Aku menatap koper yang sudah terisi penuh. Otakku sangat berisik. Bagaimana jika aku pergi? Apakah aku bisa menghidupi diri sendiri dan anakku nanti? Tapi rasa sakit selama tiga tahun ini membuat tekadku menjadi lebih kuat.
Aku menghapus sisa air mata di pipi.
Sudah cukup, Hana. Sudah cukup. Jangan lagi mengemis kasih sayang dari laki-laki yang tak pernah mengharapkanmu.
Aku berdiri, mengambil jaket yang tergantung di balik pintu, lalu memakainya. Perlahan aku membuka pintu kamar, dan melihat Mas Dika berbaring miring di sofa ruang tengah.
Kuharap kau terbebas dari segala beban karena kehadiranku dalam hidupmu, Mas.
Setetes air mata kembali jatuh. Aku menatapnya beberapa saat, lalu perlahan pergi dengan menggeret koper. Sudah saatnya kucari kebahagiaanku sendiri.
Udara malam yang dingin di Bandung menyambut wajahku. Aku mengeratkan jaket, berjalan sendirian di bawah gerimis. Entah akan ke mana.
Menit berikutnya aku sudah naik ojek online. Pandanganku kosong menatap keluar jendela kaca helm. Kedua tanganku mengelus perut yang sedikit keram. Sesekali buah cinta dalam perutku menendang, seolah tahu ibunya sedang tidak baik-baik saja.
Buah cinta?
Aku menggeleng disertai senyum kegetiran. Pantaskah anak ini disebut buah cinta?
Selama dua tahun Mas Dika tidak pernah menyentuhku. Malam itu, saat tubuhnya menggigil hebat karena demam tinggi, aku memeluknya, mengompres tanpa henti, dan ketika dia sadar ia langsung memelukku erat sekali. Aku tidak tahu, malam itu apakah kami melakukannya atas dasar cinta, atau dia hanya memberikan hakku sebagai istrinya. Sebab setelah itu, tidak ada lagi sentuhan. Semua kembali ke kode awal. Dingin dan kaku.
"Kak, sudah dipikirkan ini mau ke mana?" tanya si ojek.
Aku terdiam sejenak. Lalu mengetikkan sebuah alamat. Nisa. Satu-satunya sahabat yang mungkin masih ingat aku ada.
Kuharap dia masih di Bandung. Kuharap dia mau membukakan pintu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar