Pelanggan kedua hari itu datang menjelang tengah hari.

Pria. Empat puluhan. Kemeja yang rapi tapi wajah yang tidak. Berjalan masuk dengan cara orang yang sudah meyakinkan dirinya berkali-kali di jalan sebelum akhirnya masuk.

"Saya ingin menjual kenangan," katanya. Langsung, tanpa basa-basi — cara orang yang takut kalau terlalu banyak basa-basi, tekadnya akan runtuh.

"Kenangan apa?" tanya saya.

"Rapat direksi tahun lalu." Ia duduk tanpa dipersilakan. "Saya berbicara dan semua orang tertawa. Bukan tertawa yang baik. Saya bisa menjual kenangan itu?"

"Bisa." Saya menatapnya. "Tapi sebelum itu, ada yang perlu kamu pahami."

"Saya sudah baca tentang toko ini dari—"

"Siapapun yang cerita tentang toko ini ke kamu, mereka tidak bisa menceritakan semua aturannya." Saya meletakkan tangan di atas counter. "Karena setiap orang yang datang ke sini mengalaminya berbeda."

Ia diam.

"Aturan pertama," kata saya. "Sebelum menjual, kamu melihat kenangan itu sekali lagi bersama saya. Ini wajib."

"Tapi saya sudah terlalu sering mengingatnya. Saya tidak mau—"

"Bukan supaya kamu menderita lagi. Tapi supaya kamu yakin bahwa yang akan hilang dari hidupmu adalah ini." Saya membuka telapak tangan. "Dan bukan sesuatu yang melekat padanya tanpa kamu sadari."

Ia memikirkan itu.

"Aturan kedua," lanjut saya. "Kamu membayar harganya. Bukan uang."

"Lalu apa?"

"Sesuatu yang setara nilainya dengan kenangan yang kamu jual." Saya mengangkat pandangan. "Untuk kenangan memalukan, biasanya yang setara adalah satu kesempatan untuk melakukan hal yang sama dengan cara yang benar — dan kamu berkomitmen untuk melakukannya."

Ia mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

"Kamu menjual kenangan rapat di mana kamu ditertawakan. Harganya: kamu harus kembali ke rapat berikutnya dan berbicara lagi. Kali ini dengan persiapan yang lebih baik."

"Itu tidak adil."

"Saya tidak bilang ini adil. Saya bilang ini adalah harganya."

Ia terdiam. Menatap rak-rak stoples di belakang saya.

"Aturan ketiga," kata saya. "Ada kenangan yang tidak bisa saya beli. Kenangan yang terhubung dengan siapa kamu secara fundamental — kenangan yang kalau hilang akan mengubah kamu menjadi orang yang berbeda secara mendasar. Kenangan itu tidak dijual di toko ini."

"Bagaimana kamu tahu mana yang termasuk?"

"Saya tahu." Saya berdiri. "Sekarang, tutup matamu. Mari kita lihat kenangan rapat itu dulu."

Ia menutup matanya dengan ragu.

Dan saya memasuki kenangan seorang pria yang malu — untuk melihat apakah yang ia ingin jual itu layak dibeli.

---