Pukul enam empat puluh, dan Raka sudah di lantai empat.
"Pagi, Mas Raka." Satpam lobi sudah lama berhenti meminta kartunya.
"Pagi, Pak Yus."
"Paling pagi terus. Nggak ada capeknya."
"Jalanan sepi, Pak."
"Alasan," kata Pak Yus, dan membuka palang itu tanpa menoleh.
Dia selalu yang pertama. Bukan karena rajin — karena kos ke kantor cuma dua puluh menit kalau berangkat sebelum jalanan hidup, dan karena gedung kosong adalah satu-satunya tempat di mana dia tidak perlu memasang apa pun di wajahnya.
Dia menyalakan AC. Membetulkan roda kursi ruang rapat yang macet sejak Februari, yang sudah tiga kali dilaporkan ke GA dan tiga kali dijawab nanti dijadwalkan. Memukul pelan sisi kiri mesin fotokopi dua kali, di titik yang sama, dan mesin itu berdehem lalu hidup.
Tidak ada yang tahu bahwa mesin fotokopi lantai empat sudah tiga tahun tidak pernah diservis. Yang mereka tahu, mesin itu memang begitu — kadang ngambek, kadang tidak. Tidak ada yang menghubungkan pola ngambeknya dengan jam datang seorang staf audit.
Pukul 07.02, dia membuka laporan konsolidasi yang akan naik ke direksi hari itu.
Bukan tugasnya. Namanya tidak ada di daftar penyusun. Dia bahkan tidak diberi akses folder finalnya — tapi tim mengirim salinannya ke milis divisi kemarin sore, dan milis divisi tidak pernah tahu siapa yang membaca.
Pukul 07.09, dia menemukannya.
Lampiran empat, halaman sebelas, baris tiga puluh dua. Satu formula menarik angka dari kuartal yang salah. Efeknya kecil di kertas — satu koma empat miliar — tapi di mata direksi selisih itu tidak akan terbaca sebagai salah rumus.
Selisih itu akan terbaca sebagai sesuatu yang sengaja ditaruh di situ.
Dan yang tanda tangan di halaman depan adalah Sekar Ayuningtyas.
Raka duduk diam beberapa detik, tangannya di atas meja, tidak bergerak.
Lalu dia memperbaikinya.
Tujuh menit. Dia mengganti rujukan selnya, menghitung ulang tiga lampiran yang ikut bergeser, memeriksa apakah pergeseran itu merusak dua tabel di halaman lain, mencetak halaman penggantinya, membuang halaman lama ke mesin penghancur, dan menyelipkan yang baru ke posisi semula. Dia merapikan tepi kertasnya supaya tumpukan itu terlihat tidak pernah disentuh siapa pun.
Pukul 07.16, laporan itu kembali ke meja Sekar. Sudut yang sama. Kemiringan yang sama. Jarak dari tepi meja yang sama.
Raka membaca sampai halaman terakhir. Selalu. Setiap dokumen, setiap lampiran, setiap catatan kaki, sampai baris yang tidak ada gunanya dibaca siapa pun.
Orang-orang di kantor mengira itu ketelitian.
"Wih. Masih di sini."
Bram menaruh tasnya di meja seberang tanpa melihat ke arah Raka waktu bicara. Itu ciri khasnya — menghina tanpa menatap, seperti orang membuang bungkus permen sambil jalan.
"Pagi, Bram."
"Kirain semalem udah resign." Bram menarik kursinya, duduk, menyalakan monitor. "Abis dijadiin pembaca puisi di rapat kemaren, biasanya orang malu."
Beberapa kepala terangkat. Ada yang tertawa kecil — cukup keras untuk terdengar, cukup pelan untuk bisa disangkal kalau ditanya.
"Tiga kali lho," lanjut Bram, sekarang menoleh. "Tiga kali, Ka. Aku aja yang nonton ikut keringetan."
"Empat, sebenernya."
Bram berhenti. "Hah?"
"Yang pertama nggak dihitung. Suaranya kekecilan."
Ruangan itu diam setengah detik. Lalu Bram tertawa — terkejut, agak keras, tawa orang yang barangnya diambil dari tangannya.
"Gila kamu," katanya. "Kalau aku, udah aku lempar mejanya."
"Mejanya berat."
"Ya lempar kursinya."
"Rodanya macet."
"Serius deh." Bram menyandarkan punggungnya, dan untuk pertama kali pagi itu benar-benar menoleh. "Kamu nggak sakit hati?"
"Sakit hati tuh mahal, Bram."
"Mahal gimana?"
"Butuh waktu," kata Raka. "Aku nggak punya."
"Sibuk banget emang lu."
"Lumayan."
Bram tertawa lagi, kali ini benar-benar, dan menepuk mejanya sendiri, dan yang lain ikut tertawa. Tapi tawanya sudah berbeda. Tawa yang tidak enak, yang tidak tahu harus berpihak ke mana, yang mereda terlalu cepat.
Selesai. Delapan detik.
Raka menghitungnya. Selalu menghitungnya.
Itu selalu berhasil. Kalau kamu tertawa duluan, mereka kehilangan barangnya. Kalau kamu memberi mereka satu kalimat yang lucu, mereka akan mengambil kalimat itu dan lupa mereka datang untuk mengambil sesuatu yang lain.
Yang tidak pernah Raka ceritakan pada siapa pun: setelah delapan detik itu, tangan kanannya butuh kira-kira satu menit untuk berhenti.
Dia menurunkannya ke pangkuan, di bawah meja, dan membiarkannya di sana sampai selesai. Sambil mengetik dengan tangan kiri. Pelan-pelan. Tidak ada yang memperhatikan.
Tidak ada yang pernah memperhatikan.
Tidak pernah.
Rapat direksi selesai pukul sebelas lewat sepuluh.
Sekar keluar dari lift dengan map biru di tangan dan bahu yang lebih longgar dari biasanya. Aman. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada satu pun jari yang menunjuk ke lampiran empat.
"Bersih," katanya ke ruangan, dan ruangan itu bersorak kecil.
"Mantap, Bu!"
"Direksi nggak nanya apa-apa?"
"Nggak."
"Lampiran empat aman, Bu?" tanya seseorang dari belakang.
"Aman."
"Nggak ada yang nanya soal kuartalnya?"
"Nggak ada yang nanya apa-apa." Sekar melempar map itu ke mejanya. "Sekali-sekali kita lolos juga."
"Lampiran empatnya rapi banget, Bu," kata Bram. "Yang nyusun siapa?"
"Semua." Sekar melepas lanyard-nya. "Namanya juga tim."
"Tim kita emang teliti," kata Bram, sambil melirik ke ujung ruangan.
Sekar mengikuti arah lirikan itu.
Raka sedang menunduk di mejanya, mengetik sesuatu, punggungnya bungkuk seperti orang yang berusaha memakan ruang sesedikit mungkin.
"Teliti," ulang Sekar. Suaranya datar, tanpa penekanan sama sekali, yang justru membuatnya lebih tajam. "Kecuali satu orang."
Ruangan itu tertawa.
Raka mengangkat kepala, dan tersenyum. Dua sentimeter. Tepat waktu.
Sekar menutup pintu ruangannya dan bersandar.
Dia membuka map biru itu sekali lagi. Lampiran empat, halaman sebelas. Angkanya rapi. Cocok. Tidak ada apa-apa di sana, tidak pernah ada apa-apa, dan dia tidak akan pernah punya alasan untuk membuka halaman itu lagi seumur hidupnya.
Dia memejamkan mata sepuluh detik.
Dalam sepuluh detik itu, dia merasa hampir baik-baik saja.
Untung, pikirnya. Untung aku punya tim yang bener.
Lalu dia membuka mata, dan pikiran berikutnya datang seperti biasa. Otomatis. Tanpa diundang. Seperti napas.
Kalau ada satu orang di gedung ini yang nggak pernah teliti, itu Raka Pranaja.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar