Pagi harinya, saat Aryo masih tidur dan anak-anak belum bangun, aku duduk di dapur dengan secangkir kopi.

Dan aku menghitung.

Bukan dengan kalkulator. Tidak perlu. Angka-angkanya sudah ada di kepala — sudah lama ada di sana, hanya tidak pernah aku keluarkan karena tidak ada gunanya menghitung hutang yang tidak diminta dilunasi.

Tapi pagi ini aku menghitungnya juga.

Tahun pertama pernikahan: aku berhenti bekerja karena Aryo dapat promosi dan harus pindah ke Semarang. "Ikut aku ya, Sek. Kamu bisa cari kerja di sana." Aku ikut. Tidak menemukan kerja yang cocok dalam enam bulan pertama karena jaringan di kota baru nol. Tapi aku diam.

Tahun ketiga: pindah lagi ke Surabaya karena proyek besar. Kenzie baru lahir. Aku mengurus bayi seorang diri karena Aryo lembur tiap hari. Ibu mertua datang "membantu" tapi lebih sering duduk menonton sinetron. Aku diam.

Tahun kelima: Ibu Tini sakit jantung. Rawat inap dua bulan, pemulihan setahun. Aryo bekerja, aku yang bolak-balik rumah sakit sambil hamil Naura. Keluarga besar Aryo memuji Aryo karena "anaknya berbakti". Tidak ada yang menyebut namaku. Aku diam.

Tahun keenam sampai kedelapan: aku kuliah S2 online. Malam-malam setelah anak-anak tidur. Tugas dikerjakan di sela-sela masak. Skripsi ditulis di akhir pekan ketika Aryo golf. Tiga tahun. Tidak ada yang tanya "gimana kuliahnya, Sek?" karena topik itu tidak pernah muncul di meja makan kami.

Dan satu permintaan — satu dari semua itu — ia abaikan juga.

Aku menghabiskan kopi itu.

Berdiri. Mencuci cangkir.

Di laci bawah meja dapur, di balik tumpukan plastik yang tidak pernah dipakai, ada satu amplop putih yang sudah aku taruh di sana tiga bulan lalu. Tawaran kerja dari PT Bintara Konsultan — perusahaan audit dan keuangan kelas menengah-atas di Surabaya.

Aku belum pernah membukanya lagi setelah pertama kali membaca.

Tapi pagi ini aku membukanya lagi.

Membaca angka di kolom gaji.

Membaca tanggal mulai yang masih bisa dinegosiasi.

Lalu aku mengambil ponsel dan mengetik pesan ke nomor yang tertera di surat itu.