Namanya Kezia Andara. Anak Direktur Utama perusahaan tempat Aditya bekerja.

Rara mengetahuinya bukan dari mulut Aditya, tapi dari Wulan—teman lamanya yang bekerja di HRD perusahaan yang sama—yang mengiriminya foto tanpa diminta tiga hari setelah malam konfrontasi itu.

Foto candid dari kantin kantor: Aditya dan seorang perempuan berhijab modis dengan sepatu hak dua belas sentimeter, tertawa bersama di meja sudut. Bagaimana cara orang tertawa di depan seseorang yang mereka sukai—terbuka, tidak berjaga—sangat berbeda dari cara Aditya tertawa di depan Rara dalam tiga tahun terakhir.

*Sudah berapa lama ini berlangsung?* Rara tidak bertanya.

Tidak ada gunanya. Cerai sudah diajukan. Kertas-kertas sudah diurus pengacara Aditya dengan kecepatan yang membuktikan ini bukan keputusan tiba-tiba.

Yang lebih menyakitkan datang di hari keempat.

"Kontrak kontrakan ini atas nama saya," ucap Aditya di depan pintu, saat Rara sedang mengepak bumbu-bumbu ke dalam kardus. "Saya butuh kamar ini paling lambat akhir bulan."

Rara meluruskan tubuhnya. "Ini juga rumah saya."

"Rara." Nada Aditya seperti menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah dimengerti. "Saya yang bayar kontrakan ini dari awal. Saya yang punya hak."

"Selama dua tahun pertama, iya. Satu tahun terakhir, uang katering saya yang bayar lebih dari setengahnya." Rara menatapnya tenang. "Kamu ingat?"

Aditya tidak ingat. Atau memilih untuk tidak ingat.

"Akhir bulan," ulanginya, lalu pergi.

---

Rara menghabiskan dua malam tidur di dapur sewa kecil yang selama ini dia gunakan untuk produksi Dapur Sekar—sebuah ruko tua di Jalan Tambak Sari yang disewa bersama Wulan dengan harga murah karena atapnya bocor di musim hujan. Kasur tipis digulung di pojok antara kulkas besar dan rak bumbu. Bau minyak goreng tidak pernah benar-benar hilang.

Wulan datang di malam pertama dengan mi instan dan ekspresi yang menahan banyak hal.

"Kamu nggak mau lapor polisi soal pengusiran paksa?" tanya Wulan.

"Secara teknis dia tidak salah. Nama di kontrak memang dia."

"Secara teknis kamu sudah bayar setengah—"

"Wulan." Rara menuang air mendidih ke mangkuk mi. "Aku mau fokus ke Dapur Sekar dulu. Satu hal dalam satu waktu."

Wulan menatapnya lama. "Kamu nggak menangis ya?"

"Sudah menangis di toilet gedung Cakra hari pertama." Rara mengaduk mi-nya. "Habis jatah."

Wulan tertawa kecil—tawa yang setengah kagum, setengah sedih. "Dasar kamu."

Tapi malam itu, setelah Wulan pulang dan dapur itu sunyi kecuali suara kulkas yang berdengung, Rara membuka tas besarnya dan menemukan sesuatu di saku dalam yang hampir tidak pernah dia buka.

Selembar kertas cokelat tua. Terlipat empat, sudah agak kusut di tepinya.

Peta.

Bukan peta cetak—peta tangan. Digambar dengan bolpoin hitam yang tidak terlalu tebal, oleh tangan yang lebih terbiasa membentuk tanah liat daripada menulis. Garis-garis tidak lurus sempurna, label ditulis dalam huruf kapital kecil: *SURABAYA → PORONG → PASURUAN → PROBOLINGGO → SITUBONDO → BANYUWANGI.*

Di bawah rute itu, sebuah gambar kecil: rumah sederhana dengan asap mengepul di atasnya, dan tulisan *INI RUMAH IBU*.

Di bagian paling bawah, tulisan tangan yang lebih besar dari yang lain:

*Kalau kamu hilang, Rara, ini jalannya pulang. — Ibu*

Rara melipatnya kembali dengan hati-hati. Memasukkannya ke saku celemek—dekat dengan tubuhnya.

Dia belum menelepon ibunya sejak kabar cerai itu. Belum sanggup mendengar suara Bu Lastri, karena begitu suara itu terdengar, Rara tahu dia akan benar-benar menangis dan tidak akan bisa berhenti.

Besok. Dia akan menelepon besok.

Tapi pesanan besok ada dua puluh porsi yang harus selesai sebelum jam delapan pagi.

Rara menarik kasur tipisnya keluar dari sudut, merebahkan diri di antara kulkas dan rak bumbu, dan menatap langit-langit dapur yang catnya mulai mengelupas.

*Satu hal dalam satu waktu,* katanya pada dirinya sendiri.

Rara membuka buku catatan pesanannya di antara bumbu-bumbu, mengecek daftar pengiriman besok. Tiga pesanan. Empat puluh tiga porsi total. Itu cukup untuk bayar sewa dapur bulan ini, dengan sisa kecil yang bisa dia simpan. Dia tidak pernah mengira bahwa kegiatan menghitung uang bisa terasa seperti nafas dalam yang akhirnya bisa dihirup penuh. Tapi begitulah—ketika yang dipunya hanya cukup, cukup terasa sangat besar.

Bersambung ke Bab 3...