Aku turun di depan sebuah rumah besar yang tidak pernah kubayangkan sebesar ini. Lampu taman menyala terang, memantulkan kilau pada jalur batu yang basah oleh gerimis.

Apa benar ini rumah Nisa?

Belum sempat aku memastikan, pintu gerbang besar itu terbuka. Seorang satpam menatapku dari atas ke bawah.

"Mau ketemu siapa, Mbak?"

"Saya… mau ketemu Nisa, Pak. Saya temannya."

Satpam itu mengernyit. "Mbak Nisa itu wanita terpandang, rasanya tidak mungkin kenal sama Mbak."

Aku terdiam. Penampilanku memang tidak meyakinkan. Perempuan hamil, pakai daster, wajah sembap, datang tengah malam tanpa kabar.

Tepat saat itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Seorang perempuan turun.

Tinggi. Anggun. Rambutnya tergerai rapi.

Dia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti saat melihatku. Matanya menyipit, mencoba mengingat sesuatu yang samar.

Lama. Hening.

"Hana?" suaranya bergetar. "Benar ini Hana?"

Namaku keluar dari bibir Nisa dan pertahananku runtuh seketika. Yang bisa kulakukan hanya mengangguk pelan sambil menggenggam gagang koper lebih erat.

Wajah Nisa berubah. Detik berikutnya, ia sudah melangkah cepat mendekatiku.

"Ya Allah, Hana… kamu kenapa?" Suaranya bergetar melihat wajahku yang sembap, daster yang tertutup jaket tipis, dan perutku yang membesar. "Kamu hamil?"

Aku menunduk. Pertanyaan sesederhana itu membuat mataku kembali panas.

"Iya," jawabku lirih.

Nisa menoleh tajam ke arah satpam. "Buka gerbangnya sekarang."

Satpam itu langsung gelagapan membuka gerbang lebih lebar.

Nisa mengambil alih koperku tanpa banyak bicara, lalu menggandeng tanganku masuk. Hangat telapak tangannya membuat dadaku makin sesak. Sudah lama sekali rasanya tidak ada orang yang menyentuhku dengan rasa khawatir, bukan sekadar kewajiban.

"Kenapa datang jam segini? Kenapa tidak telepon dulu? Suamimu ke mana?"

Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena kalau satu kata saja keluar, tangisku pasti ikut tumpah.

Nisa tampaknya mengerti. Ia tidak memaksa. Ia membawaku masuk ke rumah yang terang dan wangi. Lantainya mengilap, dindingnya penuh dengan lukisan. Aku berdiri kaku di dekat pintu, merasa seperti noda basah yang tersesat di atas kain sutra.

"Duduk dulu, Han," ucap Nisa lembut.

Aku menurut. Nisa memanggil asisten rumah tangganya, meminta air hangat dan makanan ringan.

Nisa duduk di depanku. Menatapku lama. Tatapan seseorang yang sedang berusaha mengenali sisa-sisa sahabat lamanya di wajah perempuan lusuh ini.

"Hana," panggilnya pelan. "Kamu kabur dari rumah?"

Aku menggigit bibir. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

"Aku pergi, Nis," jawabku serak. "Aku sudah tidak sanggup."

Nisa terdiam. Rahangnya mengeras, tapi ia menahan diri.

"Suamimu melakukan kekerasan?"

Aku menggeleng.

"Dia selingkuh?"

Aku kembali menggeleng.

"Lalu?"

Aku menatap gelas air hangat yang baru diletakkan di meja. Uapnya naik tipis, kabur seperti hidupku sendiri.

"Dia tidak melakukan apa-apa," bisikku. "Justru itu yang membunuhku pelan-pelan."

Nisa tidak langsung bicara.

Aku menarik napas patah-patah. "Tiga tahun aku hidup dengannya, Nis. Serumah, sekamar, satu atap. Tapi rasanya seperti tinggal dengan orang asing. Dia tidak pernah bertanya aku baik-baik saja atau tidak. Tidak pernah peduli aku ingin apa. Bahkan saat aku hamil, aku tetap merasa sendirian."

Nisa meraih tanganku. Genggamannya menguat.

"Kemarin aku cuma minta dibelikan mie gacoan. Satu bungkus saja. Aku ngidam, Nis. Bukan minta emas. Cuma mie gacoan."

Bibir Nisa mengatup rapat.

"Dia lupa?" tanyanya rendah.

Aku mengangguk. "Katanya lupa. Tapi ternyata dia membelikan adiknya, ibunya, bahkan memakannya sendiri."

Nisa memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya lagi, sorot matanya sudah berbeda. Ada api kecil yang diam-diam menyala di sana.

Aku melanjutkan dengan suara yang sangat pelan.

"Mas Dika menikahiku bukan karena cinta. Dia menikahiku karena janji pada Kak Sinta."

Nisa mendongak. "Kak Sinta?"

"Ya. Kakakku." Suaraku tercekat. "H-3 sebelum pernikahannya dengan Mas Dika, Kak Sinta kecelakaan. Sebelum meninggal, dia meminta Mas Dika menjagaku. Lalu mereka menikahkan kami di hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan Kak Sinta dan Mas Dika. Semua orang bilang itu jalan terbaik. Aku masih muda, sendirian, tidak punya siapa-siapa. Mas Dika dianggap lelaki baik karena mau menerima adik dari calon istrinya yang sudah meninggal."

Nisa menatapku tidak percaya. "Jadi… dia calon suami kakakmu?"

Aku mengangguk. "Selama ini, aku hidup di bawah bayangan Kak Sinta. Aku tidak pernah menjadi Hana di matanya. Aku cuma amanah. Titipan. Janji yang harus dijaga."

Nisa bangkit tiba-tiba. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti sambil memijat pelipisnya.

"Astaga, Hana…"

Aku mengusap perutku perlahan. "Aku pernah berpikir, mungkin kalau aku sabar, suatu hari dia akan melihatku. Mungkin setelah punya anak, hatinya berubah. Tapi malam ini aku sadar… aku tidak bisa membesarkan anakku sambil terus mengemis kasih sayang dari pria yang tidak pernah melihatku sebagai manusia."

Nisa kembali duduk di sampingku. Kali ini ia memelukku. Hangat, erat, tanpa banyak kata. Pelukan itu membuat tangisku pecah. Bukan tangis cantik yang tertahan, tapi tangis seorang perempuan yang terlalu lama pura-pura kuat.

"Maaf," ucapku di sela isak. "Aku datang mendadak. Aku benar-benar tidak tahu harus ke mana."

"Jangan minta maaf," jawab Nisa tegas. "Kamu datang ke tempat yang benar."

Aku menatapnya dengan mata kabur.

"Tapi aku tidak mau merepotkanmu, Nis. Aku cuma butuh tempat menginap beberapa hari. Setelah itu aku cari kontrakan kecil. Aku bisa kerja apa saja setelah melahirkan—"

"Diam dulu," potong Nisa. "Malam ini kamu tidak perlu memikirkan apa pun selain istirahat."

Aku menunduk. Ada malu yang menyelinap, tapi lebih besar dari itu, ada rasa lega yang hampir asing bagiku.

Nisa memanggil asisten rumah tangganya. "Siapkan kamar tamu yang dekat kamarku. Ambilkan baju tidur yang longgar. Buatkan susu hangat juga."

"Kamar tamu?" gumamku cepat. "Nis, aku bisa tidur di sofa saja."

Nisa menatapku tajam. "Hana, kamu sahabatku. Mana tega aku membiarkanmu tidur di sofa dalam keadaan hamil seperti ini."

Kata itu menampar bagian hatiku yang sudah terlalu lama merasa tidak punya tempat.

Aku kembali menangis diam-diam.

"Kamu aman di sini, Hana."

Malam itu, saat aku masuk ke kamar tamu, aroma seprai bersih menyambutku. Aku duduk di tepi ranjang, menatap koperku yang diletakkan di sudut kamar. Rasanya aneh. Aku pergi dari rumah suamiku, tapi justru di tempat asing ini napasku terasa lebih lapang.

Nisa berdiri di ambang pintu.

"Aku di kamar sebelah. Kalau perutmu sakit atau kamu butuh apa pun, ketuk pintu. Jangan sungkan."

"Terima kasih, Nis."

Ia tersenyum kecil, lalu wajahnya kembali serius.

"Besok pagi, ceritakan semuanya dari awal. Aku ingin tahu seberapa jauh luka yang sudah dia buat padamu."

Pintu tertutup pelan setelah ia pergi. Aku merebahkan tubuh perlahan, menghadap ke samping. Tanganku kembali mengelus perut.

"Nak… malam ini kita tidur di tempat orang baik."

Gerakan kecil terasa dari dalam sana. Aku tersenyum tipis di antara air mata.

Sementara itu, entah kenapa bayangan wajah Mas Dika melintas. Apakah dia sudah sadar aku pergi? Apakah dia akan mencariku? Atau justru ia merasa lega karena janji yang membelenggunya akhirnya lepas begitu saja?