Tangisan itu perlahan berubah,
menjadi tawa.
Aku menjerit, memaksa kakiku bergerak, berlari sekencang mungkin menjauh dari sumur—
**Bruaakh!**
Tubuhku menabrak sesuatu yang keras, membuatku terjungkal jatuh ke rerumputan.
"Aduh! Maaf, saya—" seorang suara laki-laki, tenang namun tegas, terdengar di atasku. Sepasang tangan terulur membantuku berdiri.
Aku mendongak. Seorang lelaki setengah baya berpakaian rapi, kemeja putih lengan panjang yang dilipat di bagian siku, wajahnya tegas dengan sorot mata tajam yang terasa seperti sudah menimbang segalanya sebelum bicara. Ada kesan mantan pejabat yang kini memilih jalan sendiri—wibawa tanpa jabatan.
"Kau tak apa? Saya dengar teriakan dari kejauhan," ujarnya.
"S-siapa kau?" tanyaku masih terengah, jantungku belum juga tenang.
"Rendra. Rendra Wicaksana," jawabnya singkat, mengulurkan tangan. "Saya investigator independen—dulu jaksa, sekarang bekerja sendiri. Kepala desa yang meminta saya kemari setelah polisi bilang kematian di rumah ini hanya kecelakaan biasa."
Detektif itu. Aku baru ingat, hari ini memang jadwal kedatangannya.
"Kau habis lari dari apa?" tanyanya lagi, matanya menyapu ke arah sumur di belakangku, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang tiba-tiba berubah serius.
Aku ragu sejenak. Tapi ada sesuatu dalam caranya menatap sumur itu—seolah ia sudah menduga sesuatu—yang membuatku memutuskan untuk jujur.
"Aku dengar tangisan. Dari dalam sumur. Lalu berubah jadi tawa," bisikku.
Rendra tak terlihat kaget. Ia hanya mengangguk pelan, seperti sedang mencocokkan sesuatu dalam benaknya.
"Bukan yang pertama," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.
"Maksudmu?"
"Saya sudah menangani beberapa kasus yang mirip. Tempat lain, cerita berbeda, tapi pola yang sama—kematian ganjil yang selalu berkaitan dengan luka lama yang belum selesai," jelasnya, lalu menatapku lekat. "Kau Kirana, kan? Cucu yang selama ini dijauhkan dari rumah ini?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Bagian dari pekerjaan saya," ia tersenyum tipis, lalu ekspresinya kembali serius. "Saya perlu bicara dengan semua anggota keluarga. Termasuk kau."
***
Ruang tamu utama dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan bahkan oleh orang yang baru datang sekalipun.
Om Broto duduk kaku di sofa, tangannya terus mengetuk-ngetuk lengan kursi. Tante Retno di sampingnya, senyumnya dipaksakan, terlalu manis untuk terasa tulus.
"Jadi, Investigator Rendra, apa yang ingin Anda ketahui? Kematian Broto sudah jelas kecelakaan," ujar Om Broto, mendahului sebelum Rendra sempat bertanya.
"Kalau memang sesederhana itu, Pak, mengapa laporan medis menyebutkan ada tanah di paru-paru korban, padahal ia ditemukan di permukaan air, bukan terkubur?" Rendra bertanya balik, datar namun tajam.
Wajah Om Broto memucat sesaat sebelum ia kembali memasang topeng tenangnya. "Mungkin ia sempat berjuang, menelan lumpur dari dasar sumur."
"Sumur itu sudah kering separuh sejak bertahun-tahun, Pak. Tak ada cukup lumpur untuk memenuhi paru-paru seperti itu," balas Rendra.
Tante Retno buru-buru menyela, "Detektif, daripada mengorek-ngorek kematian Broto yang sudah jelas ditakdirkan, lebih baik Anda tanya kenapa sejak Kirana pulang, rumah ini jadi ramai kejadian aneh."
Semua mata beralih padaku. Aku menahan napas, merasa disudutkan.
"Saya belum melakukan apa-apa selain datang untuk pembacaan wasiat, Tante," jawabku, berusaha tetap tenang meski dalam hati aku gemetar.
"Menarik," Rendra bergumam, matanya berpindah dari Tante Retno kepadaku, lalu kembali ke Tante Retno. "Kenapa kepulangan seorang cucu bisa dianggap membawa kejadian aneh, kecuali memang ada sesuatu yang berkaitan dengannya?"
Tante Retno terdiam, tak menyangka pertanyaan itu akan berbalik menyudutkannya sendiri.
"Sudahlah, Bu, jangan malah adu mulut sama detektifnya," sela Rasti, sepupuku, dari sudut ruangan, suaranya bergetar. "Aku juga ... aku juga dengar suara-suara aneh dari kamar Mas Broto semalam. Seperti ada yang mengorek-ngorek dinding."
"Rasti!" bentak Tante Retno tajam, seolah ingin membungkam anaknya sendiri.
"Biarkan dia bicara, Bu Retno," ujar Rendra tenang namun tegas. "Saya justru butuh sebanyak mungkin kesaksian, bukan yang ditutup-tutupi."
Om Broto mendengus, berdiri dari sofanya. "Kalau begitu selesai sudah urusan kita hari ini, Detektif. Saya ada urusan kebun yang harus diselesaikan."
Ia berlalu cepat, tak menunggu jawaban, meninggalkan aroma kopi yang mulai dingin di meja. Tante Retno mengekor di belakangnya, namun sebelum keluar ruangan, ia sempat melempar tatapan tajam ke arahku—tatapan yang jelas berkata: *ini semua gara-gara kau*.
***
Setelah sesi tanya jawab yang menegangkan itu berakhir, aku menemukan Mbok Yem duduk sendirian di dapur belakang, mengupas sayuran dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Mbok, ceritakan padaku. Tentang Nyai Kenanga," pintaku, duduk di sampingnya.
Rendra, yang rupanya mengikutiku diam-diam, ikut duduk di seberang kami. "Saya juga ingin dengar, Mbok. Kalau boleh."
Mbok Yem menghela napas panjang, seperti sudah menahan cerita ini bertahun-tahun lamanya.
"Nyai Kenanga itu istri pertama Raden Prakoso, buyut Neng Kirana yang membangun rumah ini seratus tahun lalu," mulainya pelan. "Beliau perempuan baik, lembut hatinya, tapi tak kunjung diberi keturunan bertahun-tahun. Hingga akhirnya Raden Prakoso menikah lagi, dengan seorang perempuan bernama Kumala."
"Nyai Kumala," gumamku, mengingat nama itu tertulis samar di catatan keluarga yang pernah kulihat dulu.
"Betul. Awalnya mereka rukun. Tapi lambat laun, Nyai Kumala cemburu karena Raden Prakoso diam-diam masih menyayangi Nyai Kenanga lebih dari dirinya," lanjut Mbok Yem, suaranya melirih. "Sampai suatu malam, Nyai Kenanga menghilang. Warga bilang, ia dikubur hidup-hidup di sumur belakang, atas perintah Nyai Kumala sendiri."
Aku merinding mendengarnya. "Lalu, apa yang terjadi pada Nyai Kumala?"
"Itulah yang tak pernah jelas, Neng," Mbok Yem menggeleng. "Sejak malam itu, Nyai Kumala juga menghilang dari catatan keluarga. Seolah sengaja dihapus."
Rendra mencondongkan tubuhnya, matanya menajam. "Menghilang, atau sengaja dihilangkan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, tak seorang pun sanggup menjawabnya.
Tiba-tiba, dari arah kamar Mas Broto yang belum sempat dibereskan sejak kematiannya, terdengar suara benda jatuh.
**Gdebruk!**
Kami bertiga saling berpandangan, sebelum bergegas berlari ke sana.
Pintu kamar itu—yang seingatku tadi pagi masih terkunci rapat—kini terbuka lebar. Dan di lantainya, tergeletak sebuah bingkai foto pecah.
Foto pernikahan Om Broto dan Tante Retno.
Wajah keduanya, tercoret kasar oleh sesuatu yang menyerupai tanah becek berwarna kehitaman, membentuk sebuah kata yang membuat darahku berdesir dingin.
*PULANGKAN.*
"Ya Allah," bisikku, tanganku refleks menutup mulut sendiri, tubuhku gemetar hebat.
Rendra berjongkok, mengamati coretan tanah itu tanpa menyentuhnya, wajahnya berubah tegang untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya.
"Ini bukan ulah manusia," gumamnya pelan. "Tak ada jejak kaki menuju kamar ini selain milik kita bertiga barusan. Dan tanah ini—" ia mengendus sedikit, mengernyit, "—baunya seperti tanah dari dasar sumur yang sudah lama tak tersentuh matahari."
"Jadi benar," suaraku bergetar, "Nyai Kenanga benar-benar sudah bangkit?"
Mbok Yem, yang berdiri gemetar di ambang pintu, hanya bisa menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca menatap coretan di foto itu.
"Semoga saja bukan, Neng," lirihnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Karena kalau memang benar, artinya seratus tahun kesabaran beliau menunggu, akhirnya habis juga."
**Bersambung ....**
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar