Tita datang Sabtu sore membawa martabak manis dan muka yang sudah siap untuk sesi curhat panjang.

"Cerita," katanya bahkan sebelum duduk.

Aku menyeduhkan teh. "Tidak ada yang perlu diceritakan."

"Sekar." Tita menatapku datar. "Aku yang duduk di baris ketiga kursi nomor tujuh kemarin karena kamu bilang 'kursinya sudah dipesan untuk suamiku'. Dan aku yang akhirnya duduk di sana karena kursinya kosong. Cerita."

Aku duduk di seberangnya. Meletakkan dua cangkir teh.

"Dia tidak datang."

"Aku tahu. Kenapa?"

"Klien mendadak."

Tita membuka kotak martabak. Memotong satu segitiga. Memakannya. "Ini yang keberapa?"

Aku mengangkat alis.

"Maksudku," Tita mengunyah, "ini yang keberapa kali dia tidak hadir di sesuatu yang penting buat kamu?"

Aku memikirkannya. Tidak lama.

"Ulang tahun pernikahan ke-lima — dia di luar kota proyek. Ulang tahun Kenzie yang pertama — meeting sampai malam. Lebaran pertama setelah Ibu Tini sembuh — dia golf sama bos-bos. Dan kemarin."

"Empat kali yang kamu ingat," kata Tita. "Berapa yang kamu sudah lupa?"

Aku tidak menjawab.

"Sek, kamu mau sampai kapan?"

"Aku sudah hubungi perusahaan konsultan itu."

Tita berhenti mengunyah. "Yang mana?"

"Yang kasih tawaran waktu aku lulus."

"Bintara?"

"Iya."

Tita menaruh martabak. "Kamu serius."

"Aku minta jadwal interview minggu depan."

Hening beberapa detik. Kemudian Tita berdiri, berjalan ke sisi mejaku, dan memelukku dari belakang.

"Aku bangga sama kamu," katanya pelan.

Aku menggenggam tangannya yang melingkari bahuku. Tidak menangis. Tidak perlu.

Ada banyak hal yang sudah aku tangisi dalam delapan tahun, dan tidak satu pun dari tangisan itu mengubah apa pun. Jadi malam ini aku memilih tidak menangis.