Kursi itu kosong.

Aku sudah melihatnya dari tadi — baris ketiga dari depan, sisi kiri, kursi nomor tujuh. Kursi yang sudah aku pesan dua minggu lalu. Kursi yang sudah aku kirimi foto denah gedung aula universitas supaya Aryo tidak bingung mencarinya.

Kursi yang seharusnya ada Aryo di sana.

Namanya dipanggil. Sekar Ayu Rahayu, S.Ak., M.Ak.

Aku berdiri. Merapikan toga. Berjalan ke panggung dengan langkah yang aku jaga supaya terlihat tenang — karena tiga ratus orang di aula ini tidak perlu tahu bahwa di dalam dadaku ada sesuatu yang retak pelan-pelan seperti porselen yang jatuh dalam gerak lambat.

Rektor menyerahkan gulungan ijazah. Aku tersenyum untuk kamera. Flash menyala.

Dan di momen itu — momen yang tiga tahun aku kejar di sela-sela mengurus Kenzie dan Naura, di sela-sela memasak dan mencuci dan mengantar jemput, di sela-sela menjadi istri yang "tidak mengeluh" — di momen itu, orang yang seharusnya ada di baris ketiga kursi nomor tujuh sedang di mana?

Ponselku bergetar di dalam saku toga.

Satu pesan. Dari Aryo.

*Maaf Sek, ada klien mendadak. Nanti aku ganti ya. Makan malam di mana yang kamu mau.*

Aku membaca pesan itu dua kali di atas panggung. Senyumku tidak berubah karena ada fotografer resmi di depanku yang menghitung sampai tiga.

*Klien mendadak.*

Delapan tahun. Dan ini yang aku dapat untuk satu permintaan.

Aku menuruni panggung. Duduk kembali di kursinya. Meletakkan ijazah itu di pangkuan.

Di sebelahku, seorang ibu-ibu yang baru saja diwisuda memeluk suaminya yang menangis terharu. Di depanku, seorang bapak menggendong anaknya sambil melambai ke arah istrinya di panggung.

Aku memegang ijazah itu sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun — sesuatu di dalam dadaku memutuskan bahwa ini adalah yang terakhir.