Minggu pagi, dan kos itu berteriak.
"MAS RAKA!"
Suara Bu Ijah bisa menembus tiga lantai dan satu tembok dan mungkin juga masa depan. Raka membuka pintunya dengan mata setengah terbuka dan mendapati enam orang berdiri di halaman, mengelilingi mesin pompa air seperti orang mengelilingi jenazah.
"Mati, Mas," kata Bu Ijah. "Dari subuh. Anak-anak belum mandi. Yang kamar sebelas udah dua hari nggak nyuci, baunya udah bisa diajak ngobrol."
"ENAK AJA!" teriak seseorang dari lantai dua.
"Ya buktinya!"
Raka jongkok di depan pompa itu, masih pakai kaus tidur, rambutnya ke mana-mana. Dia menempelkan telinganya ke badan mesin. Menekan tombolnya sekali. Pompa itu mengeluarkan bunyi seperti orang tua batuk kering, lalu diam.
"Kapasitornya, Bu."
"Kapasitor tuh apa?"
"Yang bikin dia semangat."
Bu Ijah mengangguk-angguk dengan wajah orang yang sama sekali tidak mengerti tapi merasa sangat dihormati karena sudah dijelaskan.
Dua bocah sudah berjongkok di samping Raka, menempel, dengan jarak yang sudah melewati batas sopan sejak sepuluh menit lalu.
"Om, itu apa?"
"Obeng."
"Om, itu apa?"
"Obeng juga."
"Kok ada dua?"
"Yang satu buat kalau yang satunya ilang."
Bocah itu mengangguk pelan, seperti baru saja menerima kebijaksanaan besar yang akan dia bawa seumur hidup.
"Om, itu kenapa gendut?"
"Karena udah tua."
"Om juga udah tua."
"Om belum gendut."
Bu Ijah tertawa sampai batuk.
Dua puluh menit. Raka melepas tutupnya, mencabut kapasitor yang badannya sudah menggembung di ujung, mengaduk-aduk kaleng bautnya, menemukan satu yang mendekati, memasangnya, dan mengetuk sisi pompa itu dengan pegangan obeng.
Dua kali. Di titik yang sama.
Pompa itu menyala.
Sekali. Langsung.
Kos itu bersorak. Betulan bersorak, seperti gol di menit terakhir. Bocah yang tadi bertanya melompat-lompat dan berteriak "AIRNYA IDUUUP" ke seluruh alam semesta. Seseorang di lantai dua bertepuk tangan sendirian. Bu Ijah mengangkat kedua tangannya ke langit dan menyebut nama Tuhan tiga kali berturut-turut.
Raka berdiri, mengelap tangannya ke celana, dan tertawa.
Tawanya keluar sendiri. Tidak diukur. Tidak dipasang. Tidak dihitung.
Di kos ini dia bukan siapa-siapa juga — tidak punya jabatan, tidak punya meja, tidak punya nama di papan mana pun. Bedanya, di sini tidak ada yang menuntut dia jadi siapa-siapa. Bu Ijah memanggilnya kalau ada yang rusak. Bocah-bocah memanggilnya kalau layangan nyangkut. Orang kamar sebelas memanggilnya kalau motornya tidak mau hidup.
Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bertanya dia kerja di mana.
Dan itu satu-satunya alasan Raka masih bertahan di gedung ini setelah tiga tahun: karena ada tempat di dunia di mana dia tidak perlu melakukan apa pun supaya boleh ada.
"Ini, Mas." Bu Ijah menyodorkan uang lipat. "Buat rokok."
"Nggak ngerokok, Bu."
"Ya buat kopi."
"Bu Ijah." Raka menahan tangan itu, mendorongnya pelan kembali. "Nggak usah."
"Mas Raka, ini —"
"Kalau Ibu bayar, nanti saya jadi tukang." Raka tersenyum. "Kalau nggak dibayar, saya tetangga."
Bu Ijah menatapnya beberapa detik dengan mata menyipit, seperti sedang menghitung sesuatu. Lalu dia memasukkan uang itu ke saku dasternya, mengomel dalam bahasa yang bukan bahasa Indonesia, dan pergi.
Sepuluh menit kemudian dia mengetuk pintu kamar Raka dengan sepiring nasi, ikan asin, dan sambal yang cukup untuk tiga orang.
Itu tidak bisa ditolak. Bu Ijah tahu itu. Karena itulah dia melakukannya.
"Makan," katanya. "Kurus banget kamu. Kayak nggak ada yang ngurusin."
"Iya, Bu."
"Ada yang ngurusin nggak?"
"Ada, Bu."
"Siapa?"
"Ibu," kata Raka. "Barusan."
Bu Ijah tidak langsung pergi. Dia bersandar di kusen pintu, melipat tangan didada, memandangi Raka dengan cara ibu-ibu memandangi orang yang bukan anaknya tapi sudah terlanjur dianggap.
"Ibumu pasti seneng," katanya.
Raka mengangkat wajahnya.
"Punya anak kayak kamu," lanjut Bu Ijah. "Bisa apa aja. Nggak neko-neko. Nggak nyusahin orang." Dia mengibaskan tangan ke arah halaman. "Ibumu pasti bangga banget punya kamu."
Ada jeda.
Setengah detik. Mungkin tidak sampai.
Lalu Raka tersenyum. Dua sentimeter. Tepat waktu.
"Iya, Bu."
Bu Ijah mengangguk puas, mengomel sedikit lagi soal berat badan, lalu pergi. Pintunya ditutup.
Kamar itu diam. Dari halaman, samar-samar, masih terdengar pompa air itu bekerja — bunyi yang enam jam lalu tidak ada, dan yang tidak akan diingat siapa pun besok pagi.
Kamar kos Raka lebarnya tiga langkah.
Di sudutnya ada rak kayu murah, empat susun. Susun paling bawah: obeng, tang, kunci inggris, isolasi, sekaleng baut yang dipungut dari mana-mana selama bertahun-tahun. Susun kedua: baju, dilipat rapi berlebihan. Susun ketiga: kosong.
Susun paling atas ada satu bingkai foto.
Menghadap dinding.
Tiga tahun kurang dua bulan. Raka tahu angkanya tanpa perlu menghitung, sama seperti dia tahu malam nanti adalah malam keempat ratus lima. Ada orang yang menandai waktu dengan ulang tahun dan hari raya dan kenaikan gaji. Ada orang yang menandainya dengan hal-hal yang tidak bisa dia balik lagi.
Raka tidak membaliknya. Dia tidak pernah membaliknya. Bingkai itu sudah menghadap dinding selama tiga tahun kurang dua bulan, dan debu di punggungnya sudah setebal debu di sebuah papan nama plastik di dalam laci di lantai empat — walaupun Raka belum tahu itu, dan tidak akan pernah berpikir untuk membandingkannya.
Dia duduk di tepi kasur.
Piring nasi itu masih hangat di pangkuannya. Ikan asinnya masih berbunyi pelan. Dia memandanginya cukup lama.
Lalu dia menaruhnya di lantai, tidak disentuh, dan meraih kipas angin Bu Ijah yang tadi dititipkan.
Kipas itu tidak rusak.
Raka sudah memeriksanya kemarin. Baling-balingnya lancar, kabelnya utuh, tombolnya normal, kapasitornya sehat. Kipas itu cuma berisik sedikit di kecepatan tiga, dan berisik sedikit bukan rusak.
Dia mengambil obeng dan mulai membuka bautnya, satu per satu, dan menaruhnya berjajar di lantai dengan jarak yang sama.
Karena kalau tangannya berhenti, dia akan mulai berpikir.
Dan berpikir adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa dia perbaiki.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar