Malam keempat ratus empat, dan yang masuk pukul 02.11 bukan kalimat.

Foto. Raka mengangkat ponselnya dari dadanya dan menyipitkan mata. Gambarnya buram, diambil dari terlalu dekat, dengan pencahayaan yang membuat semuanya terlihat kuning dan putus asa: sebuah keran wastafel, dengan satu tetes air menggantung di ujungnya seperti sedang berpikir ulang.

Fajar: Ini apa Sekar: Keran. Fajar: Aku tau itu keran Sekar: Terus kenapa nanya Fajar: Maksudku kenapa kamu foto keran jam dua pagi

Sekar: Karena benda ini udah netes selama empat puluh menit. Sekar: Dan aku udah hitung. Dua koma tiga detik sekali. KONSISTEN. Kayak diatur. Sekar: Aku nggak bisa tidur, Jar. Aku denger hidupku bocor.

Raka menatap layar itu.

Ada sesuatu yang terjadi di dadanya, kecil dan tidak jelas dan datang tanpa izin, dan dia memutuskan tidak akan menamainya. Ada hal-hal yang kalau kamu beri nama, jadi nyata, dan dia tidak sanggup kalau itu nyata.

Dia bangun. Duduk bersandar di dinding. Untuk pertama kali dalam empat ratus empat malam, dia duduk.

Fajar: Kamu punya obeng? Sekar: Punya kok. Sekar: Eh bentar. Sekar: Ternyata nggak. Sekar: Aku punya gunting kuku sama catokan.

Fajar: Catokan. Sekar: Jangan mulai.

Raka menekan bibirnya rapat-rapat, sekali, lalu berhenti.

Fajar: Di atas keran ada tutup bulet kecil? Warnanya beda dikit? Sekar: ADA. Sekar: Kayak topi. Fajar: Congkel pake gunting kuku. Pelan. Di bawahnya ada baut.

Tiga menit tidak ada apa-apa. Dari ujung sana, Raka bisa membayangkan bunyinya: logam kecil mengenai porselen, gerutuan, sesuatu jatuh, sesuatu diambil lagi.

Sekar: ADA BAUTNYA. Sekar: FAJAR ADA BAUTNYA Fajar: Iya emang ada Sekar: Kamu nggak ngerti. Aku baru aja nemuin ruang rahasia di dalem keran aku sendiri. Sekar: Aku udah tinggal di sini empat tahun.

Fajar: Kendorin bautnya. Terus tarik badannya ke atas, lurus. Jangan digoyang. Sekar: Pake apa kendorinnya Fajar: Ada garpu?

Jeda. Raka bisa membayangkan wajah perempuan itu waktu membaca kata garpu.

Sekar: Aku benci kamu. Sekar: Aku ambil garpunya.

Delapan menit.

Raka menunggu dengan ponsel di tangan, di kamar kos gelap, dan tidak melakukan apa pun selain menunggu. Dia tidak membuka aplikasi lain. Dia tidak menaruh ponselnya. Dia cuma duduk bersandar di dinding yang dingin dengan lutut ditekuk, seperti orang yang sedang menjaga sesuatu.

Di rak, satu setengah meter dari tempatnya duduk, ada obeng minus ukuran tiga yang bisa membuka baut itu dalam lima detik. Ada kunci inggris. Ada seal cadangan — tiga buah, ukuran standar, di dalam kaleng baut — karena Raka selalu punya cadangan untuk segala hal kecuali dirinya sendiri.

Semua itu tidak berguna. Semua itu ada di kamar yang salah, di kota yang sama, empat puluh menit dari perempuan yang sedang berjongkok di depan wastafelnya dengan garpu di tangan.

Yang bisa dia berikan cuma kalimat.

Sekar: Jar. Sekar: Ada karet bulet kecil di dalem. Udah gepeng. Kayak permen karet yang udah dikunyah tiga tahun. Fajar: Nah itu biangnya. Namanya seal. Ada gantinya? Sekar: Jam dua pagi? Fajar: Iya juga ya

Sekar: Boleh pake karet gelang? Fajar: Nggak Sekar: Ikat rambut? Fajar: Nggak Sekar: Kenapa kamu nggak fleksibel banget sih Fajar: Karena kamu bakal banjir jam tiga Sekar: Fair.

Fajar: Balik aja karetnya. Sisi yang bawah taruh di atas. Permukaannya masih rata sebelah. Fajar: Itu tahan tiga empat hari. Cukup sampai kamu sempet beli. Sekar: Bisa gitu? Fajar: Bisa.

Empat menit. Lalu foto kedua masuk.

Wastafel kering. Keran mati. Dan di pojok bawah frame, ikut terpotret tanpa sengaja, satu jempol dengan cat kuku yang sudah terkelupas separuh.

Raka memandangi foto itu lebih lama dari yang seharusnya.

Sekar: BERHENTI. Sekar: FAJAR BERHENTI NETESNYA Sekar: Aku betulin sendiri. Pake GARPU.

Fajar: Pinter.

Sekar: Kamu tau nggak. Sekar: Aku dua puluh sembilan tahun dan ini pertama kali aku betulin sesuatu. Sekar: Seumur hidup aku cuma bisa ngerusak. Beneran. Itu bukan lebay.

Raka membaca kalimat terakhir itu dua kali, dan sesuatu di dalam dadanya menutup seperti pintu.

Fajar: Kamu bisa betulin. Kamu cuma nggak pernah ada yang ngajarin.

Sepuluh menit. Yang sepuluh menit.

Sekar: Kok kamu tau semua sih. Sekar: Keran. Mesin cuci. Engsel pintu. Kompor. Sekar: Kamu ini apaan sebenernya.

Raka menatap pertanyaan itu di layar, di kamar seluas tiga langkah, dengan satu rak berisi obeng dan tang dan sekaleng baut yang dipungut dari mana-mana selama bertahun-tahun.

Fajar: Kebetulan.

Sekar: Suatu hari aku mau tau muka kamu. Sekar: Tapi jangan sekarang. Sekarang aku ngantuk banget. Sekar: Makasih ya. Beneran. Sekar: Selamat malam, Fajar.

Layar padam.

Kamar itu gelap lagi.

Raka meletakkan ponselnya di lantai, telungkup, supaya kalau benda itu menyala lagi dia tidak akan melihatnya.

Dia tidak menyimpan tangkapan layar. Tidak pernah sekali pun, dalam empat ratus empat malam. Tidak satu foto, tidak satu kalimat, tidak satu pun.

Karena menyimpan berarti memiliki.

Dan Raka tidak berhak memiliki apa pun dari perempuan itu.

Di kegelapan ini dia bukan Fajar. Fajar cuma ada selama layar menyala, dan layar sudah mati, dan yang tersisa di kamar ini adalah laki-laki yang besok pukul sembilan harus berdiri dan tersenyum sambil dihina di depan lima belas orang, dan tidak berhak protes, dan tidak akan protes.

Besok pagi perempuan itu akan lewat di depan mejanya tanpa menoleh. Mungkin dia akan menyuruh Raka mengambil sesuatu dari laci. Mungkin dia akan bilang sesuatu di depan orang banyak, dan orang banyak akan tertawa, dan Raka akan tersenyum dua sentimeter tepat pada waktunya.

Dan tidak akan sekali pun terlintas di kepala perempuan itu bahwa keran di rumahnya berhenti menetes karena laki-laki yang sama.

Dia berbaring. Menghadap langit-langit. Peta negara yang tidak ada.

Tidak tersenyum. Tidak pernah.

tu akan lewat di depan mejanya tanpa menoleh. Mungkin dia akan menyuruh Raka mengambil sesuatu dari laci. Mungkin dia akan bilang sesuatu di depan orang banyak, dan orang banyak akan tertawa, dan Raka akan tersenyum dua sentimeter tepat pada waktunya.

Dan tidak akan sekali pun terlintas di kepala perempuan itu bahwa keran di rumahnya berhenti menetes karena laki-laki yang sama.

Dia berbaring. Menghadap langit-langit. Peta negara yang tidak ada.

Tidak tersenyum. Tidak pernah.