Pak Budi — Head of Finance di Bintara Konsultan — adalah bapak enam puluh tahun dengan cara berbicara langsung yang aku sukai segera.

"Kamu lulus S2 kapan?"

"Tiga bulan lalu, Pak."

"Kenapa baru hubungi sekarang?"

"Butuh waktu untuk memastikan keputusan saya."

Pak Budi mengangguk. "Kamu sudah delapan tahun tidak bekerja di bidang ini. Apa yang kamu bawa selain gelar?"

"Tiga tahun kuliah sambil mengurus dua anak dan rumah tangga mengajarkan saya manajemen waktu yang tidak bisa diajarkan di kelas." Aku menatapnya langsung. "Saya juga tidak punya kebiasaan kerja yang perlu di-reset. Saya bisa dibentuk sesuai kultur perusahaan Bapak."

"Gaji yang kami tawarkan di surat itu — masih sesuai?"

"Sesuai."

"Bisa mulai kapan?"

"Dua minggu dari sekarang, Pak. Saya perlu membereskan beberapa hal di rumah dulu."

Pak Budi menutup folder di depannya. "Diterima. Selamat datang di Bintara, Bu Sekar."

Di lift turun, aku berdiri diam menghadap pintu yang belum terbuka. Dan di sana, di dalam kotak kecil yang bergerak turun, aku membiarkan diri merasa apa yang selama seminggu ini aku tunda: lega. Takut. Lega lagi.

Dua minggu.

Aku punya dua minggu untuk membereskan delapan tahun.