Bu Rahayu adalah perempuan yang tak pernah meleset membaca suasana rumahnya sendiri. Ia bisa merasakan perubahan sekecil apa pun, seperti naluri seekor induk yang menjaga sarangnya. Maka ketika ia mulai memperhatikan cara putranya menatap pembersih baru itu, sesuatu di dalam dirinya langsung waspada. Tatapan Bagas berbeda. Bukan tatapan majikan pada pekerja, melainkan tatapan yang ia kenal betul karena pernah ia lihat di mata mendiang ayahnya dulu, saat menatap dirinya.
Ia mulai memperhatikan lebih saksama. Bagaimana Bagas selalu menemukan alasan untuk berada di ruangan yang sama dengan Laras. Bagaimana suara putranya melembut saat berbicara dengan perempuan itu. Bagaimana ada secercah cahaya di wajah Bagas yang sudah lama tak ia lihat sejak putranya pulang dari studi di luar negeri. Semua itu membuat Bu Rahayu gelisah, dan kegelisahan seorang ibu kaya bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
Pada suatu jamuan makan keluarga, Bu Rahayu sengaja memanggil Laras untuk menyajikan hidangan, lalu mengamati reaksi putranya. Benar saja, mata Bagas mengikuti gerak-gerik Laras tanpa ia sadari. Bu Rahayu mengepalkan tangan di bawah meja. Ia tersenyum manis pada para tamu, tapi di dalam hatinya sebuah keputusan mulai terbentuk. Ia tak akan membiarkan putra satu-satunya jatuh ke pelukan seorang janda pembersih lantai.
Setelah para tamu pulang, Bu Rahayu memanggil Laras ke ruang tengah. Dengan nada yang terdengar ramah namun menyimpan ujung tajam, ia bertanya tentang latar belakang Laras, tentang suaminya yang telah tiada, tentang anaknya. Laras menjawab semuanya dengan jujur dan sopan, tak menyadari bahwa setiap jawabannya sedang ditimbang dan dicatat oleh perempuan di hadapannya.
“Kamu perempuan yang malang,” kata Bu Rahayu akhirnya, menyesap tehnya. “Tapi kemalangan tidak boleh dijadikan tangga untuk memanjat ke tempat yang bukan milikmu. Kamu mengerti maksudku?” Laras mengangkat wajah, sejenak terkejut oleh kalimat yang begitu telak. Ia mengerti betul. Dengan suara yang ia jaga tetap tenang, ia menjawab bahwa ia datang hanya untuk bekerja, tidak lebih.
Bu Rahayu tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. Ia berkata bahwa ia senang Laras tahu diri, lalu mengingatkan bahwa banyak perempuan di luar sana yang siap menggantikan posisinya kapan saja. Ancaman itu disampaikan dengan begitu halus hingga terdengar seperti nasihat. Laras menunduk, menahan getir yang naik ke tenggorokannya, dan pamit untuk melanjutkan pekerjaan.
Malam itu, di kontrakan, Laras memeluk Bima erat-erat sambil menatap langit-langit yang bernoda rembesan air hujan. Kata-kata Bu Rahayu terus berputar di kepalanya. Tempat yang bukan milikmu. Ia tertawa getir dalam hati. Memangnya kapan ia pernah berani memimpikan tempat yang bukan miliknya? Ia hanya perempuan yang berjuang agar anaknya bisa makan dan sekolah. Tak lebih dari itu.
Namun jauh di lubuk hatinya, ada bagian kecil yang berbisik bahwa Bu Rahayu tidak sepenuhnya keliru. Karena akhir-akhir ini, tanpa ia minta, bayangan Bagas mulai sering hadir dalam lamunannya. Senyum lelaki itu, kebaikannya, cara matanya menatap seolah Laras adalah seseorang yang berarti. Ia membenci dirinya sendiri karena membiarkan bayangan itu tumbuh, padahal ia tahu betul bahwa di dunia nyata, jurang di antara mereka terlalu lebar untuk diseberangi.
Bu Rahayu sendiri dulunya bukan terlahir di puncak. Ia menikah ke dalam keluarga Wicaksana, dan ia ingat betul bagaimana mertuanya dulu menatapnya dengan timbangan yang tajam, mengukur apakah ia cukup pantas mengemban nama besar itu. Bertahun-tahun ia membuktikan diri, menelan hinaan halus, sampai akhirnya ia diterima dan menjelma menjadi penjaga gengsi keluarga yang paling gigih. Justru karena ia tahu betapa mahal harga sebuah penerimaan, ia tak rela melihat putranya menjatuhkan derajat keluarga begitu saja. Bagi Bu Rahayu, menjaga status bukan sekadar kesombongan; itu adalah perang seumur hidup yang telah ia menangkan dengan susah payah, dan ia tak akan membiarkan seorang janda pembersih meruntuhkannya.
Sepanjang jamuan itu, Laras berdiri di sudut dengan nampan di tangan, merasakan bagaimana setiap geraknya diawasi. Ia tahu Nyonya Besar sengaja memanggilnya untuk menyajikan hidangan, dan ia bisa menebak alasannya. Maka ia melayani dengan sempurna, menjaga tangannya tetap stabil meski hatinya berdebar, menahan diri untuk tidak sekali pun mengangkat wajah ke arah Bagas. Tapi tatapan tak bisa disembunyikan selamanya, dan dalam satu detik yang lengah, matanya bertemu mata lelaki itu. Hanya sekejap, tapi cukup untuk membuat Bu Rahayu di ujung meja mengeraskan rahangnya. Laras buru-buru menunduk, melanjutkan tugas, sadar bahwa ia baru saja, tanpa sengaja, memberi bukti pada perempuan yang paling ingin menyingkirkannya.
Di kontrakan malam itu, sebelum tidur, Laras mengeluarkan kaleng bekas tempat ia menyimpan uang receh dan menghitungnya di bawah cahaya lampu temaram. Sebentar lagi Bima masuk sekolah, dan biaya seragam serta buku harus ia siapkan. Ia menyusun koin demi koin, menjumlahkannya berulang kali, berharap angkanya berubah meski ia tahu itu mustahil. Bima yang sudah mengantuk merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya, dan Laras mengelus rambut anaknya sambil menahan air mata. Inilah kenyataannya, bisiknya pada diri sendiri. Bukan jamuan mewah, bukan tatapan tuan muda, bukan mimpi yang tak pantas ia miliki. Hanya kaleng receh ini, dan seorang anak yang menggantungkan seluruh masa depannya pada pundak ibunya yang lelah.
Bu Rahayu bahkan diam-diam menghubungi ibu Renata melalui telepon, membicarakan kemungkinan menjodohkan kedua anak mereka, jauh sebelum Bagas tahu apa-apa. Bagi dua perempuan kalangan atas itu, pernikahan bukanlah soal cinta, melainkan soal penggabungan dua keluarga terhormat, soal mempertahankan derajat dan memperluas jaringan. Mereka berbincang tentang masa depan yang sudah mereka rancang untuk anak-anak mereka, seolah Bagas dan Renata hanyalah bidak dalam permainan strategi keluarga. Bu Rahayu menutup telepon dengan senyum puas, yakin bahwa rencananya akan berjalan mulus. Ia sama sekali tak memperhitungkan bahwa hati putranya telah mulai berpaling pada arah yang sama sekali tak ia duga, pada seorang perempuan dengan seragam abu muda dan tas kain lusuh.
Ia memejamkan mata, memaksa dirinya tidur. Besok ia harus bangun pagi, mengenakan seragam abu mudanya, dan kembali menjadi perempuan dengan ember dan pel. Itulah kenyataannya. Itulah satu-satunya yang seharusnya ia pikirkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar