Perempuan itu berdiri di depan pintu toko saya pukul sembilan pagi, ketika kabut Jakarta belum sepenuhnya pergi.

Ia tidak mengetuk. Mereka yang menemukan toko ini tidak pernah mengetuk — seolah-olah mereka tahu bahwa menemukan tempatnya sudah cukup permisi untuk masuk. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap papan nama yang tulisannya sudah memudar: KENANGAN. Satu kata saja.

Umurnya mungkin dua puluh tujuh. Matanya merah di tepinya, tapi kering — jenis mata orang yang sudah menangis terlalu banyak sampai tidak bisa lagi.

"Saya ingin menjual kenangan," katanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang berencana melakukan sesuatu sebesar itu.

"Duduk dulu," kata saya. "Ceritakan kenapa kamu di sini."

Ia duduk di kursi kayu di depan counter saya. Menatap rak-rak di belakang saya — ratusan stoples kaca kecil yang bercahaya dalam gelap, masing-masing warnanya sedikit berbeda. Merah bata untuk kenangan yang punya malu. Biru gelap untuk yang bercampur duka dan rindu. Hijau pudar untuk kenangan yang terasa seperti musim yang sudah lewat.

"Semua kenangan tentang ibu saya," katanya.

Saya tidak langsung merespons. Dalam tiga puluh tahun mengelola toko ini, saya sudah mendengar berbagai permintaan. Tapi permintaan untuk menjual *semua* kenangan tentang seseorang — itu selalu permintaan yang butuh waktu lebih.

"Berapa banyak yang kamu maksud dengan semua?"

"Semuanya." Ia menautkan jari-jarinya di atas meja. "Dari yang paling awal sampai yang terakhir. Saya tidak mau ingat wajahnya. Suaranya. Cara dia memanggil nama saya. Saya tidak mau ingat apapun."

"Ibumu masih hidup?"

"Sudah tiga tahun meninggal."

Saya mengangguk. Tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

"Ada satu aturan di toko ini," kata saya akhirnya. "Sebelum kamu menjual apapun, kamu harus melihatnya dulu. Satu kenangan yang saya pilih secara acak. Bukan yang paling besar. Bukan yang paling menyakitkan. Tapi kenangan yang saya pilih. Setelah kamu melihatnya, baru kita bisa bicara soal transaksi."

"Untuk apa?"

"Supaya kamu tahu apa yang kamu jual."

Ia memikirkan itu selama beberapa detik. Lalu mengangguk.

Saya menutup mata. Mengeluarkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata — semacam kemampuan untuk meraba ruang di sekitar seseorang, di mana kenangan mereka hidup sebelum dipindahkan. Saya tidak tahu dari mana kemampuan ini datang. Saya tidak ingat bagaimana saya mendapatkannya. Yang saya tahu: kemampuan ini ada, dan selama tiga puluh tahun ia tidak pernah mengkhianati saya.

Saya memilih satu kenangan. Kecil. Tidak dramatis.

"Tutup matamu," kata saya pada perempuan itu.

"Ini tidak menyakitkan?"

"Tidak." Saya mengulurkan tangan di atas meja. "Tapi rasanya seperti mimpi yang kamu tahu kamu pernah alami."

Ia menutup matanya. Meletakkan tangannya di atas tangan saya.

Dan kami masuk ke dalam.

---