Pukul dua pagi, dan Raka Pranaja sudah terjaga sejak setengah jam yang lalu.
Bukan bangun — dia tidak pernah benar-benar tidur sebelum pukul dua. Sudah empat ratus malam dia begini: berbaring menghadap langit-langit kamar kos yang catnya mengelupas membentuk peta sebuah negara yang tidak ada, dengan ponsel tergeletak didada. Menghadap ke atas. Selalu menghadap ke atas, karena kalau tengkurap dia harus membaliknya dulu, dan membalik butuh satu detik, dan satu detik itu terlalu lama.
Kalau ada yang bertanya kenapa lelaki tiga puluh satu tahun tidak tidur di jam orang tidur, Raka punya jawaban yang sudah dilatih. Insomnia. Kopi kesorean. Kerjaan menumpuk.
Tidak ada yang pernah bertanya.
Tenggorokannya masih sakit. Sejak sore, sebenarnya, dan dia sudah minum air hangat dua gelas dan itu tidak menolong sama sekali. Ada jenis sakit tenggorokan yang bukan karena sakit. Ada jenis yang datang karena kamu memaksa suaramu tetap rata padahal seluruh badanmu ingin melakukan hal lain.
Dia berbaring. Menunggu.
Empat ratus satu. Dia tidak menulisnya di mana pun — tidak ada coretan di dinding, tidak ada catatan di ponsel, tidak ada apa pun yang bisa ditemukan orang kalau suatu hari kamar ini digeledah. Angka itu cuma ada di kepalanya, bertambah satu setiap kali langit di luar mulai abu-abu.
Dia tidak pernah lupa. Orang tidak lupa menghitung utang.
Pukul 02.04, layar itu menyala.
Sekar: Aku hancurin dia lagi hari ini.
Raka membaca kalimat itu tiga kali. Bukan karena tidak paham — sekali saja sudah cukup paham. Tapi karena membaca pelan-pelan membuat malam terasa lebih panjang, dan malam yang panjang adalah satu-satunya hal yang dia punya.
Sekar: Di depan satu ruangan. Rapat divisi, lima belas orang. Sekar: Aku suruh dia baca ulang paragrafnya keras-keras. Tiga kali. Sekar: Yang ketiga aku suruh dia berdiri. Sekar: Apa aku jahat?
Jempol Raka bergerak di atas layar.
Iya.
Dihapus.
Nggak.
Dia menahan jempolnya di sana, mengambang, selama mungkin sepuluh detik. Di luar, di atap seng, ada kucing berkelahi lalu berhenti, dan gang itu kembali ke bunyinya yang biasa — kulkas tetangga, motor jauh, air yang menetes entah dari mana.
Fajar: Nggak. Dia pantas.
Balasan masuk dalam dua detik. Selalu dua detik. Perempuan itu tidak pernah menunggu, dan Raka menduga dia juga tidak pernah tidur.
Sekar: Kamu selalu bilang gitu. Fajar: Karena selalu bener. Sekar: Gimana kalau aku salah orang?
Kamu nggak salah orang.
Raka mengetiknya. Menatapnya. Menghapusnya. Kalimat itu terlalu pasti untuk keluar dari mulut orang asing, dan orang asing adalah satu-satunya hal yang boleh dia jadi.
Fajar: Kamu nggak akan sejauh ini kalau kamu salah.
Tiga menit tidak ada apa-apa. Raka sudah hafal jeda-jeda perempuan itu seperti orang menghafal jadwal kereta di stasiun yang dia lewati setiap hari selama bertahun-tahun. Yang tiga menit artinya dia mengetik lalu menghapus. Yang sepuluh menit artinya dia menangis dan tidak akan pernah mengaku.
Sekar: Yang bikin aku muak tuh, dia cuma senyum. Sekar: Aku suruh dia berdiri dan baca keras-keras di depan lima belas orang, dan dia senyum. Kayak nggak kenapa-napa. Sekar: Suaranya bahkan nggak goyang. Sekar: Orang normal marah, Jar. Atau minimal mukanya berubah dikit.
Dia berubah, pikir Raka. Kamu cuma lihat dua detik. Setelah itu kamu udah nunduk ke laptop.
Fajar: Mungkin dia emang nggak kenapa-napa. Sekar: Berarti dia nggak punya perasaan. Fajar: Mungkin.
Sepuluh menit.
Raka tidak bergerak. Dia menatap tiga titik yang muncul dan hilang, muncul dan hilang, dan tidak melakukan apa pun untuk mempercepatnya. Kadang yang paling dibutuhkan orang bukan jawaban. Cuma bukti bahwa di ujung sana ada yang masih menyala.
Sekar: Kadang aku takut sama diri aku sendiri. Sekar: Dulu aku bukan orang kayak gini.
Raka menutup matanya sebentar.
Fajar: Kamu tetep bukan orang kayak gini. Sekar: Terus aku ini apa? Fajar: Orang yang lagi nagih sesuatu. Itu beda.
Jeda. Yang tiga menit.
Sekar: Aku ngantuk. Sekar: Ini pertama kali dalam tiga hari. Sekar: Makasih ya. Sekar: Kamu selalu ada tiap aku butuh, dan aku bahkan nggak tau muka kamu.
Raka menatap kalimat terakhir itu lama sekali.
Fajar: Tidur.
Sekar: Iya, Pak. Sekar: Selamat malam, Fajar.
Layar padam sendiri setelah tiga puluh detik.
Kamar itu gelap lagi.
Raka bangun. Tiga langkah ke wastafel — kamar kosnya hanya butuh tiga langkah untuk apa pun. Di atas wastafel ada cermin kecil dengan retak di sudut kanan, bentuknya seperti petir yang berhenti di tengah jalan.
Dia menatap dirinya sendiri, dan wajah yang balas menatap itu adalah wajah orang yang belum tidur sejak hari Selasa.
Lalu dia tersenyum.
Bukan senyum yang datang sendiri. Senyum yang dipasang: sudut bibir naik dua sentimeter, mata ikut menyipit sedikit supaya tidak terlihat palsu, bahu diturunkan. Dia menahannya lima detik. Melepasnya. Memasangnya lagi.
Tujuh kali. Angka tujuh bukan pilihan. Tujuh adalah jumlah minimum sebelum otot pipinya berhenti melawan; dia tahu itu karena pernah mencoba lima, dan yang kelima masih terlihat seperti orang yang sedang berusaha.
Besok pukul sembilan, di ruang rapat lantai empat, senyum itu harus sudah siap. Tidak boleh gemetar. Tidak boleh terlambat sepersekian detik. Karena kalau senyum itu gagal satu kali saja, perempuan itu akan berhenti. Dan kalau perempuan itu berhenti, dia akan mulai bertanya kenapa.
Dan Raka tidak sanggup kalau perempuan itu bertanya.
Dia mematikan lampu.
Di atas meja, di dalam map plastik yang sudah dia siapkan sejak sore, ada laporan setebal dua belas halaman. Di sudut kanan atasnya ada tulisan tangan dengan tinta merah, hurufnya tajam dan miring ke kanan:
Baca ulang. Keras-keras.
Dan di bawah tulisan itu, tercetak rapi, nama orang yang tadi siang disuruh berdiri dan membacanya tiga kali di depan lima belas orang.
Raka Pranaja.
Malam keempat ratus satu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar