Rara baru saja menurunkan dua susun rantang dari bak motor pengiriman saat ponselnya bergetar.
Dia menjepit ponsel di antara telinga dan bahu, tangannya masih meluruskan tumpukan kotak putih bertuliskan *Dapur Sekar – Masakan Nenek, Tampilan Kekinian*. Aroma ayam bumbu rempah menyebar di udara parkiran basement gedung itu, mengingatkannya bahwa dia belum makan sejak subuh.
**Aditya – 12.37**
*Aku butuh bicara serius nanti malam.*
Rara memasukkan ponsel ke saku celemek. Nanti malam. Berarti dia perlu menyelesaikan semua pengiriman lebih cepat.
Dia tidak tahu kalimat itu adalah awal dari kehancuran yang sudah diam-diam dipersiapkan suaminya selama enam bulan terakhir.
Lift terbuka. Rara mendorong troli ke lobi lantai dua belas, tersenyum ramah pada resepsionis yang sudah hafal wajahnya.
"Bu Rara, pesanan untuk meeting jam satu ya?"
"Betul. Empat puluh porsi, sudah termasuk vegetarian tiga porsi."
"Rapi banget plating-nya. Pakai piring tanah liat lagi?"
"Gerabah Banyuwangi." Rara membuka satu kotak, memperlihatkan nasi liwet yang disajikan di atas cobek mini berwarna terakota. "Beda itu penting, Bu."
Resepsionis itu tersenyum kagum. Rara menata pesanan di atas meja buffet sambil menghitung dalam kepala—empat puluh porsi kali tujuh puluh ribu, dikurangi bahan baku dan ongkos motor, tersisa sekitar satu juta dua ratus. Cukup untuk bayar sewa dapur bulan ini.
Ponselnya bergetar lagi.
**Aditya – 13.02**
*Rara, kita perlu serius bicara. Aku minta cerai.*
Kotak terakhir terlepas dari tangannya. Bunyi *duk* yang tidak keras, tapi cukup untuk membuat resepsionis menoleh.
"Bu Rara? Tidak apa-apa?"
Rara memungut kotak itu. Mengambil napas. Membaca ulang pesan itu tiga kali, memastikan dia tidak salah baca.
*Aku minta cerai.*
Empat kata. Dikirim via WhatsApp. Tanpa tanda tanya, tanpa "maaf", tanpa penjelasan apa pun.
Tiga tahun pernikahan. Tiga tahun dia meninggalkan pekerjaan tetapnya di Banyuwangi, meninggalkan ibunya, meninggalkan rumah tanah liat yang selalu berbau gerabah basah itu. Tiga tahun dia memasak sendirian di kontrakan dua kamar di Surabaya karena Aditya "sibuk" hampir setiap malam.
Empat kata lewat WhatsApp.
Jari-jarinya mengetik *Kita bicara di rumah.* Lalu dia memasukkan ponsel ke saku, menyelesaikan penataan buffet, tersenyum pada resepsionis, dan baru menangis di toilet gedung itu—diam-diam, dengan air keran menyala agar tidak ada yang mendengar.
Di cermin, dia menatap bayangan dirinya sendiri: celemek putih dengan logo Dapur Sekar di dada, rambut dikuncir rendah, mata yang baru saja mulai memerah. Wanita yang datang ke kota orang demi mengikuti suami yang sudah tidak mencintainya.
"Pulang dulu, Rara," bisiknya pada bayangan itu. "Selesaikan dulu kerjaanmu."
Karena Dapur Sekar punya tiga pengiriman lagi hari ini. Dan Rara Sekarwati tidak pernah membatalkan pesanan.
---
Rumah—kontrakan dua kamar di Gubeng Permata yang namanya terlalu mewah untuk kondisinya—terasa berbeda malam itu. Aditya sudah di dalam. Koper kecil berwarna biru tergeletak di dekat pintu masuk.
Rara berdiri di ambang pintu, matanya beralih dari koper itu ke wajah Aditya yang tidak bisa dia baca.
"Kamu mau kemana?" tanyanya pelan.
"Kita perlu bicara, Rara."
"Aku tau. Kamu sudah bilang lewat WhatsApp." Suaranya lebih stabil dari yang dia bayangkan. "Jadi ini serius?"
Aditya tidak menjawab langsung. Dia memandang ke sudut ruangan, ke dinding tempat Rara menggantung jadwal produksi Dapur Sekar yang ditulis tangan, ke rak kecil berisi toples bumbu berlabel dengan tulisan Rara. Lalu ke Rara.
"Kita sudah tidak cocok. Aku rasa kita sama-sama merasakan itu."
"Aku tidak merasakannya."
"Rara—"
"Jelaskan dulu." Rara meletakkan tasnya. Tidak gemetar. "Tidak cocok karena apa?"
Hening. Dan dalam hening itu, Rara mendapat jawabannya sendiri. Bukan dari kata-kata Aditya, tapi dari cara dia tidak bisa menatap matanya. Dari bau parfum asing yang menempel samar di kerah kemejanya. Dari kenyataan bahwa sudah enam bulan ini Aditya selalu pulang setelah dia tidur.
"Siapa orangnya?" tanya Rara.
"Tidak ada—"
"Aditya." Cukup satu kata. Dan suaminya itu akhirnya menunduk.
Bersambung ke Bab 2...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar