Keesokan harinya, setelah Reza berangkat, aku memulai apa yang kusebut dalam hati sebagai "proyek penyuntingan terbesar dalam hidupku."

Aku mengeluarkan buku catatan—buku fisik, bukan aplikasi, karena aku tidak mau ada jejak digital yang bisa Reza temukan. Di halaman pertama, aku menulis tiga kolom: *Yang Dia Katakan, Yang Aku Temukan, Yang Belum Jelas.*

Lalu aku mulai bekerja.

Hal pertama: BPKB.

Aku membuka laci tempat dokumen keluarga kami disimpan. Map plastik berisi sertifikat rumah, buku nikah, ijazah, KK, dan dokumen-dokumen lain. Aku membongkar semuanya, mengeluarkan satu per satu, memeriksa setiap lembar.

BPKB mobil tidak ada.

Yang ada hanya fotokopinya—diletakkan rapi di tempat seharusnya BPKB asli berada, seolah agar tidak ada yang sadar bahwa yang asli sudah hilang. Trik yang cukup pintar untuk mengelabui istri yang tidak pernah curiga.

Tapi aku sudah curiga.

Aku memotret laci itu, fotokopi BPKB itu, dan posisi setiap dokumen—dokumentasi, untuk berjaga-jaga. Lalu aku mengembalikan semuanya persis seperti semula.

Hal kedua: lokasi.

Aku tahu Reza menyalakan fitur berbagi lokasi denganku dulu, di tahun-tahun awal pernikahan. Kami berdua mengaktifkannya "biar gampang saling cek kalau jemput." Tapi beberapa bulan lalu, fitur itu tiba-tiba mati di ponselnya. "Error, katanya," ia bilang waktu itu. "Nanti aku nyalain lagi." Tidak pernah ia nyalakan lagi.

Aku membuka aplikasi itu sekarang. Benar—lokasi Reza tidak terbagi. Tapi ada riwayat lokasi lama, dari sebelum ia mematikannya. Aku menggulir ke belakang, ke hari-hari terakhir sebelum fitur itu mati.

Dan polanya jelas.

Di hari-hari kerja, Reza tidak pernah ke kawasan tempat kantor logistiknya berada. Ia selalu ke arah yang berlawanan—ke Kelapa Gading. Sebuah titik yang sama, berulang-ulang, hampir setiap hari kerja. Sebuah kompleks apartemen.

Aku mencatat alamatnya.

Hal ketiga: media sosial.

Reza tidak terlalu aktif di media sosial—setidaknya di akun yang aku tahu. Tapi aku punya firasat. Aku mencari namanya dengan berbagai variasi, lalu mencari foto perempuan di hotel itu dengan menelusuri anting bunga dan ciri-ciri yang kuingat.

Butuh dua jam. Tapi aku menemukannya.

Sebuah akun atas nama "Nadira Kusuma." Foto profilnya perempuan muda berambut panjang dengan anting bunga kecil. Akunnya tidak dikunci. Dan di antara foto-foto bunga—ia sepertinya bekerja di toko bunga—ada beberapa foto bersama seorang pria yang wajahnya selalu setengah tertutup, dipotong, atau diberi stiker.

Tapi aku mengenali bahu itu. Mengenali jam tangan itu. Mengenali kemeja biru itu.

Reza.

Caption salah satu fotonya: "Dia bilang sebentar lagi kita resmi. Sabar katanya. Aku percaya. 🥰"

Sebentar lagi kita resmi.

Aku menatap kalimat itu lama sekali.

Perempuan ini—Nadira—tidak terdengar seperti seseorang yang tahu bahwa pria yang ia tunggu sudah punya istri. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang menunggu sebuah janji. Seperti seseorang yang juga sedang dibohongi.

Aku duduk bersandar, menatap langit-langit.

Gambar yang mulai terbentuk di kepalaku semakin rumit. Ini bukan sekadar suami yang punya simpanan. Reza menjalani dua kehidupan utuh—satu sebagai suamiku, satu sebagai calon suami Nadira. Di kehidupan pertama ia "supervisor logistik". Di kehidupan kedua, entah ia mengaku sebagai apa.

Dan kedua kehidupan itu dibiayai oleh pinjaman atas nama orang lain. Termasuk atas namaku.

Ponselku bergetar. Nomor tak dikenal itu.

[Sudah nemu apartemennya?]

Aku menatap pesan itu, lalu ke alamat Kelapa Gading yang baru saja kucatat.

Bagaimana ia tahu aku baru saja menemukannya?

[Kamu ngawasin saya?]

[Tidak. Saya cuma tahu pola Reza. Kalau Mbak cek riwayat lokasi, pasti ketemu Kelapa Gading. Saya cuma menebak Mbak sudah sampai di sana.]

Tebakan yang terlalu tepat. Tapi sekali lagi—tidak salah.

[Siapa kamu sebenarnya?]

Jeda panjang. Lalu:

[Nama saya Hendra. Dulu satu tim sama Reza di kantor logistik. Kami berdua dipecat di hari yang sama, delapan bulan lalu. Bedanya, saya jujur ke keluarga saya. Reza tidak. Dia memilih berpura-pura masih kerja, dan membiayai kepura-puraannya dengan cara yang Mbak mulai temukan sekarang.]

Dipecat. Delapan bulan lalu.

Potongan puzzle terbesar baru saja jatuh ke tempatnya.

Reza tidak punya pekerjaan sejak delapan bulan lalu. Setiap pagi ia pamit "kerja" ke tempat yang sudah tidak menerimanya. Dan untuk menutupi itu—untuk tetap terlihat seperti suami yang membawa nafkah—ia berutang. Atas nama istrinya.

[Kenapa kamu mau bantu saya?] aku mengetik. [Kalau kamu cuma mau Reza hancur, kenapa libatkan saya?]

Jawaban Hendra datang pelan.

[Karena Mbak satu-satunya orang yang punya cukup alasan untuk menjatuhkannya secara sah. Dan karena, jujur saja, Mbak juga korban. Sama seperti saya. Sama seperti perempuan di Kelapa Gading itu.]

Aku menutup ponsel.

Tiga korban. Satu laki-laki.

Dan aku, ternyata, baru saja menggali permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang kubayangkan semalam.

Sebelum menutup buku catatan hari itu, aku menambahkan satu kolom baru di halaman: *Yang Aku Rencanakan.*

Di bawahnya, aku menulis dengan tangan yang sudah tidak gemetar lagi:

*1. Verifikasi semua pinjaman atas namaku. Berapa total.* *2. Cari tahu apartemen Kelapa Gading—siapa yang bayar, bagaimana.* *3. Amankan dokumen dan aset yang masih bisa diamankan.* *4. Hubungi Karin.*

Karin. Sahabatku sejak kuliah. Sekarang pengacara di sebuah firma yang menangani perkara perdata dan pidana. Kalau ada satu orang di dunia ini yang bisa kupercaya untuk membantuku menavigasi situasi ini—dan yang tidak akan menyuruhku "bersabar" seperti yang pasti dikatakan ibuku—Karin orangnya.

Tapi belum sekarang. Aku ingin punya gambaran yang lebih lengkap dulu sebelum melibatkan siapa pun.

Aku menutup buku catatan, menyembunyikannya di tempat yang Reza tidak akan pernah cari—di antara tumpukan naskah cetak klien-klienku, di rak kerja yang ia anggap "cuma kertas-kertas membosankan."

Lalu aku kembali duduk di depan laptop, membuka naskah klien yang harus kusunting, dan untuk beberapa jam berusaha menjadi Lestari yang biasa. Editor yang tenang. Istri yang tidak curiga.

Tapi setiap beberapa menit, mataku kembali ke alamat Kelapa Gading yang tertulis di sudut buku catatan.

Besok, pikirku. Besok aku akan ke sana.

Bukan untuk konfrontasi. Hanya untuk melihat.

Karena sebelum aku bisa membongkar seluruh kebohongan ini, aku perlu melihat dengan mata kepalaku sendiri seberapa jauh kehidupan kedua suamiku telah ia bangun—di tempat yang ia kira tidak akan pernah kutemukan.