"Raka."

Suara itu memotong ruangan pukul dua siang. Semua kepala menunduk sedikit lebih dalam ke layar masing-masing — cara orang kantor berpura-pura tuli.

"Ya, Bu."

"Di laci meja saya ada map biru. Yang paling bawah. Ambilin."

Ada jeda. Satu detik penuh, cukup panjang untuk semua orang di ruangan itu mengerti bahwa map tersebut bisa diambil oleh siapa saja. Termasuk oleh Sekar sendiri, yang duduk tiga meter dari lacinya.

"Baik, Bu."

Raka berdiri. Dari ujung ruangan, Bram menahan senyum ke arah monitornya.


Di pantry, Pak Nardi sedang menuang air panas ke gelas plastik.

"Mas Raka." Dia menyodorkan satu gelas tanpa menoleh. "Ini kopi lebih satu. Buang sayang."

Kopi itu tidak lebih. Kopi itu selalu "lebih" setiap kali Raka lewat pantry, sudah delapan bulan, dan Pak Nardi tidak pernah sekali pun mengubah kalimatnya.

"Makasih, Pak."

"Lampu tangga darurat lantai empat udah saya ganti, ya," kata Pak Nardi, masih mengaduk. "Yang kemarin redup itu. Sekarang terang."

Raka berhenti sebentar, gelas plastik di tangan.

"Ganti kenapa, Pak?"

Pak Nardi mengangkat bahu. "Ya biar terang."

Dia tidak bilang karena Mas Raka sering di situ. Dia tidak pernah bilang. Dalam delapan bulan, Pak Nardi tidak pernah bertanya kenapa seorang staf audit berdiri sendirian di tangga darurat, kadang lima menit, kadang dua puluh, kadang sambil memegang pegangan besi seperti orang di kapal.

Dia cuma menggantinya dengan lampu yang lebih terang.

"Kopinya kurang manis, ya?"

"Pas, Pak."

"Bohong."

"Iya, Pak."

Pak Nardi tertawa pendek, tanpa suara, cuma bahunya yang naik turun.

"Mas Raka nggak pernah ke kantin, ya?"

"Kadang."

"Kadang itu berapa?"

Raka berpikir sebentar. "Kadang."

Pak Nardi mengangguk, seolah itu jawaban yang masuk akal, dan tidak menanyakan apa pun lagi.

"Diminum, Mas," katanya. "Keburu dingin."


Laci paling bawah meja Sekar tidak terkunci.

Raka membukanya, dan laci itu terbuka seperti laci mana pun di gedung mana pun: pelan, agak seret di rel kanan, mengeluarkan bunyi yang hanya bisa didengar orang yang berlutut di depannya.

Isinya biasa saja. Kotak klip. Kalkulator lama yang tombol nolnya sudah putih. Setumpuk map — biru di paling atas, persis seperti yang dibilang. Sebungkus permen mint. Charger yang kabelnya digulung dengan rapi berlebihan, digulung oleh orang yang perlu ada satu hal di hidupnya yang rapi.

Raka mengulurkan tangan ke map biru itu.

Lalu tangannya berhenti.

Di dasar laci, di bawah semuanya, tergeletak sebuah papan nama meja. Plastik hitam. Murah. Jenis yang dijual di toko alat tulis dekat stasiun, yang hurufnya timbul warna putih dan sudutnya selalu mengelupas setelah setahun.

HARDIMAN AYUNINGTYAS Auditor Internal

Ada debu tipis di seluruh permukaannya.

Kecuali di dua titik. Sisi kiri dan sisi kanan.

Bekas ibu jari dan telunjuk.

Seseorang memegangnya. Sering. Diambil, dipegang, ditaruh lagi. Berkali-kali, selama entah berapa lama, oleh orang yang tidak pernah membawanya pulang dan tidak pernah membuangnya.

Raka tidak menyentuhnya.

Dia mengambil map birunya pelan, dari atas, seperti orang mengangkat sesuatu dari air tanpa membuat riak. Lalu dia menutup laci itu.

Sangat hati-hati.

Seperti menutup peti.


"Lama amat."

"Maaf, Bu."

"Tiga menit buat satu laci."

"Rel-nya seret, Bu."

"Rel-nya seret," ulang Sekar, pelan, seperti sedang mencatat sesuatu.

Sekar mengambil map itu tanpa melihat ke arahnya. "Lain kali lima belas detik. Bukan tiga menit."

"Baik, Bu."

"Kamu tau kenapa saya suruh kamu?"

Raka mengangkat wajahnya. "Karena saya paling deket, Bu?"

"Kamu duduk paling jauh."

"Oh."

"Karena ini satu-satunya kerjaan yang saya yakin kamu nggak bisa bikin salah," kata Sekar. "Buka laci. Ambil map. Tutup laci."

Ruangan itu diam. Bukan diam yang tertawa. Diam yang lain, yang lebih buruk, di mana semua orang tiba-tiba sibuk sekali dengan layar masing-masing.

Raka tersenyum. Tepat waktu. Dua sentimeter.

"Siap, Bu."

Dia berbalik, berjalan melewati mejanya sendiri tanpa berhenti, membuka pintu tangga darurat, dan naik setengah lantai.


Di antara lantai empat dan lantai lima, dia berhenti.

Tempat itu sempit dan berbau semen dan tidak pernah didatangi siapa pun kecuali kalau ada kebakaran, dan tidak pernah ada kebakaran. Dari sini dia bisa mendengar samar bunyi lift, dan tawa dari lantai lima, dan sesuatu yang bergetar di dalam dinding.

Lampunya terang sekarang.

Raka memegang pegangan tangga besi itu dengan kedua tangan sampai buku-buku jarinya putih, dan berdiri di sana.

Dua puluh menit.

Dia tidak menangis. Dia tidak duduk. Dia tidak bersuara sama sekali. Dia cuma berdiri, dengan kepala sedikit menunduk, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang sudah lewat tiga tahun lalu dan tidak akan datang lagi.

Sekali, tangannya bergerak — naik, setengah jalan, ke arah dadanya.

Lalu turun lagi.

Pukul 14.31, dia melepaskan pegangan itu, mengibaskan tangannya dua kali supaya darahnya kembali, dan turun.

Dia memasang senyumnya di anak tangga terakhir.

Lalu membuka pintu, dan kembali bekerja, dan mengerjakan tiga hal sekaligus sampai pukul tujuh malam, dan tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang tahu bahwa dia baru saja berdiri dua puluh menit di sebuah tangga.


Dari balik kaca ruangannya, Sekar melihat pintu tangga darurat itu menutup.

Dia melirik jam di sudut layarnya. Lalu kembali mengetik.

Dua puluh menit kemudian, waktu pintu itu terbuka lagi, dia melirik jam sekali lagi.

Dua puluh menit, pikirnya. Ngerokok. Atau tidur di tangga.

Dia membuka dokumen baru dan mulai menyusun agenda rapat besok pagi. Di poin nomor empat, dia mengetik satu nama.

Lalu dia menghapusnya, dan mengetiknya lagi di poin nomor satu.

Biar semua orang masih segar.

Di dalam laci di seberang ruangan, papan nama plastik seharga tiga puluh ribu rupiah kembali gelap. cek

genda rapat besok pagi. Di poin nomor empat, dia mengetik satu nama.

Lalu dia menghapusnya, dan mengetiknya lagi di poin nomor satu.

Biar semua orang masih segar.

Di dalam laci di seberang ruangan, papan nama plastik seharga tiga puluh ribu rupiah kembali gelap. cek