Pukul 00.47, ponselku bergetar di atas nakas.

Aku hampir tidak mengangkatnya. Reza sudah tidur di sebelahku, napasnya teratur, punggungnya membelakangiku seperti yang sudah menjadi kebiasaan beberapa bulan terakhir. Lampu kamar mati. Hanya layar ponsel yang menyala, menerangi separuh wajahku.

Sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang tidak kukenal.

[Mbak Lestari, maaf mengganggu tengah malam. Saya perlu bicara. Soal suami Mbak. Soal yang sebetulnya terjadi.]

Aku mengernyit. Spam, pikirku. Atau orang iseng yang salah sasaran. Jariku sudah bergerak ke arah tombol hapus.

Tapi ada sesuatu yang menahanku. Cara pesan itu menyebut namaku—Lestari, bukan panggilan, bukan singkatan. Dan kata-kata itu: *soal yang sebetulnya terjadi.* Seolah ada sesuatu yang selama ini terjadi, dan aku tidak tahu.

Aku menoleh ke arah Reza. Ia masih tidur. Tidak bergerak.

Aku mengetik balasan dengan tangan yang entah kenapa sedikit gemetar.

[Maaf, ini siapa ya?]

Tiga titik muncul di seberang. Lalu berhenti. Lalu muncul lagi.

[Nanti Mbak akan tahu siapa saya. Yang penting sekarang Mbak lihat dulu ini.]

Dan sebuah foto masuk.

Aku menahan napas sebelum membukanya. Sebagian dari diriku berkata jangan—tutup ponsel, tidur, anggap ini tidak pernah terjadi. Tapi bagian lain dari diriku, bagian yang sudah enam bulan terakhir menyimpan firasat tanpa nama, justru menekan foto itu untuk membesar.

Layar terisi penuh.

Sebuah foto di lobi hotel. Pencahayaan keemasan, lantai marmer, sofa-sofa mewah di latar belakang. Dan di tengah foto itu, berdiri dua orang.

Salah satunya Reza.

Suamiku. Mengenakan kemeja biru yang aku setrika sendiri minggu lalu. Tersenyum—senyum lebar yang sudah lama tidak pernah kulihat ia tunjukkan padaku. Tangannya melingkar di pinggang seorang perempuan muda berambut panjang, yang menyandarkan kepala ke bahunya dengan cara yang hanya dilakukan oleh orang yang merasa memiliki.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Telingaku berdenging. Dunia di sekelilingku—kamar yang gelap, napas Reza yang teratur, dengung kipas angin—semuanya seperti memudar, menjauh, menjadi latar belakang yang tidak relevan.

Aku menatap tanggal di sudut foto. Metadata yang ikut terkirim.

Sabtu, dua minggu lalu.

Sabtu, dua minggu lalu, Reza bilang ia harus lembur di Semarang. Proyek mendesak, katanya. Ia pergi pagi-pagi dengan koper kecil dan pulang Minggu malam dengan wajah lelah, mengeluh soal klien yang rewel dan hotel yang AC-nya rusak.

Tapi di foto ini, ia tidak di Semarang.

Hotel di latar belakang itu—aku mengenali logonya. Itu hotel di Jakarta Selatan. Tiga puluh menit dari rumah kami.

Tanganku turun perlahan ke pangkuan, ponsel masih menyala.

Aku menoleh sekali lagi ke arah suamiku yang tidur dengan tenang—tenang seperti orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan, tenang seperti orang yang yakin tidak akan pernah ketahuan.

Aku ingin membangunkannya. Ingin menyodorkan foto ini ke wajahnya dan menuntut penjelasan. Ingin berteriak.

Tapi aku tidak melakukannya.

Karena di balik rasa sakit yang baru saja menusuk dadaku, ada satu suara kecil yang lebih dingin dan lebih jernih, suara yang berkata: *Belum. Jangan sekarang. Kamu belum tahu seberapa dalam ini.*

Aku menatap pesan terakhir dari nomor tak dikenal itu.

[Kalau Mbak mau tahu lebih banyak, jangan kasih tahu suami Mbak bahwa Mbak sudah lihat foto ini. Tidur dulu. Besok saya kirim yang lain.]

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu aku mengetik satu pertanyaan—pertanyaan yang akan menentukan ke mana semua ini bermuara.

[Kenapa kamu kasih tahu saya?]

Jawaban datang setelah jeda yang terasa sangat panjang.

[Karena suami Mbak menghancurkan hidup saya. Dan Mbak berhak tahu siapa sebenarnya laki-laki yang tidur di sebelah Mbak sekarang.]

Aku mengunci layar. Meletakkan ponsel di nakas dengan tangan yang masih dingin.

Di sebelahku, Reza menggeliat dalam tidurnya, lalu kembali tenang.

Aku berbaring menatap langit-langit kamar yang gelap, dengan jantung yang berdebar dan pikiran yang berputar lebih cepat dari yang bisa kukendalikan.

Enam tahun pernikahan.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa mungkin aku tidak pernah benar-benar mengenal pria yang berbagi ranjang denganku.

Aku tidak tidur sampai subuh.

Bukan menangis—anehnya, aku tidak menangis. Yang kulakukan adalah berbaring diam, memutar ulang enam bulan terakhir di kepalaku seperti memutar ulang naskah yang sedang kusunting, mencari kalimat-kalimat ganjil yang dulu kulewatkan.

Reza yang makin sering "lembur". Ponselnya yang selalu tengkurap dan selalu dalam mode senyap. Caranya gelisah setiap kali aku menyentuh dompetnya. Pengeluaran yang tidak masuk akal dengan gaji yang katanya tidak naik-naik. Dan satu hal kecil yang dulu kuabaikan—ia berhenti memintaku menyetrika seragam kerjanya sekitar delapan bulan lalu. "Sekarang pakai kemeja casual aja," katanya waktu itu. "Kantor lagi santai."

Aku dulu percaya.

Sekarang setiap detail itu terasa seperti potongan puzzle yang baru kusadari ada gambarnya.

Saat adzan subuh berkumandang, aku bangun pelan-pelan agar tidak membangunkan Reza. Aku shalat, lalu duduk di sajadah lebih lama dari biasanya—bukan untuk menangis, tapi untuk meminta satu hal: kejernihan. Kekuatan untuk tidak bereaksi karena emosi, dan keberanian untuk mengikuti kebenaran ke mana pun ia membawaku.

Saat aku selesai, langit di luar jendela mulai membiru.

Dan aku sudah memutuskan satu hal.

Aku tidak akan menjadi istri yang menangis dan menuntut penjelasan, lalu menerima kebohongan yang dirangkai rapi sebagai jawaban.

Aku akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi laki-laki yang punya banyak rahasia.

Aku akan menjadi orang yang mencari tahu.