Setelah Dini pergi, saya duduk di kursi saya di belakang counter dan membiarkan kesunyian toko mengendap.

Ini bagian dari rutinitas yang tidak pernah berubah dalam tiga puluh tahun: setelah setiap pelanggan pergi, saya duduk. Bukan untuk beristirahat — untuk memeriksa diri sendiri. Apakah ada yang tertinggal. Apakah ada yang tidak sengaja saya bawa keluar dari kenangan seseorang.

Itu risiko pekerjaan ini. Kadang, ketika memasuki kenangan orang lain, ada serpihan kecil yang ikut keluar. Bukan kenangan mereka yang pindah ke saya — lebih seperti gema. Bayangan dari rasa.

Tapi hari ini berbeda.

Yang keluar dari kenangan Dini bukan milik Dini.

Ada sesuatu yang bergerak di dalam kepala saya — bukan pusing, lebih seperti ada yang menggeser sesuatu yang sudah lama tidak bergerak. Sebuah gambar yang tidak jelas: dapur. Bukan dapur yang tadi. Dapur yang berbeda. Cat yang berbeda.

Dan suara.

Suara tawa anak perempuan.

Saya tidak tahu tawa siapa itu.

Saya mencoba menahannya — seperti biasa saya lakukan dengan semua gema yang keluar setelah sesi. Biasanya mudah. Biasanya gema itu memudar dalam hitungan menit.

Tapi yang ini tidak memudar.

Saya berdiri. Berjalan ke rak. Memeriksa stoples-stoples satu per satu dengan tangan — bukan untuk membaca isinya, hanya gerakan yang terasa menenangkan, kebiasaan yang sudah ada selama tiga puluh tahun.

Tiga ratus dua belas stoples. Saya tahu persis jumlahnya. Saya tahu isi masing-masing — bukan karena saya hapal, tapi karena ada koneksi antara saya dan setiap kenangan yang disimpan di toko ini.

Semua kenangan milik orang lain.

Tidak ada satu pun milik saya.

Itu yang selalu saya anggap normal — karena memang tidak ada yang tidak normal dari seseorang yang tidak punya kenangan tentang hidupnya sendiri, bukan? Saya tahu cara mengelola toko. Saya tahu nama jalan di luar. Saya tahu cara memasak nasi dan cara membaca dan cara berbicara dengan manusia.

Pengetahuan ada. Tapi memori pengalaman — di mana saya belajar hal-hal itu, siapa yang mengajari saya, apa yang saya rasakan pertama kali melakukannya — tidak ada.

Selama tiga puluh tahun, saya terima itu sebagai kondisi.

Sekarang, untuk pertama kalinya, tawa anak perempuan yang tidak saya kenal bergema di dalam kepala saya.

Dan saya tidak bisa membuatnya berhenti.

Saya kembali ke kursi. Menutup mata.

Mencoba mengingat.

Tidak ada yang datang. Hanya tawa itu.

---