Bayangan itu perlahan mendongak.
Menatap lurus ke arah jendelaku.
Ke arahku.
"Astaghfirullahaladzim!" Aku terlonjak mundur, punggungku membentur dinding kayu di belakangku. Jantungku berdegup begitu keras hingga terasa sakit di dada.
**Bruaakh!**
Tubuhku terjerembab menabrak meja kecil di sudut kamar, membuat lampu belajar tua di atasnya jatuh berdentang ke lantai.
"Kirana? Kirana, kau kenapa?!" Suara Damar terdengar panik dari luar pintu, disusul ketukan bertubi-tubi.
Aku tak sanggup menjawab. Tenggorokanku masih tercekat, mataku terus terpaku pada jendela yang kini tertutup rapat oleh gorden yang kutarik asal, tanganku gemetar hebat.
"Kirana, aku masuk, ya!" Pintu terbuka, Damar berdiri di ambang dengan wajah cemas, masih mengenakan sarung ronda malamnya. "Ada apa? Aku dengar suara jatuh—"
"D-Damar," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. "Ada ... ada sesuatu. Di sumur."
Ia terdiam sejenak, matanya menyipit. "Kau melihatnya juga?"
"Kau tahu?" Aku mendongak menatapnya, tak percaya.
"Duduk dulu," ia membantuku bangkit, memapahku ke ranjang. "Ceritakan, apa yang kau lihat."
Aku menceritakan semuanya—bayangan berkebaya yang mengambang di bibir sumur, rambutnya yang tergerai tanpa angin, dan yang paling membuatku merinding: wajahnya yang mendongak, seolah tahu persis aku sedang mengintip dari jendela.
Damar mendengarkan dengan wajah semakin pucat. Ia menghela napas panjang sebelum bicara.
"Jangan bilang siapa-siapa soal ini, Kirana. Terutama pada Om Broto dan Tante Retno."
"Kenapa? Bukankah mereka juga perlu tahu, kalau memang sumur itu—"
"Justru karena itu," potongnya cepat. "Kalau kau bilang melihat penampakan di malam pertama kau pulang, mereka akan bilang kau mengada-ada, mencari perhatian, atau lebih buruk—menuduhmu sengaja membuat kegaduhan supaya bagianmu dalam warisan lebih besar."
Aku terdiam. Ia benar. Aku baru saja menginjakkan kaki di rumah ini setelah sepuluh tahun, dan kecurigaan mereka padaku sudah setinggi genting.
"Tapi Damar, itu nyata. Aku tidak bermimpi."
"Aku percaya padamu," ujarnya pelan, matanya menatapku lurus. "Karena aku juga pernah melihatnya. Dua kali. Dan setiap kali muncul, selalu ada yang terjadi setelahnya."
Bulu kudukku kembali merinding mendengarnya.
***
Pagi datang membawa suasana yang tak kalah dingin dari malam sebelumnya.
Meja makan panjang di ruang tengah dipenuhi hidangan mewah yang nyaris tak tersentuh. Om Broto duduk di kepala meja, wajahnya keruh, sementara Tante Retno sibuk mengaduk tehnya dengan gerakan kesal.
"Ibu dengar, hari ini detektif itu akan datang," ujar sepupuku, Rasti, memecah keheningan.
"Detektif apa?" tanyaku, bingung.
"Kau belum tahu?" Tante Retno melirikku sinis. "Sejak kematian Broto—anak sulungku—polisi bilang kasusnya tak wajar. Kepala desa memaksa memanggil orang luar untuk menyelidiki. Katanya, namanya Rendra."
"Padahal sudah jelas itu kecelakaan," sela Om Broto tajam, menaruh cangkirnya dengan agak keras hingga berdenting. "Anakku terpeleset, jatuh, lalu tenggelam. Sesederhana itu. Tak perlu ada detektif mengorek-ngorek nama baik keluarga ini."
"Kalau memang sesederhana itu, kenapa Bapak terlihat setakut ini mendengar ada yang menyelidik?" Damar, yang berdiri membawa nampan teh di sudut ruangan, bergumam pelan—cukup pelan hingga hanya aku yang mendengarnya.
Aku menahan senyum getir. Sejak semalam, aku merasa Damar adalah satu-satunya orang di rumah ini yang jujur padaku.
"Kau," tunjuk Tante Retno tiba-tiba ke arahku, membuatku tersentak. "Sejak kau datang, semua jadi ramai. Warga bahkan bilang-bilang, sumur itu memanggil lagi karena darah Nyai Kenanga akhirnya pulang."
"Aku hanya datang untuk pembacaan wasiat, Tante. Sesuai undangan," jawabku, mencoba tetap tenang meski dadaku panas mendengar tudingannya.
"Sudahlah, Retno," Om Broto menyela, meski nadanya tak lebih hangat. "Jangan buat suasana makin runyam sebelum detektif itu datang."
Sarapan berakhir dalam diam yang mencekam, tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menyentuh makanannya.
***
Selepas sarapan, aku memilih berkeliling rumah sendirian, mencoba mengenali kembali sudut-sudut yang dulu kuhafal luar kepala semasa kecil.
Di lorong menuju ruang tamu utama, berjajar rapi foto-foto keluarga besar dalam bingkai kayu berukir, sebagian sudah menguning dimakan usia. Aku berhenti di depan sebuah foto hitam putih paling tua, menampilkan seorang perempuan berkebaya dengan sanggul rapi, matanya teduh namun menyimpan kesedihan yang dalam.
"Itu Nyai Kenanga, Neng," sebuah suara serak mengejutkanku dari belakang.
Aku menoleh, mendapati seorang perempuan tua bertubuh bungkuk, membawa sapu lidi, menatapku dengan mata yang sama teduhnya dengan foto di depanku.
"Mbok Yem?" Aku nyaris tak mengenalinya, sudah jauh lebih renta dari yang kuingat.
"Masyaallah, Neng Kirana sudah besar," Mbok Yem tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Mbok kira Neng tak akan pernah kembali ke rumah ini lagi."
"Mbok kenal beliau?" tanyaku, menunjuk foto Nyai Kenanga.
Senyum Mbok Yem perlahan memudar. Ia menoleh sebentar ke kanan-kiri lorong, memastikan tak ada orang lain, sebelum berbisik, "Beliau itu buyut Neng yang sebenarnya. Yang ceritanya jarang sekali diucapkan di rumah ini."
"Kenapa jarang diucapkan?"
"Karena ceritanya bukan cerita yang enak didengar keluarga besar ini, Neng," jawab Mbok Yem pelan, matanya menerawang jauh. "Nanti, kalau sudah waktunya, Mbok akan cerita semuanya. Sekarang, sebaiknya Neng hati-hati saja dulu."
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Mbok Yem sudah berlalu, meninggalkanku sendirian menatap wajah teduh Nyai Kenanga dalam foto tua itu—wajah yang entah kenapa, terasa begitu mirip dengan bayangan yang kulihat semalam di bibir sumur.
***
Siang harinya, saat rumah mulai sepi karena semua sibuk menyambut kedatangan sang detektif, aku diam-diam menyelinap ke halaman belakang.
Aku harus memastikan sendiri. Bahwa yang kulihat semalam bukan sekadar bayangan lelahku, bukan mimpi buruk karena perjalanan panjang.
Sumur tua itu berdiri di sana, tenang di bawah rimbunnya pohon kamboja, seakan tak menyimpan apa-apa selain lumut dan sunyi.
Aku melangkah mendekat, jantungku berdebar cepat.
"Assalamualaikum," gumamku pelan, entah pada siapa, sebelum mengintip ke dalam sumur yang gelap.
Tak ada apa-apa. Hanya bau tanah lembap dan gema pantulan suaraku sendiri.
Aku menghela napas lega, hendak berbalik pergi—
Namun kakiku menginjak sesuatu. Aku menunduk.
Sepotong kain lusuh berwarna cokelat pudar, robek di beberapa bagian, tergeletak di rerumputan tepat di bibir sumur. Kuambil dengan tangan gemetar. Motifnya kuno, hampir seperti kebaya yang biasa dipakai perempuan zaman dulu.
Basah. Padahal sudah tiga hari tak turun hujan.
Ktipiiiiik!
Suara tetesan air—atau sesuatu yang lebih kental—jatuh dari dalam sumur, memantul di dinding batunya. Aku menoleh cepat.
Kosong.
Tapi kemudian, dari kedalaman sumur itu, mengalun sebuah suara.
Tangisan seorang wanita. Pelan, lalu makin lama makin nyaring, bergema memenuhi seluruh halaman belakang seakan datang dari segala arah sekaligus.
Aku menjatuhkan kain di tanganku, mundur terhuyung, hendak berlari—
tapi kakiku justru membeku,
tak sanggup bergerak sedikit pun,
saat tangisan itu perlahan berubah,
menjadi tawa.
**Bersambung ....**
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar