Aku terbangun dengan leher yang sedikit kaku karena posisi tidur di sofa rumah yang sepi. Sinar matahari pagi sudah menerobos masuk dari celah jendela.
Sepi. Tidak ada gemericik air dari arah dapur, juga tidak ada aroma teh hangat yang biasanya sudah tersaji di meja.
Aku berdiri dan berjalan santai menuju kamar utama. Kasur sudah rapi sempurna. Lemari pakaian pintunya terbuka lebar. Separuh isinya kosong.
Aku mendengus.
Sebuah senyuman sinis terukir di bibirku.
"Kabur?" gumamku pelan, sama sekali tidak merasa panik.
Aku berjalan kembali ke ruang tamu, lalu duduk santai di sofa sambil menyalakan sebatang rokok.
Pikiranku sangat tenang.
Hana sedang hamil enam bulan, tidak bekerja, dan tidak memegang uang banyak. Mau kabur ke mana dia? Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini sejak kakaknya, Sinta, meninggal. Paling besok atau lusa juga dia bakal mengemis pulang sambil menangis.
Sambil mengisap rokokku, aku meraih ponsel dan menghubungi adikku.
"Dewi, apa Hana ada datang ke rumah Ibu?" tanyaku langsung, suaraku sangat kasual.
"Lah, enggak ada, Mas! Memangnya si dia ke mana? Kabur, ya?"
Suara Dewi langsung meninggi, terdengar sinis dari seberang.
"Iya. Kopernya dibawa," jawabku pendek sambil terkekeh tipis. "Bajunya juga tidak ada di lemari."
Suara Dewi berubah menjadi tawa ejekan yang renyah.
"Halah, paling cuma drama biar Mas Dika nyariin! Dasar perempuan tidak tahu diri! Sudah untung ditampung di rumah Mas setelah Kak Sinta mati, eh ini malah bertingkah. Sok-sokan kabur, paling nanti sore juga pulang karena kelaparan. Lagian, siapa juga yang mau nampung wanita perut besar modelan dia?"
Aku hanya diam, tidak berniat membela Hana.
Lalu suara telepon beralih. Ibu merebut ponsel dari tangan Dewi.
"Dika! Biarkan saja perempuan pembawa sial itu pergi!" caci Ibu dengan nada melengking. "Baguslah kalau dia sadar diri dan angkat kaki! Ibu dari dulu sudah muak melihat mukanya yang selalu sok menderita itu. Menikah tiga tahun, kerjaannya cuma menghabiskan duit gajimu."
"Iya, Bu. Dika juga tidak nyariin, kok. Biar tahu rasa dia di luar," sahutku tenang.
"Nah, begitu dong jadi laki-laki! Jangan mau diinjak-injak sama perempuan tidak punya modal seperti Hana. Dia itu cuma menumpang hidup dari belas kasihan janjimu pada almarhumah Sinta. Kalau dia tidak pulang sekalian juga bagus! Biar kamu Ibu carikan istri baru yang lebih terhormat!"
Aku menutup sambungan telepon.
Alih-alih berdiam diri di rumah yang sepi, aku memutuskan keluar. Mengendarai motor dengan santai, rodaku akhirnya berbelok menuju tempat yang selalu kudatangi saat jenuh.
Pemakaman.
Aku melangkah melewati deretan nisan hingga kakiku berhenti tepat di depan gundukan tanah milik almarhumah calon istriku.
Aku berjongkok, mengusap permukaan nisan yang mengukir nama indah wanita yang paling kucintai.
"Hana kabur, Sayang," ujarku pelan pada kuburan Sinta.
Suaraku terdengar sangat santai. Aku melempar senyum tipis seolah Sinta sedang mendengarkanku di balik tanah.
"Tapi tenang, aku yakin dia bakal balik lagi. Dia tidak punya siapa-siapa selain aku."
Aku menjeda kalimat, mengusap ujung nisan dengan tatapan penuh kerinduan mendalam.
"Meskipun sudah tiga tahun bersama, dia tidak pernah bisa menggantikan posisimu di hatiku, Sayang. Sampai kapan pun, posisimu tetap nomor satu. Aku sudah memenuhi janjiku untuk menjaganya selama ini, kuharap kau bahagia di sana."
Aku bangkit berdiri dan merapikan pakaian. Aku berjalan kembali ke gerbang makam dengan langkah tegap dan perasaan yang teramat yakin.
Aku tidak perlu panik. Tidak perlu mencari. Dalam hitungan hari, Hana akan kembali mengetuk pintu rumah, berlutut memohon maaf, dan menyerah. Sebab di dunia ini, dia hanya punya aku.
Dan dia tidak akan pernah bisa hidup tanpa diriku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar