Tiga hari kemudian, ada pelanggan yang berbeda jenis.
Perempuan, mungkin tiga puluh lima. Berpakaian rapi. Masuk dengan langkah yang terlalu terkontrol — cara orang yang terbiasa mengendalikan segalanya.
"Saya ingin membeli kenangan," katanya. Bukan menjual. Membeli.
"Kenangan apa?" tanya saya.
"Kenangan bahagia tentang masa kecil." Ia duduk. "Saya tumbuh dalam keluarga yang tidak... mudah. Saya tidak punya banyak kenangan tentang merasa aman sebagai anak kecil. Saya dengar di sini ada kenangan yang bisa dibeli?"
Ini pertanyaan yang lebih rumit.
"Ada," kata saya. "Tapi ada hal yang perlu kamu pahami terlebih dahulu."
"Saya dengarkan."
"Kenangan yang dibeli bukan milikmu. Kamu akan mengalaminya — dengan penuh, dengan detail, dengan semua rasa yang ada di dalamnya. Tapi itu bukan hidupmu. Kamu akan tahu bahwa itu kenangan orang lain yang kamu pinjam."
"Tidak apa-apa."
"Masalahnya," kata saya pelan, "kenangan masa kecil yang bahagia tidak hadir sendiri. Kenangan itu punya konteks. Orang-orang di dalamnya. Cara tertentu sebuah keluarga berbicara satu sama lain, nama panggilan, lelucon yang hanya mereka yang mengerti." Saya menatapnya. "Kamu akan mengalami kebahagiaan itu. Tapi kamu juga akan merasakan bahwa itu bukan kamu yang dibahagiakan."
Perempuan itu diam.
"Banyak orang yang membeli kenangan bahagia justru merasa lebih sedih sesudahnya," kata saya. "Bukan karena kenangan itu tidak indah. Tapi karena tiba-tiba mereka tahu bahwa kebahagiaan itu mungkin ada — dan mereka tidak pernah mendapatkannya."
Hening panjang.
"Saya tetap mau," katanya akhirnya. Tapi dengan nada yang berbeda dari tadi.
"Pertanyaan saya bukan tentang apakah kamu mau," kata saya. "Pertanyaan saya adalah: apa yang kamu harapkan dari kenangan itu setelah kamu punya?"
Ia tidak menjawab segera.
"Saya ingin tahu rasanya," katanya akhirnya. "Hanya itu."
Dan di kalimat itu, saya mendengar sesuatu yang terasa jujur.
"Baik," kata saya. "Saya akan carikan."
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar