Di dalam kenangan itu, pagi terasa lebih lambat dari pagi yang sesungguhnya.

Itu dapur yang kecil. Cat dindingnya kuning — warna yang sudah sedikit pudar di sudut-sudutnya. Ada radio kecil yang memainkan lagu lawas yang tidak bisa saya kenali judulnya. Dan di depan kompor, seorang perempuan paruh baya berdiri memasak nasi goreng dengan cara orang yang sudah melakukannya ribuan kali — tanpa melihat, tanpa berpikir, hanya bergerak.

Di meja, ada anak kecil yang sedang makan. Delapan tahun mungkin. Rambut dikepang dua. Seragam sekolah yang sudah dipakai.

Itu Dini yang lebih muda.

Dan perempuan di depan kompor itu ibunya.

Kenangan ini bukan kenangan yang besar. Tidak ada ulang tahun. Tidak ada kata-kata terakhir. Tidak ada momen yang akan diingat orang dalam pidato perpisahan. Hanya pagi, dapur, nasi goreng, dan seorang ibu yang berdiri membelakangi anaknya sambil memasak.

Tapi kemudian ibu itu mengangkat kepala sedikit — seperti baru ingat sesuatu — dan berkata tanpa menoleh:

"Dini, nanti pulang sekolah beli es krim ya. Yang rasa cokelat. Ibu lagi pengin."

Dan suara anak kecil itu — Dini yang lebih muda — menjawab sambil menyuap nasi:

"Tapi uang jajannya cukup nggak?"

"Sisihkan dua ribu. Kalau kurang, Ibu ganti nanti."

Hanya itu.

Saya merasakan tangan Dini yang dewasa menggenggam tangan saya lebih kuat di dalam kenangan itu.

Ketika kami keluar — ketika cahaya dapur itu memudar dan kami kembali ke toko dengan stoples-stoples bercahaya dan counter kayu tua — ada air mata di pipi Dini. Bukan tangisan keras. Hanya dua garis basah yang mengalir tanpa suara.

"Saya lupa," kata Dini. Suaranya berbeda sekarang — lebih rapuh di tepinya. "Saya lupa dia pernah bilang begitu."

"Kenangan kecil sering kali yang paling sulit dijual," kata saya pelan. "Karena ukurannya tidak mencerminkan bobotnya."

Dini menatap tangan mereka yang masih bersentuhan di atas meja. Lalu menarik tangannya perlahan.

"Kalau saya jual semuanya," katanya, "kenangan seperti itu juga akan hilang."

"Ya."

"Saya tidak akan ingat bahwa ibu saya pernah minta dibelikan es krim cokelat."

"Kamu akan tahu bahwa sesuatu terjadi. Tapi tidak merasakannya."

Dini diam lama sekali.

Toko saya sunyi kecuali suara sayup-sayup dari gang di luar — motor lewat, pedagang sayur yang berteriak harga.

"Saya..." Dini memulai, lalu berhenti. "Saya perlu pikir lagi."

"Tentu," kata saya. "Toko ini ada setiap kamu butuh."

Ia berdiri. Mengambil tasnya. Berjalan ke pintu.

Di ambang pintu, ia berhenti sebentar. Tidak menoleh.

"Tadi di dalam kenangan itu," katanya. "Bapak kelihatan seperti orang yang pernah kehilangan sesuatu juga."

Saya tidak menjawab.

Ia keluar.

Dan saya duduk sendirian di toko yang sunyi, dengan pertanyaan yang tidak bisa saya jawab — bukan karena saya tidak mau, tapi karena saya benar-benar tidak tahu jawabannya.

---