Bagas Wicaksana bukan lelaki yang mudah jatuh hati. Sebagai putra tunggal dari keluarga konglomerat, ia tumbuh dikelilingi perempuan-perempuan cantik yang lebih tertarik pada nama belakang dan rekening banknya daripada dirinya. Ia belajar membaca ketulusan sejak muda, dan ia tahu betul bahwa ketulusan adalah barang langka di lingkaran pergaulannya. Mungkin itu sebabnya ia tak bisa berhenti memikirkan perempuan pembersih yang baru bekerja di rumahnya.
Ada sesuatu pada Laras yang berbeda. Cara perempuan itu bekerja tanpa menuntut diperhatikan, cara ia menunduk bukan karena takut melainkan karena harga diri, cara matanya berbinar ketika menatap anaknya. Bagas mendapati dirinya diam-diam mengamati Laras dari balik koran setiap pagi, memperhatikan bagaimana perempuan itu menyapa Bik Sumi, bagaimana ia menyisihkan remah roti untuk burung-burung di taman.
Pagi itu, Bagas sengaja turun lebih awal. Ia menemukan Laras sedang berjuang mengangkat ember air yang terlalu berat untuk tubuh mungilnya. Tanpa berpikir panjang, ia menghampiri dan mengangkat ember itu, mengabaikan tatapan terkejut Laras. “Biar saya bantu,” katanya santai. Laras buru-buru menolak, mengatakan bahwa itu pekerjaannya dan tak pantas seorang Tuan Muda melakukannya. Tapi Bagas hanya tersenyum, meletakkan ember itu di tempat yang dituju, lalu pergi seolah tak terjadi apa-apa.
Kejadian kecil itu berulang dalam berbagai bentuk. Bagas yang menyodorkan payung saat hujan tiba-tiba turun. Bagas yang meninggalkan sekotak susu di meja dapur dengan catatan kecil bertuliskan “untuk anak Ibu.” Bagas yang sengaja menanyakan pendapat Laras tentang buku yang sedang dibacanya, seolah pendapat seorang pembersih sama berharganya dengan pendapat para ahli. Setiap perhatian kecil itu mengikis tembok yang dibangun Laras dengan susah payah.
Bik Sumi semakin gelisah melihat gelagat itu. Ia memanggil Laras suatu siang dan berbicara dengan nada lebih serius dari biasanya. “Aku sudah puluhan tahun di rumah ini,” katanya. “Aku tahu apa yang terjadi ketika garis antara majikan dan pekerja mulai kabur. Yang hancur selalu kita, yang di bawah. Bukan mereka.” Laras mendengarkan dengan kepala tertunduk. Ia tahu Bik Sumi benar. Ia tahu bahwa hatinya sedang berjalan menuju arah yang berbahaya.
Namun hati bukanlah sesuatu yang bisa diperintah. Malam-malam Laras mulai dipenuhi pertanyaan yang tak berani ia jawab. Mengapa lelaki seperti Bagas memperhatikannya? Apa yang dilihatnya dari perempuan janda dengan satu anak dan setumpuk utang? Dan yang lebih menakutkan, mengapa ia membiarkan dirinya bertanya-tanya seperti gadis muda yang baru mengenal cinta?
Ia mencoba menjaga jarak. Ketika Bagas menyapa, ia menjawab seperlunya. Ketika Bagas menawarkan bantuan, ia menolak dengan halus. Tapi semakin ia menjauh, semakin Bagas seperti tertarik untuk mendekat. Lelaki itu tidak memaksa, tidak pula menggoda dengan cara murahan. Ia hanya hadir, konsisten, dengan kebaikan yang membuat Laras semakin sulit membenci kehadirannya.
Suatu sore, ketika rumah sepi, Bagas menemukan Laras menangis diam-diam di sudut dapur sambil memegang sehelai surat tagihan. Ia tidak bertanya banyak. Ia hanya duduk di seberang meja, menyodorkan segelas air, dan menunggu sampai perempuan itu siap bicara. Dalam keheningan itu, Laras merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya: rasa dianggap manusia, bukan sekadar tenaga kerja.
Dari balik korannya setiap pagi, Bagas diam-diam mempelajari perempuan baru itu. Ia memperhatikan bagaimana Laras menyisihkan remah roti untuk burung-burung di taman, bagaimana ia membungkuk hormat pada Bik Sumi tanpa rasa takut yang berlebihan, bagaimana matanya berbinar setiap kali menyebut nama anaknya. Bagas tumbuh dikelilingi perempuan yang pandai berpura-pura, yang tawanya diatur dan sopannya dilatih. Maka ketulusan yang terpancar dari gerak sederhana Laras terasa asing sekaligus memikat baginya. Ia tahu seharusnya ia tak peduli; seorang pembersih lantai bukanlah urusannya. Tapi semakin ia berusaha tak peduli, semakin pikirannya kembali pada perempuan berseragam abu muda yang bekerja tanpa pernah menuntut diperhatikan itu.
Suatu pagi, Bagas memperbaiki engsel gerbang kecil samping yang selama ini berderit dan selalu menyulitkan Laras setiap kali membawa ember. Ia melakukannya diam-diam, tanpa berkata apa-apa, dan baru ketahuan ketika Laras mendapati gerbang itu terbuka mulus keesokan harinya. Hal-hal kecil semacam itu, yang tak pernah ia minta dan tak pernah ia duga, justru lebih menggetarkan hatinya daripada hadiah mahal mana pun. Sebab kebaikan yang tak diumumkan adalah kebaikan yang paling jujur. Dan Laras, yang sudah lama hidup tanpa diperhatikan, mendapati dirinya tak tahu harus bagaimana menanggapi seorang lelaki yang memperbaiki dunia kecilnya tanpa pernah meminta ucapan terima kasih.
Malam-malam Laras mulai dipenuhi perhitungan yang tak pernah usai. Ia menghitung sisa uang gaji, mengurangi cicilan utang, menyisihkan untuk biaya sekolah Bima yang sebentar lagi datang, lalu menatap angka yang nyaris tak cukup. Di tengah perhitungan yang melelahkan itu, bayangan Bagas justru hadir tanpa diundang, mengusik ketenangannya. Ia membenci dirinya sendiri karena membiarkan pikiran semacam itu tumbuh di saat ia seharusnya fokus pada bertahan hidup. Cinta adalah kemewahan, ia mengingatkan dirinya, dan kemewahan bukan untuk perempuan seperti dirinya. Tapi hati, ia mulai sadar, tak pernah patuh pada logika sesederhana itu. Hati punya kehendaknya sendiri, dan kehendak itu menakutkannya.
Suatu kali, Bagas menanyakan pendapat Laras tentang sebuah novel yang sedang ia baca, seolah pendapat seorang pembersih sama berharganya dengan pendapat para kritikus. Laras awalnya ragu menjawab, takut dianggap lancang. Tapi ketika ia akhirnya berbicara, mengungkapkan pandangannya yang sederhana namun tajam tentang tokoh dalam cerita itu, Bagas mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bahkan terkejut oleh kedalaman pemahaman perempuan yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi itu. Percakapan kecil itu membuat Laras teringat pada Aditya, yang dulu juga senang berdiskusi dengannya tentang hal-hal sederhana, yang memperlakukannya sebagai teman bicara yang setara. Sudah lama tak ada yang menghargai pikirannya seperti itu, dan kehangatan kecil itu mengikis sedikit lagi tembok yang ia bangun dengan susah payah.
“Kenapa Tuan baik sekali pada saya?” tanya Laras akhirnya, suaranya serak. Bagas terdiam sejenak, lalu menjawab dengan jujur bahwa ia sendiri tidak tahu. Ia hanya merasa tak bisa berpura-pura tak peduli. Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Laras yang sudah lama membeku mulai retak oleh kehangatan yang ia takuti.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar