Pagi itu aku menyiapkan sarapan seperti biasa.
Telur dadar, nasi goreng dengan sosis yang Reza suka, kopi hitam tanpa gula. Tanganku bergerak otomatis—mengaduk, menggoreng, menata—sementara kepalaku berada di tempat yang sama sekali berbeda.
Reza turun pukul tujuh dengan rambut basah dan handuk kecil di leher. Ia mengenakan kemeja abu—casual, seperti delapan bulan terakhir.
"Wangi," katanya, mendekat ke meja makan. Ia mencium pucuk kepalaku sekilas, kebiasaan lama yang masih ia pertahankan, dan entah kenapa kecupan itu terasa lebih dingin dari sebelumnya. "Masak apa?"
"Nasi goreng." Aku menuangkan kopinya. "Hari ini kerja sampai jam berapa?"
"Mungkin agak malam." Ia menyendok nasi. "Ada meeting sama klien sore. Kamu duluan aja makan malamnya, nggak usah nunggu."
Klien.
Aku mengangguk, menyembunyikan tanganku yang sempat menegang di bawah meja. "Oh ya. Kantor sekarang gimana? Masih sesibuk dulu?"
Ia mengunyah, menjawab tanpa menatapku. "Ya gitu-gitu aja. Logistik kan nggak pernah sepi."
Logistik. Perusahaan tempat ia katanya masih bekerja.
Aku tersenyum tipis dan menyuap nasiku sendiri. Di dalam, aku mencatat setiap kata yang ia ucapkan dengan ketelitian seorang editor yang sedang memeriksa naskah penuh kebohongan.
Setelah Reza berangkat—dengan tas kerja, dengan ciuman pamit di pipi, dengan lambaian tangan kecil dari pintu seperti yang ia lakukan setiap pagi selama enam tahun—aku berdiri di ruang tamu cukup lama, mendengarkan suara motornya menghilang di ujang gang.
Lalu aku mengeluarkan ponselku.
Foto itu masih ada. Aku membukanya lagi, kali ini dengan cahaya pagi yang membuat setiap detailnya semakin jelas. Kemeja biru. Senyum lebar. Tangan di pinggang perempuan berambut panjang.
Aku memperbesar foto itu, bagian demi bagian.
Wajah perempuan itu hanya terlihat separuh karena ia menyandar ke bahu Reza. Tapi aku bisa melihat: muda, mungkin awal dua puluhan, dengan anting kecil berbentuk bunga. Tangannya yang melingkar di lengan Reza memakai cincin di jari manis—cincin sederhana, perak polos.
Lalu aku memeriksa latar belakang. Logo hotel di dinding marmer. Aku mengetik nama hotel itu di mesin pencari, dan benar—hotel di Jakarta Selatan. Bukan Semarang. Tidak ada hubungannya dengan kota mana pun yang pernah Reza sebut.
Ponselku bergetar. Pesan baru dari nomor tak dikenal itu.
[Selamat pagi, Mbak. Sudah lihat lagi fotonya dengan kepala dingin?]
Aku menatap layar. Tanganku berhenti sejenak sebelum mengetik.
[Sudah. Sekarang saya mau tahu—dari mana kamu dapat foto ini, dan kenapa kamu yang punya.]
Tiga titik. Lalu:
[Pertanyaan yang bagus. Tapi belum waktunya saya jawab. Yang perlu Mbak tahu sekarang: foto itu cuma satu dari banyak. Dan suami Mbak bukan cuma punya satu rahasia.]
Bukan cuma satu rahasia.
[Apa maksudnya?]
[Mbak pernah cek, suami Mbak benar-benar masih kerja di tempat yang dia bilang?]
Pertanyaan itu menusuk tepat di firasat yang sudah lama kupendam.
Aku tidak langsung menjawab. Aku menatap pesan itu, lalu menatap ruang tamu rumahku—rumah yang kami cicil sejak menikah, dengan foto pernikahan kami yang masih tergantung di dinding. Aku dan Reza, enam tahun lalu, tersenyum ke kamera dengan keyakinan dua orang yang merasa tahu persis ke mana hidup mereka akan pergi.
Aku berdiri, mengambil foto pernikahan itu dari dinding, dan menatapnya dari dekat.
Senyum Reza di foto pernikahan itu—aku membandingkannya dengan senyum di foto hotel tadi.
Berbeda.
Di foto pernikahan, senyumnya yang biasa. Senyum yang kukenal. Tapi di foto hotel, senyumnya lebih lebar, lebih lepas, lebih... bahagia. Seolah versi Reza yang itu adalah versi yang tidak pernah ia tunjukkan padaku.
Atau mungkin versi yang sudah lama tidak ia rasakan saat bersamaku.
Aku menggantung kembali foto itu di dinding. Lalu aku membuka aplikasi catatan di ponselku dan mulai mengetik—bukan curahan hati, bukan keluhan. Sebuah daftar.
*Hal yang perlu dicek:* *1. Apakah Reza masih kerja di kantor lama?* *2. Siapa perempuan di foto?* *3. Sejak kapan ini berlangsung?* *4. Siapa pengirim pesan, dan apa motifnya?*
Aku menatap daftar itu sebentar.
Lalu aku menambahkan satu baris di bawahnya.
*5. Apa lagi yang dia sembunyikan dariku?*
Dan firasatku—firasat yang sudah enam bulan ini berbisik tanpa kata—mengatakan bahwa jawaban dari pertanyaan terakhir itu jauh lebih besar dari sekadar perselingkuhan.
Aku menghabiskan pagi itu mencoba bekerja—ada naskah novel yang harus kusunting sebelum tenggat lusa—tapi mataku terus kembali ke ponsel.
Sebagai editor lepas, pekerjaanku adalah membaca dengan teliti. Mencari inkonsistensi. Menemukan bagian di mana penulis berbohong pada dirinya sendiri, di mana logika cerita retak, di mana ada yang disembunyikan di balik kalimat-kalimat yang terlihat rapi.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa keterampilan yang sama bisa kuterapkan pada hidupku sendiri.
Pernikahanku adalah naskah. Dan selama enam bulan terakhir, ada inkonsistensi yang terus kuabaikan karena aku terlalu ingin percaya pada versi cerita yang nyaman.
Sekarang aku akan membacanya ulang. Dari awal. Dengan mata seorang editor yang tidak lagi mau ditipu.
Aku menutup laptop kerjaku. Naskah orang lain bisa menunggu.
Ada naskah yang jauh lebih penting yang harus kubongkar lebih dulu—naskah tentang hidupku sendiri, yang ternyata ditulis oleh seseorang yang selama ini berbohong di setiap halamannya.
Aku mengambil ponsel, membuka aplikasi perbankan, dan mulai memeriksa mutasi rekening enam bulan ke belakang.
Baris demi baris.
Dan di transaksi ketiga yang kubaca, jantungku berhenti sejenak.
Ada cicilan keluar setiap bulan—ke sebuah perusahaan pembiayaan yang tidak pernah kukenal. Atas nama yang membuat darahku berdesir.
Atas namaku sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar