Rara tidak bermaksud melihatnya.

Itu adalah pengiriman biasa—katering makan siang untuk tim kreatif sebuah agensi di Jalan Basuki Rahmat, tiga puluh porsi dengan menu nasi gurih dan ayam bakar kecap. Lift gedung itu kebetulan berhenti di lantai lima, dan ketika pintunya terbuka, Rara tidak langsung keluar karena sedang menyeimbangkan tumpukan kotak di tangannya.

Dari celah antara troli dan dinding lift, dia melihat ke arah restoran di lantai itu—restoran yang dia tahu harga lunasnya bisa membeli setengah bulan produksi Dapur Sekar.

Dan di meja sudut dekat jendela, dua orang duduk berhadapan.

Aditya.

Dan seorang perempuan dengan hijab pastel, tas bermerk yang tergantung santai di sandaran kursi, tertawa pada sesuatu yang Aditya katakan. Cara dia menyentuh lengan Aditya—ringan, seperti sudah terbiasa—membuat Rara mengerti bahwa ini bukan pertemuan pertama mereka.

Lift menutup kembali. Otomatis.

Rara diam di dalam lift itu satu detik penuh sebelum menekan tombol lantai tujuh—tujuannya yang sebenarnya. Perutnya terasa seperti dipelintir, tapi tangannya tidak gemetar saat mendorong troli keluar ke lantai tujuh dan menyerahkan pesanan kepada resepsionis.

"Ini nota pembayarannya ya, Mbak. Tanda tangan di sini."

Resepsionis menandatangani, menyerahkan amplop yang sudah disiapkan—pembayaran cash seperti biasa.

"Mbak baik-baik saja? Mukanya agak pucat."

"Kena AC terlalu kuat," jawab Rara sambil tersenyum. "Biasa."

---

Di motor, di parkiran basement yang remang, Rara menghitung uang di amplop itu dua kali. Dua juta satu ratus ribu. Pesanan terbesar Dapur Sekar dalam sebulan ini.

Dia masukkan uang itu ke dalam tas kecil yang selalu terkunci di bawah jok motor—tas yang sama dengan yang Bu Lastri belikan saat Rara pertama masuk SMA, dengan klip logam yang sudah sedikit berkarat tapi masih kuat.

Lalu dia mengeluarkan ponselnya.

Bukan untuk mengirim pesan pada Aditya. Tapi untuk membuka aplikasi pencatatan keuangan yang dia buat sendiri di Google Sheets—catatan setiap pemasukan dan pengeluaran Dapur Sekar sejak hari pertama.

Scroll ke atas. Ke bulan pertama, delapan belas bulan lalu, ketika pemasukan pertama Dapur Sekar hanya empat ratus ribu rupiah dari satu pesanan sarapan.

Lalu ke bulan ini. Dua puluh tiga juta rupiah pemasukan kotor, sebelum dikurangi bahan baku dan operasional.

Rara mengambil napas panjang.

Tidak ada yang bisa merebut angka-angka ini darinya. Tidak Aditya, tidak perempuan di restoran lantai lima itu, tidak siapa pun.

Ini adalah bukti dari tiga tahun yang tidak sia-sia—bukan tiga tahun pernikahannya, tapi tiga tahun dia membangun sesuatu yang nyata dari tangan kosong di kota orang.

Motornya menyala. Masih ada dua pengiriman lagi sebelum jam tiga sore.

---

Malam itu, Wulan mengiriminya foto tanpa komentar. Foto candid dari kantin kantor, Aditya dan perempuan yang sama di restoran lantai lima.

Di bawah foto, satu kalimat Wulan: *Namanya Kezia Andara. Anaknya Pak Direktur Gunawan.*

Rara membalas dengan satu emoji—jempol ke atas.

Wulan langsung voice note, suaranya antara heran dan khawatir: "Ra, kamu baik-baik aja?? Baru ku kirimin bukti selingkuh suamimu dan kamu oke aja??"

Rara mengetik: *Aku sudah tau sejak tiga hari lalu. Makasih infonya, Wul. Istirahat yang baik ya.*

Dia mematikan layar ponsel, melihat catatan pesanan besok yang sudah dia tempel di kulkas dapur sewa itu, dan mulai menyiapkan bumbu untuk pagi.

Yang perlu dimengerti tentang Rara Sekarwati: dia tidak hancur. Dia hanya sedang mengumpulkan semua yang tersisa, memilah mana yang masih bisa dipakai dan mana yang harus ditinggal.

Seperti gerabah yang retak—bukan dibuang, tapi dijadikan pecahan mosaik yang baru.

Di parkiran itu, sebelum menstarter motor, Rara membuka aplikasi catatan di ponselnya dan mengetikkan satu kalimat yang kadang dia tulis ketika butuh mengingat sesuatu yang penting: *Bisnis ini bukan karena siapa pun. Ini karena aku sendiri memilih memulainya.* Dia simpan catatan itu, masukkan ponsel ke saku, dan menghidupkan mesin.

Bersambung ke Bab 5...