Cicilan atas namaku.
Aku menatap baris transaksi itu di layar ponsel sampai angkanya terasa kabur. Setiap tanggal lima, ada potongan otomatis sebesar dua juta delapan ratus ribu ke perusahaan pembiayaan bernama "Artha Cepat Finance." Sudah berlangsung enam bulan.
Aku tidak pernah mengajukan kredit apa pun.
Aku membuka riwayat lebih jauh ke belakang. Cicilan itu mulai muncul tujuh bulan lalu. Sebelumnya tidak ada.
Tujuh bulan lalu. Hampir bersamaan dengan saat Reza berhenti memintaku menyetrika seragam kerjanya.
Aku menutup aplikasi perbankan, lalu membukanya lagi, seolah angka-angka itu akan berubah kalau kulihat dari awal. Tidak berubah. Dua juta delapan ratus ribu, tiap bulan, atas namaku, ke perusahaan yang tidak pernah kuhubungi.
Tanganku dingin.
Ini bukan lagi soal perselingkuhan. Perselingkuhan menyakitkan, tapi setidaknya bisa kupahami sebagai pengkhianatan emosional. Ini berbeda. Ini melibatkan namaku, identitasku, di sebuah perjanjian finansial yang tidak pernah kusetujui.
Ini kejahatan.
Aku duduk di sofa cukup lama, menatap dinding tanpa benar-benar melihatnya. Kepalaku menyusun ulang segalanya. Reza punya akses ke KTP-ku—tentu saja, kami suami istri, dokumen kami tersimpan di laci yang sama. Ia tahu nomor rekeningku. Ia tahu data-data pribadiku.
Dan ia menggunakannya. Tanpa izin. Untuk sesuatu.
Tapi untuk apa?
Aku mengambil ponsel dan mengetik pesan ke nomor tak dikenal itu.
[Saya baru cek rekening. Ada cicilan atas nama saya yang tidak pernah saya ajukan. Apa kamu tahu soal ini?]
Tiga titik muncul cepat sekali, seolah ia sudah menunggu.
[Akhirnya Mbak cek juga. Iya, saya tahu. Itu salah satu dari beberapa pinjaman yang dia buat. Dan itu baru yang Mbak temukan dari satu rekening.]
Beberapa pinjaman.
Jariku gemetar saat mengetik.
[Berapa banyak?]
[Saya tidak tahu pasti jumlahnya. Tapi yang saya tahu, dia pakai nama Mbak dan nama beberapa orang lain. Reza pintar soal ini. Dia tidak pernah pakai nama sendiri kalau bisa pakai nama orang lain.]
Aku menelan ludah.
[Kenapa kamu tahu sebanyak ini tentang dia?]
Jeda. Lalu jawaban yang membuatku semakin penasaran.
[Karena dulu saya kerja sama dia. Sampai dia menghancurkan karier saya. Tapi itu cerita untuk nanti. Sekarang fokus dulu: kumpulkan bukti. Jangan konfrontasi. Begitu dia tahu Mbak curiga, dia akan menghapus semua jejak. Dia sudah pernah melakukannya ke orang lain.]
Aku menatap pesan itu lama.
Ada sesuatu yang tidak nyaman tentang seberapa banyak orang ini tahu. Tentang betapa ia tampak ingin sekali aku menyelidiki suamiku. Bagian dari diriku berkata: hati-hati, orang ini punya agenda sendiri. Tapi bagian lain—bagian yang baru saja melihat cicilan atas namanya sendiri di layar ponsel—tahu bahwa, terlepas dari motif si pengirim, informasinya benar.
Aku bisa curiga pada pengirimnya. Tapi aku tidak bisa membantah angka di rekeningku.
Sore itu, aku menelepon perusahaan pembiayaan "Artha Cepat Finance."
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?"
"Selamat sore. Saya mau tanya soal kredit atas nama Lestari Handayani." Aku menyebut nomor KTP-ku. "Saya mau tahu detail pinjamannya."
Petugas itu mengecek sebentar. "Baik, Bu Lestari. Pinjaman atas nama Ibu jumlahnya delapan puluh juta, dengan jaminan BPKB kendaraan. Cicilan berjalan lancar sejauh ini. Ada yang ingin Ibu tanyakan lebih lanjut?"
Delapan puluh juta. Jaminan BPKB kendaraan.
Kendaraan kami—motor dan satu mobil bekas—BPKB-nya ada di laci. Atau setidaknya, aku pikir begitu.
"Bu Lestari? Masih di sana?"
"I-iya." Aku berusaha menjaga suaraku tetap stabil. "Jaminannya kendaraan apa, ya? Saya lupa detailnya."
"Mobil, Bu. Toyota Avanza tahun 2019. Nomor polisi—" Ia menyebutkan plat nomor yang membuat napasku tersangkut.
Itu mobil kami.
Mobil yang katanya Reza pakai untuk kerja setiap hari.
Mobil yang BPKB-nya, kalau aku ingat sekarang, sudah beberapa bulan ini tidak pernah kulihat di laci tempat seharusnya ia disimpan.
"Terima kasih," kataku pelan, lalu menutup telepon sebelum suaraku pecah.
Aku duduk di sofa dengan ponsel di pangkuan. Delapan puluh juta. Atas namaku. Dengan jaminan mobil keluarga kami.
Dan Reza—Reza yang setiap pagi pamit kerja dengan ciuman di pipi, yang tidur tenang di sebelahku tadi malam—telah melakukan semua ini di belakangku selama tujuh bulan.
Pertanyaan terakhir di daftarku tadi pagi terngiang kembali.
*Apa lagi yang dia sembunyikan dariku?*
Dan aku mulai takut pada jawabannya.
Malam itu Reza pulang pukul sembilan.
"Capek banget," katanya, melempar tas ke sofa dan menjatuhkan diri di sebelahnya. "Klien hari ini rewel parah."
Aku membawakan air putih, meletakkannya di meja. "Klien yang mana, Mas?"
"Yang dari Surabaya itu. Yang aku cerita kemarin."
Aku tidak ingat ia pernah cerita soal klien dari Surabaya. Tapi aku mengangguk seolah ingat.
"Makan dulu? Aku sisain nasi goreng."
"Udah makan di luar tadi." Ia memejamkan mata, kepala bersandar ke sofa. "Sama tim."
Aku duduk di kursi seberangnya, memperhatikan wajahnya yang lelah. Wajah yang sudah enam tahun kukenal—atau kukira kukenal. Aku mencari di sana: tanda-tanda kebohongan, kegelisahan, rasa bersalah. Tapi Reza begitu tenang. Begitu meyakinkan. Seolah berbohong sudah menjadi bahasa keduanya, begitu lancar sampai tidak meninggalkan jejak di wajahnya.
Dan justru ketenangan itu yang paling menakutkan.
Karena ketenangan seperti itu tidak datang dari orang yang baru sekali dua kali berbohong.
Ketenangan seperti itu datang dari orang yang sudah berlatih. Lama. Sampai mahir.
"Mas," kataku pelan.
"Hmm?"
"BPKB mobil masih di laci, kan?"
Matanya terbuka sedikit. Hanya sepersekian detik—tapi aku menangkapnya. Kewaspadaan yang kilat, lalu hilang lagi di balik senyum mengantuk.
"Kayaknya iya. Kenapa?"
"Nggak. Cuma mau pastiin aja. Buat perpanjang STNK bulan depan."
"Oh." Ia menutup mata lagi. "Nanti aku yang urus. Kamu nggak usah repot."
Nanti aku yang urus.
Aku tersenyum dan mengangguk, meski ia tidak melihatnya.
Di dalam, aku mencatat satu hal lagi: Reza tidak mau aku menyentuh BPKB itu. Karena BPKB itu sudah tidak ada di laci. Karena BPKB itu sekarang menjadi jaminan dari pinjaman delapan puluh juta atas namaku.
Pagi tadi terasa biasa-biasa saja. Malam ini pun, di permukaan, terlihat biasa-biasa saja.
Tapi tidak ada lagi yang biasa-biasa saja dalam pernikahan ini.
Hanya saja, dari kami berdua, baru satu yang tahu bahwa kedoknya sudah mulai terbuka.
Dan untuk sekarang, aku ingin tetap menjadi satu-satunya yang tahu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar