Rumah itu berdiri megah di ujung jalan, dikelilingi pagar tinggi berwarna putih gading dan taman yang terawat seperti dalam majalah. Laras berdiri di depan gerbangnya dengan tas kain lusuh tersampir di bahu, menatap bangunan dua lantai yang lebih besar dari seluruh rumah di kampungnya digabung jadi satu. Pagi itu udara masih basah oleh embun, dan jantungnya berdegup keras bukan karena kagum, melainkan karena takut. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja, dan ia tidak boleh gagal.

Sudah hampir setahun sejak Aditya, suaminya, pergi untuk selamanya. Sakit yang menggerogoti tubuh lelaki itu meninggalkan dua hal: kenangan yang tak akan pernah ia lupakan, dan tumpukan utang rumah sakit yang membuatnya nyaris kehilangan akal. Laras menelan semuanya tanpa banyak mengeluh. Ia masih punya satu alasan untuk bertahan, dan alasan itu kini sedang tertidur di kamar kontrakan sempit mereka, dititipkan pada Maya, sahabatnya.

Bima. Anak laki-lakinya yang baru berusia lima tahun. Setiap kali Laras merasa ingin menyerah, ia hanya perlu mengingat senyum bocah itu, dan kakinya kembali menemukan kekuatan untuk melangkah.

Seorang perempuan paruh baya berseragam membukakan gerbang kecil di samping. “Kamu yang dikirim agen penyalur itu?” tanyanya, menatap Laras dari ujung kepala sampai sepatu kanvas yang sudah menipis solnya. Laras mengangguk sopan, menyebut namanya dengan suara yang ia usahakan setenang mungkin. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Bik Sumi, kepala asisten rumah tangga di rumah keluarga Wicaksana, dan menyuruhnya masuk.

Bagian dalam rumah itu lebih memukau lagi. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lampu kristal, dan setiap perabot tampak mahal hingga Laras takut menyentuhnya. Ia diberi tahu tugas-tugasnya: membersihkan lantai bawah, mengelap perabot, merawat taman bila diperlukan, dan tidak boleh memasuki ruang kerja Tuan Besar tanpa izin. Laras mencatat semuanya dalam hati, mengangguk pada setiap kalimat.

“Keluarga ini orang terhormat,” kata Bik Sumi sambil menyerahkan seragam kerja berwarna abu muda. “Kerja yang benar, jangan banyak tanya, dan jangan sekali-kali mencuri perhatian. Banyak yang sudah dipulangkan karena lupa diri.” Laras paham betul maksud kalimat itu. Di tempat seperti ini, ia hanyalah tangan-tangan yang membersihkan, sosok yang ada tapi sebaiknya tak terlihat.

Ia mulai bekerja siang itu juga. Tangannya yang sudah terbiasa kasar oleh pekerjaan tak menolak satu pun tugas. Ia mengepel lantai luas itu sambil berlutut, mengelap kaca jendela yang tingginya dua kali tubuhnya, menata bantal-bantal sofa yang harganya mungkin setara gaji sebulan. Keringat membasahi pelipisnya, tapi ia tak berhenti. Bagi Laras, setiap tetes keringat adalah satu langkah lebih dekat untuk melunasi utang dan memberi Bima kehidupan yang layak.

Menjelang sore, saat ia sedang membersihkan anak tangga, sebuah mobil mewah berhenti di halaman. Laras tak menoleh; ia hanya menunduk lebih dalam, melanjutkan pekerjaannya seperti yang diperintahkan. Namun ia bisa mendengar langkah kaki memasuki rumah, lalu suara seorang lelaki yang menyapa Bik Sumi dengan ramah, tanpa nada angkuh yang biasa ia dengar dari orang-orang berada.

Untuk sesaat, langkah kaki itu berhenti tepat di dekatnya. Laras tetap menunduk, menahan napas. Ia merasa ada yang memperhatikannya, tapi ia tak berani mengangkat wajah. Sampai akhirnya langkah itu berlalu menaiki tangga, dan ia kembali bisa bernapas lega. Ia belum tahu bahwa pertemuan singkat tanpa pandangan mata itu adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

Perjalanan ke rumah itu sendiri sudah menghabiskan hampir dua jam paginya. Laras menumpang dua kali angkot, lalu berjalan kaki menyusuri jalan menanjak yang diapit pagar-pagar tinggi, menggenggam secarik kertas berisi alamat yang ditulis tangan oleh petugas agen penyalur. Ia sengaja datang lebih awal, lalu duduk sebentar di trotoar seberang, menatap rumah besar itu perlahan terbangun: tirai yang dibuka, lampu teras yang dimatikan, seorang tukang kebun yang mulai menyiram tanaman. Di dalam tasnya hanya ada sebotol air, sepotong roti untuk bekal, dan foto kecil Aditya yang selalu ia bawa ke mana pun. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sebenarnya tak ia miliki, lalu menyeberang.

Menjelang siang, perutnya berbunyi, tapi ia tak berani berhenti untuk makan. Roti di tasnya ia simpan untuk nanti, takut dianggap lancang jika makan di jam kerja hari pertama. Bik Sumi yang lewat melihatnya menelan ludah di depan meja dapur, lalu tanpa banyak bicara menyodorkan sepiring nasi dengan lauk seadanya. “Makan dulu. Nggak ada gunanya kerja kalau pingsan,” katanya ketus, tapi Laras menangkap sesuatu yang lembut di balik nada itu. Ia makan dengan cepat, penuh syukur, sambil diam-diam mengamati perempuan tua yang ternyata tak sekeras penampilannya. Mungkin, pikir Laras, di rumah sebesar ini masih ada satu dua orang yang menyimpan hati.

Di sela pekerjaannya, ingatan tentang minggu lalu menyelinap masuk. Seorang penagih dari rumah sakit datang ke kontrakan, mengetuk pintu dengan wajah datar, mengingatkan tentang sisa utang yang belum lunas. Laras hanya bisa menunduk, berjanji akan mencicil, sambil menyembunyikan Bima di balik punggungnya agar anak itu tak melihat ibunya dipermalukan. Sejak hari itu, ia bersumpah dalam hati untuk tak pernah lagi membiarkan dirinya berada di posisi tak berdaya seperti itu. Maka setiap lantai yang ia pel, setiap kaca yang ia lap, adalah anak tangga menuju kebebasan dari belenggu utang itu. Ia akan bertahan, sekeras apa pun. Demi Bima, ia harus.

Malam harinya, di kontrakan, Bima memeluk lehernya erat-erat dan bertanya apakah ibunya lelah. Laras tersenyum, mencium pucuk kepala anaknya, dan berkata bahwa ia tidak pernah lelah selama masih ada Bima. Ia berbohong, tentu saja. Tapi itu kebohongan yang ia rela ucapkan ribuan kali.