Entah sampai kapan aku akan hidup seperti ini.

Tiga tahun. Tiga tahun aku bertahan dalam rumah ini, mengemis sedikit saja kehangatan, tapi Mas Dika tetap sama. Dingin. Kaku. Seperti batu karang yang pelan-pelan mengikis kewarasanku.

"Nisa…" aku berbisik lirih lewat sambungan telepon, suaraku tercekat di tenggorokan yang kering. "Aku sudah tidak sanggup lagi mempertahankan rumah tanggaku."

Jemariku gemetar mengusap perut yang buncit, rumah bagi seorang anak yang belum lahir tapi sudah harus ikut merasakan tangis ibunya.

Kreakk.

Pintu kamar terbuka. Mas Dika masuk dengan langkah berat, seperti biasa. Tanpa sepatah kata, ia langsung menjatuhkan tubuh ke ranjang. Matanya sempat menangkap wajahku yang berantakan, tapi hanya sekilas. Tidak ada tanya. Tidak ada peduli. Seolah aku tidak ada.

"Mas…" kupanggil pelan. Hening. "Setelah anak kita lahir… kita berpisah saja."

Tidak ada jawaban. Seperti biasa.

Dadaku mendidih. Aku bangkit, mendekat, menahan berat di perut. Berdiri tepat di hadapannya. Ia membuka mata. Menatapku sekilas. Datar. Lalu membalikkan badan.

Aku meremas ujung dasterku.

"Sudah cukup, Mas!" suaraku pecah. "Aku selama ini menahan semuanya. Menelan semua sikap dinginmu. Mas pikir aku tidak punya perasaan?!"

Ia menghela napas.

"Aku lelah. Mau istirahat."

Kalimat itu seperti pisau tumpul. Tidak langsung mematikan, tapi menyiksa perlahan.

"Astagfirullah…"

Aku terduduk. Tangisku pecah memenuhi kamar yang terasa seperti penjara. Bayangan wajah Kak Sinta melintas. Aku menyeka air mata kasar-kasar, lalu dengan sisa tenaga, kupaksa Mas Dika menghadapku.

"Mas… Kak Sinta sudah mati!"

Rahangnya mengeras.

"Jaga kata-katamu. Sinta itu kakakmu," desisnya tajam. "Aku tidak suka mendengar namanya diucapkan seperti itu."

"Aku tahu!" suaraku serak. "Justru karena itu aku ingin Mas sadar! Dia menitipkanku padamu karena dia percaya Mas bisa menjagaku!"

"Kalau aku tidak menjagamu, kau tidak mungkin masih ada di sini."

Aku tertawa kecil. Hampa.

"Menjaga?" aku menatapnya. "Mas cuma menjaga ragaku. Bukan aku."

Dadaku sesak.

"Kau menyakitiku, Mas. Kau membunuh jiwaku pelan-pelan."

Tubuhku gemetar, suaraku mengecil seiring air mata yang terus menetes.

"Aku merasa seperti benda mati. Seperti titipan yang bisa kau letakkan di mana saja. Aku ini istrimu, Mas. Bukan bayangan Kak Sinta."

Tangisku semakin pecah.

"Yang kupunya cuma Mas sekarang…" suaraku melemah. "Kenapa bahkan sedikit saja Mas tidak bisa peduli?"

Ia menatapku cukup lama dengan mata memerah.

"Berpisah berpisah berpisah! Kau pikir aku tidak tersiksa? Bukan hanya kau yang menderita! Aku juga! Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku sudah terlanjur berjanji untuk menjagamu. Jika tidak kulakukan, Sinta akan kecewa."

Aku menatapnya dalam-dalam, tangisku perlahan mereda. Bukan karena luka ini sembuh, tapi karena akhirnya aku mengerti bentuknya.

"Mas tau?" suaraku pelan tapi tegas. "Sekarang aku yakin… Kak Sinta justru lebih kecewa pada Mas. Karena Mas menyiksa batinku."

Aku memukul dadaku perlahan, menatapnya tanpa kedipan.

Ia terdiam. Untuk pertama kalinya, diamnya tidak terasa dingin. Tapi goyah.

"Menjaga itu bukan cuma memberi makan, bukan cuma memastikan aku punya atap. Menjaga itu membuatku merasa hidup, Mas. Tapi di sini?" aku menunjuk dadaku. "Aku seperti mati."

Wajahnya tampak bingung. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Hana… tolong jangan buat semuanya rumit."

"Mas menjaga janji pada orang yang sudah mati, tapi mengorbankan orang yang masih hidup."

Sunyi kembali turun. Bukan sekadar hening, tapi seperti jurang yang menganga di antara kami.

"Aku ini siapa di hidup Mas?" tanyaku lirih. "Istri? Atau cuma janji yang harus Mas jaga?"

Ia memejamkan mata sejenak. Napasnya terdengar berat.

"Jangan tanya hal yang jawabannya sudah kau tahu dari awal, Hana!" gumamnya, lalu meninggalkanku begitu saja.

Tak lama terdengar suara pintu kamar dibanting keras.

"Ya Allah, astagfirullah…"

Malam ini aku baru sadar, bahwa aku tidak pernah hidup sebagai istri. Aku hanya sebuah janji yang harus dijaga.

Aku mengambil koper, lalu mengisinya dengan pakaianku.

"Kita memang tidak ditakdirkan bersama, Mas. Besok, kau tidak akan menemukanku lagi di rumah ini. Dan kuharap itu bisa melepaskanmu dari belenggu hubungan kita selama ini."