Gerbang besi tinggi itu berderit membuka. **Kriiieeeeeek!**
Aku menahan napas. Sepuluh tahun aku tak pernah menginjak halaman ini, dan sekarang mobil yang kunaiki melaju pelan di antara pohon kamboja tua yang berjajar rapi, seolah sedang mengantarku ke sebuah pemakaman, bukan rumah leluhur.
"Ini rumahnya, Neng Kirana," ujar Pak Sopir, satu-satunya orang yang menyapaku ramah sejak aku turun dari bus tadi pagi.
"Iya, Pak. Terima kasih," jawabku, mencoba tersenyum meski dadaku berdebar aneh.
Rumah panggung kayu berukir itu masih sama megahnya seperti dalam ingatan masa kecilku—hanya saja kini terasa lebih dingin, lebih sunyi. Aku turun dari mobil, menjinjing satu tas kecil berisi seluruh hidupku, lalu berdiri menatap tangga rumah yang tinggi menjulang.
"Astaghfirullah, akhirnya datang juga anak buangan itu."
Suara itu menusuk telingaku sebelum aku sempat menaiki anak tangga pertama. Tante Retno berdiri di teras, tangannya bersedekap, matanya menyapuku dari ujung kepala sampai sandal jepit yang kupakai.
"Assalamualaikum, Tante," sapaku, menahan diri untuk tidak membalas sindirannya.
"Waalaikumsalam," jawabnya singkat, nyaris tak ikhlas. "Kupikir kau tak akan berani datang, mengingat bagaimana dulu orang tuamu diusir dari rumah ini."
"Aku datang karena diundang, Tante. Untuk pembacaan wasiat Kek Prakoso," jawabku pelan, mataku menunduk menatap ujung sandalku sendiri.
"Ya, sayang sekali, wasiat itu memanggil semua cucu, termasuk yang seharusnya tak punya hak apa-apa," sindir Om Broto yang baru muncul dari dalam rumah, tangannya memegang cangkir kopi, wajahnya menatapku datar seperti menatap debu yang menempel di lantai.
Aku menelan ludah, mengingatkan diri sendiri: *aku ke sini bukan untuk harta.*
"Silakan masuk, kamarmu sudah disiapkan. Yang paling ujung, dekat dapur belakang," ujar Tante Retno lagi, lalu berbalik masuk tanpa menungguku.
Aku melangkah mengikuti, hatiku menahan sesak. Di rumah sebesar ini, aku ditempatkan paling ujung, paling jauh dari mereka—seolah kehadiranku sendiri adalah aib yang harus disembunyikan.
***
"Kirana?"
Sebuah suara memanggil dari arah dapur saat aku melewati lorong panjang berlantai kayu itu. Aku menoleh, dan jantungku berdegup.
Degh!
"Damar?" aku nyaris tak percaya. Lelaki di depanku ini—yang dulu adalah bocah kurus yang selalu menemaniku bermain di halaman belakang sebelum keluargaku diusir—kini berdiri tegap, membawa nampan berisi teh.
"Kau masih ingat aku," ia tersenyum, senyum yang sama seperti dulu, hangat di antara dinginnya rumah ini.
"Tentu saja aku ingat. Kau yang dulu selalu mencuri mangga Kek Prakoso untukku," aku terkekeh kecil, untuk pertama kalinya sejak turun dari bus tadi pagi.
"Sekarang aku yang mengurus rumah ini," ujarnya, lalu suaranya melirih. "Hati-hati, Kirana. Banyak yang berubah di sini, dan bukan berubah ke arah baik."
"Maksudmu?"
Damar menatap sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar, sebelum berbisik, "Dua minggu lalu, Mas Broto—anak sulung Om Broto—ditemukan tewas dekat sumur belakang. Wajahnya membiru, mulutnya penuh tanah."
Aku merinding. "Ke-kecelakaan?"
"Itu kata polisi. Tapi warga di sini bilang lain," Damar menggeleng pelan. "Mereka bilang, sumur itu memanggil lagi."
"Memanggil? Sumur apa?"
"Sumur di belakang rumah induk. Yang dulu dilarang keras kau dekati waktu kecil, ingat?"
Aku memang ingat. Dulu, ibuku selalu menarik tanganku menjauh setiap kali aku penasaran mengintip ke arah sumur tua berlumut itu. *"Jangan pernah ke sana, Nak. Itu tempat Nyai Kenanga."*
"Siapa itu Nyai Kenanga sebenarnya, Damar?" tanyaku, suara ku bergetar tanpa kusadari.
Damar menatapku lama, seperti menimbang apakah aku siap mendengarnya.
"Itu cerita yang lebih baik kau dengar sendiri dari mulut orang tua di kampung ini. Aku hanya pengurus rumah, Kirana. Bukan tempatku bercerita," ujarnya, lalu buru-buru berlalu membawa nampan tehnya, seolah takut ada yang mendengar percakapan kami.
***
Malam itu, tidur enggan datang.
Kamarku yang sempit di ujung rumah terasa pengap, meski jendelanya terbuka lebar. Angin malam membawa suara jangkrik bersahutan, dan entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang menarikku keluar.
Aku bangkit, melangkah ke jendela.
Dari sana, aku bisa melihat halaman belakang yang temaram diterangi lampu taman yang setengah mati. Dan di sudut paling gelap, tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja, aku bisa melihat bentuk bundar sumur tua itu.
Psssssttt...
Suara desisan pelan seperti angin yang menerobos celah kayu membuat bulu kudukku berdiri. Aku menajamkan mata, mencoba meyakinkan diri itu hanya angin.
Tapi kemudian aku melihatnya.
Sesosok bayangan berkebaya, berdiri—bukan, mengambang—tepat di bibir sumur itu. Wajahnya tak jelas, tapi rambutnya yang panjang tergerai bergoyang pelan meski tak ada angin yang cukup kencang untuk menggerakkannya.
Ya Allah.
Aku ingin berteriak, ingin memanggil Damar, siapa saja. Tapi tenggorokanku tercekat, kakiku kaku menempel di lantai kayu.
Bayangan itu perlahan mendongak.
Menatap lurus ke arah jendelaku.
Ke arahku.
**Bersambung ....**
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar