Ada yang perlu dipahami tentang keputusan Rara Sekarwati tiga tahun lalu: itu bukan keputusan bodoh.

Waktu itu dia berusia dua puluh lima tahun, punya pekerjaan tetap sebagai pengawas kualitas di pabrik keramik Banyuwangi, penghasilan cukup untuk membantu Bu Lastri, dan tabungan kecil yang dia jaga ketat sejak SMA. Dia bukan perempuan yang bertindak tanpa pikir.

Aditya Pranata datang dengan cara yang tampak serius. Melamar resmi. Menemui Bu Lastri, duduk di kursi plastik di teras rumah tanah liat itu, berbicara sopan dengan bahasa Jawa halus yang rupanya memang dia persiapkan. Menjanjikan kehidupan lebih baik di Surabaya—"Kota lebih besar, peluang lebih banyak, Bu."

Dan Bu Lastri, yang sudah sendirian sejak bapak Rara meninggal ketika Rara kelas dua SMP, yang lututnya mulai sakit dan tidak bisa duduk terlalu lama di depan meja putar gerabah, berkata pada putrinya malam sebelum akad:

"Pergi kalau memang mau pergi, Nduk. Ibu tidak menahan. Tapi ingat ini—" Dia menyerahkan lipatan kertas cokelat tua itu. "Kalau kamu hilang, ini jalannya pulang."

Rara pergi.

Dia mengundurkan diri dari pabrik keramik. Menutup kontrak kerjanya—kontrak dengan klausul yang menyebutkan dia tidak boleh membuka usaha serupa dalam radius lima puluh kilometer dari Banyuwangi selama dua tahun, tapi itu tidak relevan karena dia mau ke Surabaya.

Enam bulan pertama di Surabaya, Rara bekerja di katering orang lain. Membantu di dapur catering Bu Tien di Wonokromo, belajar skala produksi besar, mengenal selera pasar Surabaya yang berbeda dari Banyuwangi.

Setahun berikutnya, Aditya bilang dia tidak perlu kerja. "Gajinya sudah cukup. Kamu masak di rumah saja, itu sudah cukup."

Tapi Rara tidak betah diam. Selama Aditya berangkat pagi dan pulang malam, dia memasak. Bereksperimen. Mengingat semua yang diajarkan ibunya tentang rempah dan resep turun-temurun. Lalu suatu hari Wulan menelepon: "Ra, ada teman kantorku yang cari katering makan siang buat acara kecil. Kamu bisa?"

Dia bisa.

Dari satu pesanan itu, dua pesanan datang. Lalu lima. Lalu Rara membuat akun Instagram yang isinya foto makan siang di cobek gerabah kecil yang dia beli di pasar gerabah Banyuwangi waktu pulang kampung—tampilan yang berbeda dari katering biasa, yang biasanya hanya menggunakan kotak plastik putih.

Komentar pertama di foto itu: *Unik banget wadahnya! Pesan dong!*

Begitulah Dapur Sekar lahir. Bukan dengan modal besar atau rencana bisnis matang—hanya dari rasa tidak betah diam dan gerabah dari kampung halaman.

---

Aditya, pada waktu itu, mendukung. Atau setidaknya tidak melarang.

"Asal tidak mengganggu rumah tangga," katanya.

Dan Rara memastikan itu. Dia menyewa dapur ruko Wulan karena tidak mau produksi di kontrakan. Dia mengerjakan pesanan saat Aditya di kantor. Dia selalu pulang sebelum Aditya sampai rumah, memastikan makan malam sudah siap.

Dia melakukan semua itu sambil membangun bisnis dari nol, sambil mentransfer uang ke Bu Lastri setiap bulan, sambil merindukan Banyuwangi dengan intensitas yang tidak pernah dia akui pada siapa pun.

Yang tidak dia perhatikan—atau lebih tepatnya, yang dia abaikan karena terlalu lelah untuk menghadapinya—adalah bagaimana Aditya semakin sering tersenyum hanya pada layar ponselnya. Bagaimana dia mulai menelepon di ruang tamu sementara Rara di kamar. Bagaimana "lembur" yang dulu sesekali kini menjadi setiap Rabu dan Jumat.

Rara melihat semua tanda itu. Dia hanya memilih untuk fokus pada hal yang bisa dia kendalikan: kompor, bumbu, plating, pesanan.

Sekarang, tiga tahun setelah keputusan itu, dia berbaring di dapur sewa dengan peta tangan ibu di saku celemeknya, menyadari bahwa hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan juga perlu dihadapi pada waktunya.

Yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah kenyataan bahwa dia tidak pernah menceritakan keraguan-keraguan kecil itu pada siapa pun. Tidak pada Wulan, tidak pada Bu Lastri yang selalu berkata *ceritakan kalau ada yang berat*. Dia menyimpannya sendiri dengan keyakinan bahwa perasaan yang belum punya solusi lebih baik disimpan daripada dikeluarkan dan membuat orang lain ikut khawatir. Kebiasaan yang ternyata tidak sesehat yang dia pikir.

Bersambung ke Bab 4...