar. Beban seorang ibu yang harus bekerja sekaligus menjaga anak tanpa siapa pun yang bisa diandalkan terasa begitu berat di pundaknya yang kecil. Maka ketika ia melihat Bagas berjongkok menyusun kerikil bersama Bima, ada bagian dari hatinya yang teringat pada Aditya, pada sore-sore ketika ayah dan anak itu bermain di halaman kontrakan sempit mereka. Kenangan itu menusuk sekaligus menghangatkan, mengingatkannya pada apa yang telah hilang, dan pada apa yang diam-diam masih ia rindukan.
Maya menelepon siang itu dengan suara penuh penyesalan, menjelaskan bahwa ia harus mengantar ibunya yang mendadak sakit ke puskesmas dan tak ada yang bisa menjaga Bima. Laras tak menyalahkannya sedikit pun; Maya sudah terlalu banyak menolongnya tanpa pamrih, dan ia tahu sahabatnya itu juga berjuang dengan hidupnya sendiri. Justru di saat-saat seperti inilah Laras menyadari betapa rapuh fondasi hidupnya: satu hal kecil saja yang meleset, seluruh rencananya bisa runtuh. Ia bekerja dengan setengah pikiran di taman, setengah lagi mengawasi anaknya, berdoa agar hari ini berlalu tanpa bencana. Hidup seorang janda muda memang begitu, pikirnya, selalu berjalan di atas tali yang tipis.
Malam itu, Bima terus bercerita tentang “Om baik” yang mengajaknya bicara. Laras mendengarkan sambil menyuapi anaknya, mencoba menepis kehangatan yang perlahan tumbuh di hatinya. Ia mengingatkan diri sendiri bahwa kehangatan adalah kemewahan yang tak bisa dimiliki perempuan seperti dirinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar