"Semoga saja bukan, Neng," lirih Mbok Yem, suaranya nyaris tak terdengar. "Karena kalau memang benar, artinya seratus tahun kesabaran beliau menunggu, akhirnya habis juga."

Kata-kata itu masih terngiang di kepalaku bahkan setelah semalaman aku tak bisa memejamkan mata sama sekali.

Pagi ini, seluruh keluarga besar diminta berkumpul di ruang tamu utama. Notaris yang mengurus wasiat Kek Prakoso akhirnya datang, membawa map cokelat tebal yang sejak tadi ditatap Om Broto dengan sorot mata rakus yang sulit disembunyikan.

"Selamat pagi, Bapak, Ibu sekalian," sapa Pak Notaris, seorang lelaki tua berkacamata tebal, duduk di kursi yang telah disiapkan. "Sesuai amanat almarhum Raden Prakoso, wasiat ini baru boleh dibacakan setelah seluruh cucu berkumpul di rumah ini."

"Kami sudah lengkap, Pak. Silakan langsung saja," ujar Om Broto tak sabar.

Pak Notaris membuka map itu perlahan, mengeluarkan selembar kertas tua bertulisan tangan.

"Baik. Saya bacakan sesuai apa yang tertulis," ia berdehem sebelum mulai membaca. "*Kepada seluruh keturunanku, aku Prakoso, dalam keadaan sadar dan waras, mewariskan seluruh harta benda dan tanah milikku, kecuali rumah induk beserta tanah di sekelilingnya termasuk sumur belakang, yang aku wariskan khusus kepada Kirana, cucu dari garis putri sulungku.*"

Ruangan itu mendadak sunyi mencekam.

"A-apa?!" Tante Retno berdiri mendadak, wajahnya memerah padam. "Itu tidak mungkin! Kirana bahkan sudah diusir dari keluarga ini sejak kecil!"

"Sesuai catatan hukum, wasiat ini sah, Bu," Pak Notaris menjawab tenang, meski jelas gugup melihat reaksi Tante Retno.

"Kenapa? Kenapa harus dia yang dapat rumah induk?!" Om Broto ikut berdiri, tangannya mengepal.

Pak Notaris kembali melirik kertas di tangannya. "Ada catatan tambahan di sini, Pak. Boleh saya lanjutkan?"

Semua mata tertuju padanya, termasuk aku yang sama bingungnya dengan yang lain.

"*Aku tahu kebenaran tentang apa yang terjadi pada Nyai Kenanga di sumur belakang seratus tahun silam, dan aku tak pernah cukup berani menuntaskannya semasa hidupku. Aku hanya bisa berharap, keturunan dari garisnya kelak akan pulang, dan menyelesaikan apa yang aku sendiri terlalu takut selesaikan.*"

Aku merasa dadaku sesak mendengarnya. Kek Prakoso—yang selama ini hanya kukenal lewat cerita samar keluarga—ternyata menyimpan rahasia sebesar itu selama hidupnya.

"Ini konyol! Aku akan menggugat wasiat ini ke pengadilan!" Om Broto menggebrak meja, membuat cangkir-cangkir teh bergemerincing.

"Silakan saja, Pak, tapi wasiat ini sudah disahkan notaris dan disaksikan dua saksi resmi sebelum almarhum wafat," jawab Pak Notaris tenang, meski keringat mulai membasahi keningnya.

"Ayah, sudahlah," Rasti tiba-tiba bersuara, matanya menatap ayahnya dengan hati-hati. "Kek Prakoso pasti punya alasan. Lagipula, selama ini bukankah kita sendiri yang jarang mengurus rumah induk dan sumur itu?"

"Diam kau, Rasti! Jangan ikut campur!" bentak Om Broto, membuat Rasti tertunduk, tak berani lagi bersuara.

Aku menatap Rasti dengan rasa terima kasih diam-diam. Setidaknya, ada satu orang lagi di keluarga ini yang tak sepenuhnya menutup mata pada kebenaran.

***

"Kau merencanakan ini, ya?!" Tante Retno mencengkeram pundakku begitu Pak Notaris dan Rendra meninggalkan ruangan, suaranya menggeram penuh amarah. "Kau sengaja pulang untuk merebut rumah ini!"

"Tante, aku bahkan tak tahu apa-apa soal wasiat ini sampai barusan!" jawabku, mencoba melepaskan cengkeramannya.

"Bohong! Semua keluarga miskin sepertimu selalu punya rencana licik!" bentaknya lagi, matanya menyala penuh dendam.

"Lepaskan dia, Bu." Damar tiba-tiba muncul, menarik lembut tangan Tante Retno dari pundakku. "Kirana tak pernah tahu isi wasiat itu sebelumnya. Saya saksinya."

Tante Retno mendengus, menatap Damar dengan jijik. "Kau juga sudah dibeli olehnya rupanya, Damar."

Ia berlalu dengan langkah menghentak, meninggalkan aku yang masih gemetar menahan tangis.

"Terima kasih," bisikku pada Damar.

"Kau tak apa?" tanyanya lembut, matanya menatapku penuh kekhawatiran yang tulus.

"Aku hanya ... tak menyangka semuanya jadi serumit ini," aku menghela napas panjang. "Aku bahkan tak menginginkan rumah ini, Damar. Aku hanya ingin tahu kebenaran soal keluargaku."

"Aku tahu," ia tersenyum kecil, "dan itu sebabnya aku percaya padamu, sejak dulu."

Untuk sesaat, di tengah kekacauan yang melingkupi rumah ini, aku merasa ada satu titik kehangatan yang bisa kupegang.

***

Malam harinya, aku pindah ke kamar utama—kamar yang kini sah menjadi hakku—atas desakan Pak Notaris yang ingin segala sesuatunya segera diresmikan.

Kamar itu luas, penuh perabotan antik yang berdebu, seakan tak pernah benar-benar dihuni bertahun-tahun. Aku membuka lemari tua di sudut ruangan, berniat menyimpan pakaianku, saat jariku menyentuh sesuatu yang mengganjal di balik papan bawah lemari.

Sebuah buku harian kulit usang, hampir lapuk dimakan rayap.

Aku membukanya dengan hati-hati, mendapati tulisan tangan yang sudah memudar—tulisan Kek Prakoso.

*"Malam ini aku menyaksikan sendiri dari balik jendela kamarku. Kumala menyeret Kenanga ke arah sumur, dibantu oleh seseorang yang seharusnya paling melindungi Kenanga. Aku terlalu pengecut untuk turun dan menghentikannya. Aku hanya bisa terus berdiri, gemetar, mendengar jeritan istri pertamaku yang pelan-pelan tertimbun tanah."*

Tanganku gemetar membalik halaman berikutnya.

*"Yang paling membuatku tak sanggup hidup tenang hingga detik ini, adalah mengetahui bahwa orang yang membantu Kumala malam itu bukanlah orang asing. Melainkan—"*

Tulisan itu terputus. Halaman berikutnya robek, hilang entah kemana.

"Tidak," gumamku, membolak-balik buku itu putus asa, mencari sisa halaman yang mungkin terselip.

Tepat saat itu, lampu kamarku berkedip tiga kali—

lalu padam total.

Dalam kegelapan, aku mendengar suara langkah kaki pelan mendekat dari arah lemari yang baru saja kubuka,

diiringi bau tanah basah yang menyengat,

dan bisikan halus tepat di telingaku,

"Jangan ... cari tahu ... lagi ...."

"Ya Allah, Ya Allah," aku terus mengulang nama-Nya, tanganku meraba-raba mencari saklar lampu dalam kegelapan, tubuhku gemetar hebat hingga buku harian itu terjatuh dari genggamanku.

**Greb!**

Sesuatu—atau seseorang—mencengkeram pergelangan tanganku erat dari arah lemari.

Aku menjerit sekuat tenaga, menendang ke segala arah, hingga cengkeraman itu terlepas tepat saat pintu kamarku didobrak terbuka dan cahaya senter menyorot masuk.

"Kirana!" Damar berdiri di ambang pintu, napasnya terengah seperti habis berlari.

Lampu kembali menyala seketika, seolah tak pernah padam sama sekali.

Kamar itu kosong. Tak ada siapa-siapa selain aku, yang terduduk gemetar di lantai, memeluk lututku sendiri, sementara buku harian Kek Prakoso tergeletak terbuka di sampingku—pada halaman yang sama, dengan tulisan yang terputus itu.

**Bersambung ....**