Aku tidak langsung ke Kelapa Gading keesokan harinya.
Sebagian karena takut—bukan takut pada Reza, tapi takut pada apa yang akan kulihat. Sebagian lagi karena aku tahu, dari pekerjaanku menyunting cerita, bahwa terburu-buru ke klimaks tanpa membangun fondasi adalah kesalahan amatir. Aku perlu lebih banyak bukti dulu. Bukti yang kuat, yang tidak bisa dibantah, yang tidak bisa Reza putar balik menjadi "kamu salah paham" atau "kamu terlalu curiga."
Jadi pagi itu aku melakukan hal lain.
Aku menelepon kantor logistik tempat Reza katanya bekerja.
"Selamat pagi, PT Sinar Logistik Nusantara, dengan Vina, ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat pagi, Mbak. Saya Lestari, istri dari Pak Reza Mahendra. Saya mau tanya, apakah hari ini Pak Reza ada di kantor? Saya perlu titip sesuatu."
Hening sebentar di seberang. Aku mendengar suara mengetik.
"Mohon maaf, Bu. Nama yang Ibu sebut... Reza Mahendra, ya?"
"Iya, betul."
"Maaf sebelumnya, Bu. Tapi Pak Reza Mahendra sudah tidak bekerja di perusahaan kami sejak... sebentar saya cek." Suara mengetik lagi. "Sejak bulan Oktober tahun lalu, Bu. Sudah delapan bulan."
Meski aku sudah tahu dari Hendra, mendengarnya langsung dari mulut perusahaan itu tetap terasa seperti tamparan.
"Oh," kataku, menjaga suaraku tetap rata. "Begitu ya. Mungkin saya yang salah informasi. Terima kasih, Mbak Vina."
"Sama-sama, Bu. Maaf ya kalau—"
Aku menutup telepon sebelum ia selesai.
Delapan bulan.
Selama delapan bulan, setiap pagi, suamiku pamit kerja ke perusahaan yang sudah memecatnya delapan bulan lalu. Setiap pagi ia memakai sepatu, mengambil tas, mencium pipiku, dan keluar dari pintu menuju... ke mana? Ke Kelapa Gading? Ke kehidupan keduanya? Ke mana pun yang bukan kantor?
Dan setiap akhir bulan, ia masih "menyetor gaji" ke rekening rumah tangga kami. Gaji yang sekarang aku tahu bukan berasal dari pekerjaan—melainkan dari pinjaman atas nama orang lain.
Ia membiayai kebohongannya dengan utang. Dan utang itu memakai namaku.
Aku duduk lama di meja kerjaku, menatap layar laptop yang menampilkan naskah klien yang belum tersentuh.
Ponselku bergetar. Hendra.
[Sudah telepon kantornya?]
Aku menatap layar. Ketepatan tebakan Hendra masih membuatku tidak nyaman, tapi aku sudah mulai terbiasa.
[Sudah. Mereka bilang dia dipecat Oktober lalu. Delapan bulan.]
[Sekarang Mbak percaya saya?]
[Saya percaya informasinya. Tapi saya belum percaya kamu.]
Jeda. Lalu, mengejutkan, sebuah emoji tawa.
[Fair. Mbak memang tidak seharusnya langsung percaya orang asing yang muncul tengah malam dengan foto suami Mbak. Itu justru bagus. Artinya Mbak hati-hati.]
[Jadi apa motif kamu sebenarnya, Hendra? Jujur.]
Tiga titik. Lama. Seolah ia sedang menimbang seberapa jujur ia harus menjawab.
[Saya akan jujur sebagian. Reza dan saya dipecat bersamaan, tapi bukan kebetulan. Saya punya alasan kuat untuk percaya bahwa Reza yang melaporkan saya ke manajemen soal sesuatu yang sebenarnya kami berdua lakukan—supaya dia selamat dan saya yang jadi tumbal. Ternyata kami berdua tetap dipecat. Tapi dia tidak tahu saya tahu itu dia yang lapor.]
Aku membaca pesan itu pelan.
[Jadi kamu mau balas dendam.]
[Saya mau keadilan. Bahasa boleh beda, tapi yang saya inginkan satu: Reza menanggung akibat dari perbuatannya. Dan Mbak—Mbak adalah orang yang paling berhak dan paling mampu membuat itu terjadi secara sah dan bersih. Bukan saya. Saya cuma bisa kasih informasi.]
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
Hendra punya agenda. Itu jelas. Ia tidak menghubungiku karena peduli padaku—ia menghubungiku karena aku berguna untuk tujuannya. Aku adalah senjata yang bisa ia arahkan ke Reza tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Tapi anehnya, kejujuran Hendra soal motifnya justru membuatku sedikit lebih nyaman. Orang yang berterus terang soal kepentingannya lebih bisa diprediksi daripada orang yang berpura-pura mulia.
Dan terlepas dari apa pun motifnya—setiap informasi yang ia berikan terbukti benar.
[Oke,] aku mengetik. [Kalau begitu kita sama-sama punya kepentingan. Tapi aku punya aturan: aku yang pegang kendali. Aku yang putuskan kapan dan bagaimana semua ini dibuka. Kamu cuma kasih informasi. Sepakat?]
Jawaban Hendra datang cepat.
[Sepakat. Mbak yang pegang kemudi.]
Aku meletakkan ponsel.
Untuk pertama kalinya sejak pesan tengah malam itu, aku merasa sedikit lebih kuat. Bukan karena aku tidak takut—aku masih takut. Tapi karena aku sudah berhenti menjadi penonton dalam ceritaku sendiri.
Aku mengambil buku catatan, membuka halaman *Yang Aku Rencanakan*, dan mencoret poin nomor empat.
*4. Hubungi Karin.*
Belum kucoret karena sudah kulakukan. Kucoret karena aku baru memutuskan: sekarang waktunya.
Aku mengambil ponsel lagi dan menelepon nomor yang sudah bertahun-tahun ada di kontakku.
"Karin," kataku saat ia mengangkat. "Kamu lagi sibuk nggak? Aku butuh ngomong. Serius. Dan aku butuh kamu sebagai pengacara, bukan cuma sahabat."
Di seberang, suara Karin langsung berubah serius. "Kamu di rumah? Aku ke sana sekarang."
Sambil menunggu Karin datang, aku menyiapkan semuanya.
Aku mencetak screenshot mutasi rekening yang menunjukkan cicilan atas namaku. Aku menulis ringkasan kronologi di selembar kertas: kapan Reza dipecat, kapan cicilan mulai muncul, kapan fitur lokasi dimatikan, alamat Kelapa Gading, akun Nadira. Aku menyusun semuanya rapi seperti aku menyusun catatan editorial untuk klien—terstruktur, berurutan, mudah dibaca.
Lalu aku berhenti sejenak, menatap tumpukan kertas itu di meja.
Inilah bukti bahwa enam tahun pernikahanku ternyata mengandung kebohongan yang jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Dan anehnya, melihat semuanya tersusun rapi di atas meja membuatku merasa lebih tenang, bukan lebih hancur. Karena yang tersusun bisa dipahami. Dan yang dipahami bisa dihadapi.
Bel pintu berbunyi tiga puluh menit kemudian.
Karin berdiri di teras dengan tas kerja di bahu dan ekspresi yang sudah berubah dari sahabat menjadi pengacara. Ia memelukku sebentar—pelukan yang tidak menanyakan apa-apa, hanya memberi tahu bahwa ia ada—lalu masuk dan langsung duduk di meja makan.
Matanya jatuh ke tumpukan kertas yang sudah kusiapkan.
"Kamu udah kumpulin semua ini?" tanyanya, mengangkat satu lembar.
"Iya."
Ia membaca dengan cepat, matanya bergerak dari satu dokumen ke dokumen lain, alisnya makin lama makin berkerut. Setelah beberapa menit, ia meletakkan kertas-kertas itu dan menatapku.
"Tari," katanya pelan. "Kamu sadar nggak, ini bukan cuma kasus perselingkuhan?"
"Aku sadar."
"Pinjaman atas namamu tanpa izin—itu pemalsuan dan penipuan. Pidana. BPKB mobil yang dijaminkan tanpa sepengetahuanmu—itu memperberat." Ia menatapku tajam. "Suamimu bukan cuma selingkuh, Tari. Dia melakukan tindak pidana. Dengan namamu sebagai tamengnya."
Aku menatap balik sahabatku.
"Aku tahu," kataku. "Dan aku mau dia menanggung semuanya. Tapi dengan cara yang benar. Bersih. Tidak bisa dibantah."
Karin menatapku lama. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat—bukan senyum bahagia, tapi senyum seorang pengacara yang baru saja menyadari bahwa kliennya jauh lebih siap dari yang ia kira.
"Oke," katanya, membuka tas dan mengeluarkan laptopnya. "Kalau gitu, kita mulai dari awal. Ceritakan semuanya. Dari pesan tengah malam itu."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar