Pak Arman adalah ketua RT Perumahan Kenanga — pria lima puluh tahunan yang sudah menjabat enam tahun berturut-turut karena tidak ada yang mau repot menggantinya.

Aku mendatanginya pagi berikutnya, setelah anak-anak berangkat sekolah.

Ia menerima aku di teras rumahnya dengan ekspresi orang yang sudah mendengar versi cerita lain sebelum aku tiba.

"Bu Bunga, duduk dulu."

Aku duduk.

"Soal spanduk kemarin—" ia memulai.

"Saya mau lapor secara resmi, Pak." Aku sudah menyiapkan ini. "Pemasangan spanduk dengan konten yang mencemarkan nama baik di lingkungan perumahan. Saya minta dicatat dan ditindaklanjuti."

Pak Arman mengedipkan matanya. Mungkin tidak mengharapkan yang seprofesional ini.

"Bu, ini urusan tetangga—"

"Ini urusan hukum kalau dibawa ke jalur yang benar." Aku menjaga nada tetap tenang. "Tapi saya pilih lapor ke RT dulu sebelum ke polisi, karena saya masih berharap bisa selesai di tingkat komunitas."

Kalimat "sebelum ke polisi" itu membuat Pak Arman sedikit lebih tegak.

"Baik. Saya akan bicara ke beberapa pihak."

"Terima kasih, Pak Arman." Aku berdiri. "Satu hal lagi — saya punya tiga anak yang berangkat dan pulang sekolah lewat jalan depan rumah saya. Saya minta tolong pastikan tidak ada pemasangan apapun lagi di pagar rumah saya."

Pak Arman mengangguk.

Aku pamit.

Di jalan pulang, Mbak Eni dari warungnya melambaikan tangan.

"Bu Bunga berani juga ya ke RT. Salut."

"Ini hak saya, Mbak."

Mbak Eni tersenyum — senyum yang tidak basa-basi. "Iya. Dan tidak semua yang diam itu setuju sama yang ramai ngomong."

Kata-kata yang kecil tapi aku bawa pulang lebih lama dari yang semestinya.

---