Kamar itu kosong. Tak ada siapa-siapa selain aku, yang terduduk gemetar di lantai, memeluk lututku sendiri, sementara buku harian Kek Prakoso tergeletak terbuka di sampingku—pada halaman yang sama, dengan tulisan yang terputus itu.

"Kirana, kau baik-baik saja?" Damar berlutut di sampingku, memapah tubuhku yang masih gemetar hebat.

"Ada yang mencengkeram tanganku, Damar. Nyata. Aku merasakannya," bisikku, air mataku akhirnya jatuh setelah sedari tadi kutahan.

Damar tak berkata apa-apa. Ia hanya memelukku sesaat, membiarkan aku menenangkan diri, sebelum akhirnya matanya menangkap buku harian yang tergeletak di lantai.

"Apa ini?"

"Catatan Kek Prakoso. Tentang malam Nyai Kenanga menghilang," jawabku, menghapus air mataku. "Tapi halaman pentingnya robek. Seperti sengaja dihilangkan."

***

Pagi harinya, aku menceritakan semuanya pada Rendra—buku harian, bisikan itu, cengkeraman di tanganku. Ia mendengarkan sambil membolak-balik halaman yang tersisa dengan sangat hati-hati, seolah takut merusak petunjuk berharga.

"Ada yang aneh," gumamnya, menunjuk pada bagian tepi halaman yang robek. "Robekannya rapi, bukan dimakan rayap atau usia. Seseorang sengaja menyobeknya, dan baru-baru ini."

"Siapa yang punya akses ke kamar itu selain aku?" tanyaku.

"Itu pertanyaan yang tepat," Rendra menatapku serius. "Kamar itu baru resmi jadi milikmu kemarin. Sebelumnya, siapa yang menempatinya?"

Aku terdiam, mencoba mengingat. Lalu jawabannya muncul begitu saja, membuat perutku mual.

"Om Broto. Sebelum aku pulang, kudengar dari Mbok Yem, itu kamar pribadinya."

Rendra mengangguk pelan, seperti sudah menduganya. "Dan mungkin, ia tahu persis apa yang ditulis di halaman yang hilang itu."

Kami berdua bergegas mencari Mbok Yem, berharap perempuan tua itu bisa mengingat lebih banyak detail dari cerita yang selama ini dipendamnya.

***

Kami menemukan Mbok Yem di dapur, tapi kali ini wajahnya lebih pucat dari biasanya, tangannya gemetar mengaduk air dalam panci.

"Mbok, kami butuh bantuanmu," ujar Rendra pelan. "Tentang malam Nyai Kenanga menghilang. Siapa yang membantu Nyai Kumala malam itu?"

Mbok Yem menjatuhkan sendok yang dipegangnya, matanya melebar ketakutan.

"Jangan tanyakan itu di sini, Pak Detektif," bisiknya, suaranya bergetar hebat. "Dia bisa dengar. Dia selalu dengar."

"Siapa yang bisa dengar, Mbok?" desakku.

Mbok Yem menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di matanya. "Kasihan sekali Nyai Kumala. Semua orang kira dialah yang jahat, padahal—"

"Padahal apa, Mbok?" desak Rendra, suaranya melembut, mencoba menenangkan perempuan tua itu.

"Mbok cuma pelayan kecil waktu itu, ikut nenek moyang Mbok yang juga mengabdi di rumah ini," Mbok Yem meremas ujung kainnya gemetar. "Tapi cerita turun-temurun yang Mbok dengar, malam kejadian itu, bukan Nyai Kumala sendirian yang menyeret Nyai Kenanga. Ada tangan lain yang lebih kuat, yang justru menyalahkan semuanya pada Nyai Kumala setelahnya, supaya namanya sendiri tetap bersih di mata keluarga besar."

"Siapa tangan lain itu, Mbok?" tanyaku, jantungku berdegup semakin cepat.

"Mbok tidak—"

Ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya.

**Kriiieeeeeek!**

Pintu dapur yang tadinya tertutup rapat, terbuka sendiri perlahan, menampilkan halaman belakang yang temaram meski matahari sedang terik-teriknya di luar sana.

Seolah waktu berhenti hanya di ambang pintu itu.

"Astaghfirullah," Mbok Yem terjatuh berlutut, tangannya gemetar merapal doa.

Aku dan Rendra saling berpandangan, sebelum melangkah hati-hati mendekati pintu itu.

Di luar sana, halaman belakang tak lagi diterangi matahari. Langit yang tadinya biru cerah, kini kelabu pekat, seakan senja telah datang jauh lebih cepat dari seharusnya. Dan di tengah halaman, tepat di bibir sumur, sosok berkebaya itu telah berdiri menunggu.

Kali ini bukan sekadar bayangan. Ia nyata, wujudnya utuh—perempuan dengan kebaya lusuh compang-camping, rambut panjang menutupi separuh wajahnya, kulitnya pucat kebiruan seperti mayat yang baru diangkat dari air.

"Nyai Kenanga," desisku, tubuhku beku di tempat.

Sosok itu mendongak. Dan yang membuat darahku serasa berhenti mengalir—

ia tersenyum.

Bukan senyum sedih seorang korban yang menanti keadilan.

Melainkan senyum penuh amarah yang telah dipendam seratus tahun lamanya.

"Kirana, jangan mendekat!" Rendra menarik tanganku mundur, tapi kakiku seolah tak lagi menuruti perintah otakku, melangkah sendiri semakin dekat ke arah sumur, seperti ditarik oleh kekuatan yang tak bisa kulawan.

"Kirana!" Damar berlari dari arah rumah, ikut menarik tanganku yang satunya, namun tarikan sosok itu jauh lebih kuat.

Aku berdiri tepat di bibir sumur sekarang, menatap wajah sosok itu dari jarak yang begitu dekat hingga aku bisa mencium bau tanah basah yang menyengat dari tubuhnya.

"Kau ..." bisiknya, suaranya serak seperti tercekik tanah bertahun-tahun, "... bukan darahnya."

"A-apa maksudmu?" aku nyaris tak sanggup bersuara.

Sosok itu mencengkeram kedua bahuku dengan kekuatan yang tak masuk akal, wajahnya kini hanya sejengkal dari wajahku, matanya yang kosong menatap lurus ke dalam mataku.

"Aku bukan Kenanga," bisiknya lagi, lebih jelas kali ini, membuat seluruh tubuhku membeku sempurna.

"Panggil aku ... Kumala."

"Ya Allah!" Rendra berhasil merengkuh pinggangku, menarikku sekuat tenaga menjauh dari bibir sumur, tepat saat cengkeraman di bahuku terlepas seketika.

Aku terjerembab ke pelukan Damar yang sudah menunggu di belakang, tubuhku lemas tak bertenaga, napasku tersengal seperti baru saja berlari bermil-mil jauhnya.

Ketika aku memaksakan diri menoleh sekali lagi ke arah sumur, sosok itu telah lenyap. Langit kembali cerah seperti sedia kala, matahari kembali terik seolah tak pernah tergantikan senja barang sedetik pun.

Hanya tertinggal genangan air keruh berbentuk telapak kaki, mengarah dari bibir sumur, lalu berhenti tepat di tempatku berdiri tadi.

"Kumala," gumam Rendra pelan, matanya menatap tajam ke arah sumur yang kini kembali tenang. "Bukan Kenanga yang menghantui rumah ini selama ini."

Aku menatapnya, masih gemetar. "Kalau begitu, siapa sebenarnya yang harus kita takuti, Rendra? Dan siapa 'tangan lain' yang dimaksud Mbok Yem tadi?"

Rendra tak menjawab. Ia hanya menatap ke arah rumah induk, ke jendela kamar Om Broto yang tirainya baru saja bergerak tersibak, seolah seseorang di dalam sana baru saja menyaksikan semuanya—dan buru-buru bersembunyi kembali.

**Bersambung ....**