Aryo pulang jam delapan malam dengan membawa bunga.

Bunga mawar merah, dibungkus plastik dari toko bunga pinggir jalan yang masih buka. Ia menyodorkannya padaku dengan senyum yang sudah terlalu sering aku terima setelah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

"Selamat ya, Sek. Maaf tadi tidak bisa hadir." Ia mencium dahiku. "Kliennya dari Jakarta, tidak bisa ditunda."

Aku menerima bunga itu. Meletakkannya di meja.

"Makan malam di mana?" tanyanya sambil melonggarkan dasi. "Kamu mau seafood? Atau steak? Traktiran aku."

Aku menatap bunga itu beberapa detik. Kemudian menatap Aryo.

"Tidak usah."

"Eh? Kamu sudah makan?"

"Belum." Aku berdiri dari sofa. "Tapi tidak usah diganti dengan makan malam."

"Sek—"

"Anak-anak sudah tidur. Aku mau istirahat."

Aku masuk ke kamar. Menutup pintu. Bukan membanting — hanya menutup, pelan, dengan cara yang lebih final dari bantingan apapun.

Di dalam, aku duduk di tepi ranjang. Memegang ponsel. Melihat foto-foto wisuda tadi yang dikirimkan Tita — sahabatku yang hadir karena memang aku undang, meski dengan canggung karena "kan suamimu yang datang."

Foto di panggung. Senyumku sempurna.

Kursi kosong di baris ketiga tidak kelihatan dari sudut foto itu.

Tapi aku tahu itu ada di sana.

Aryo mengetuk pintu. "Sek, boleh masuk?"

"Sudah tidur."

Hening dua detik. "Oke. Istirahat ya. Besok kita rayakan."

Langkah kaki menjauh.

Aku meletakkan ponsel. Menatap langit-langit kamar.

*Besok kita rayakan.*

Tidak perlu. Tidak ada yang perlu dirayakan bersama orang yang tidak hadir saat perayaan itu terjadi.