Rara sedang mengemas dua puluh porsi nasi kotak ketika Ibu Mira Pranata masuk ke dapur sewa itu tanpa mengetuk.
Wulan tidak ada—sedang keluar belanja bahan. Rara sendirian dengan kompor, celemek, dan dua puluh kotak yang perlu selesai dalam empat puluh menit.
"Ini tempatmu bekerja?" Suara Ibu Mira kering seperti biasanya, matanya menyapu dapur yang memang kecil dan tidak mewah itu. Atap yang agak rendah. Cat tembok yang sedikit kusam. Rak bumbu dari besi yang digantung dengan kawat.
"Iya, Bu." Rara tidak berhenti mengemas. "Silakan duduk kalau mau."
"Tidak usah." Ibu Mira berdiri di dekat pintu, tasnya digenggam dengan kedua tangan—postur orang yang tidak berencana tinggal lama. "Saya ke sini untuk bicara soal barang-barang di kontrakan."
Rara memasukkan sendok plastik ke dalam kotak. "Barang-barang saya sudah saya ambil, Bu."
"Bukan barang kamu. Kompor gas dua tungku yang ada di dapur—itu beli pakai uang Aditya. Kulkas kecil di kamar juga. Kursi meja makan—"
"Saya yang beli semuanya, Bu." Rara menutup satu kotak, mengambil yang berikutnya. "Dengan uang dari katering. Ada nota pembeliannya kalau ibu mau lihat."
Hening sejenak.
"Tidak mungkin. Aditya yang menghidupi rumah tangga itu."
"Dua tahun pertama, iya. Satu tahun terakhir, penghasilan Dapur Sekar yang menutupi sebagian besar pengeluaran rumah tangga—termasuk kontrakan." Rara tetap tidak mendongak. Tangannya terus bergerak. "Saya punya buktinya, Bu. Transfer rekening, nota, semua tercatat."
Ibu Mira mendekat selangkah. "Kamu jangan berlagak—"
"Bu Mira." Rara akhirnya berhenti. Menaruh kotak di meja. Berbalik menghadap mertuanya. Suaranya tetap datar. "Saya tidak berlagak apa-apa. Saya hanya menyampaikan fakta. Kalau ibu mau mempermasalahkan aset, silakan lewat jalur hukum. Pengacara saya siap menerima panggilan."
Ibu Mira terdiam. Mungkin tidak menyangka anak menantu yang selalu tersenyum sopan itu bisa berbicara seperti ini.
"Kamu pikir kamu bisa menantang keluarga kami?"
"Saya tidak menantang siapa-siapa." Rara mengambil kotak berikutnya. "Tapi saya juga tidak akan memberikan yang bukan hak orang lain hanya karena diminta dengan keras."
Keheningan yang panjang. Ibu Mira memandangi dapur itu sekali lagi—seperti sedang mencari sesuatu untuk dijadikan senjata, tapi tidak menemukannya.
"Kamu akan menyesal," ucapnya akhirnya.
"Mungkin." Rara menutup kotak dengan pita selotip. "Atau mungkin tidak. Kita lihat saja nanti."
Ibu Mira pergi tanpa menutup pintu.
---
Wulan kembali dua menit kemudian, berdiri di ambang pintu dengan kantong belanja di kedua tangan, memandangi Rara yang sudah kembali mengemas dengan tenang.
"Itu tadi Bu Mira, bukan?"
"Iya."
"Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa." Rara menghitung kotak—delapan belas. Kurang dua. "Wul, kamu tadi beli ayam berapa kilo?"
"Ra."
"Dua kilo masih kurang satu ya?"
"Rara." Wulan meletakkan kantong belanjaannya, mendekati Rara, memegang bahunya. "Kamu boleh marah."
Rara berhenti. Menatap Wulan. Lalu menghela napas panjang yang terasa seperti udara dari tiga tahun yang mampat di dadanya.
"Nanti," ucapnya pelan. "Biarkan saya selesaikan pesanan ini dulu."
Karena tiga tahun terakhir telah mengajarkan Rara satu hal: perasaan bisa menunggu. Rantang tidak bisa.
Setelah dapur sepi kembali, Rara duduk sebentar dan mengeluarkan buku catatannya. Dia menulis nama Ibu Mira di halaman kosong, lalu di sebelahnya menulis dua kolom: *yang sudah terjadi* dan *yang perlu dilakukan*. Kolom pertama panjang. Kolom kedua pendek—hanya satu baris: *Dokumentasikan semua bukti pembelian peralatan.* Itu saja. Yang lain tidak perlu dituliskan karena sudah ada di kepala dan tidak akan ke mana-mana.
Bersambung ke Bab 6...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar