Spanduk itu terpasang jam lima pagi.

Aku tahu jam lima karena itu jam aku bangun untuk sholat Subuh — dan ketika membuka pintu untuk ambil air wudhu dari sumur, cahaya lampu jalan cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang menggantung di pagar depan rumahku.

Kain putih. Tulisan merah. Huruf besar-besar, tidak rapi tapi terbaca jelas dari jarak tiga meter:

*AWAS! WANITA PENGGODA DI SINI. JANDA PEMECAH RUMAH TANGGA ORANG!*

Aku berdiri di teras. Menghitung napas.

Satu. Dua. Tiga.

Dari dalam rumah, suara Tegar — anakku yang sulung, sebelas tahun — sudah bergerak di kamarnya. Sebentar lagi ia bangun. Sebentar lagi adik-adiknya bangun. Dan kalau mereka keluar dan melihat ini sebelum aku sempat menurunkannya—

Aku berlari ke pagar.

Tali yang mengikat spanduk itu kuat — terlalu kuat untuk dilepas dengan tangan cepat. Aku masuk ke dapur, mengambil gunting, kembali keluar. Tangan gemetar tapi gunting bekerja.

Spanduk itu sudah di tanganku ketika suara Tegar terdengar di pintu belakang:

"Buk, mau ke mana pagi-pagi?"

Aku melipat kain itu secepat mungkin. Memasukkan ke balik punggungku.

"Ambil jemuran yang ketinggalan semalam." Suaraku keluar lebih stabil dari yang kurasa. "Masuk, masih dingin."

Tegar mengerutkan dahi — anakku yang selalu memiliki mata yang terlalu jeli untuk anak sebelas tahun. Tapi ia masuk.

Aku menghembuskan napas.

Berjalan ke samping rumah. Memasukkan spanduk itu ke dalam tempat sampah yang paling dalam.

Lalu berdiri di sana, punggung ke tembok, dan mengizinkan diri merasakan apa yang tidak boleh kurasakan di depan anak-anak:

Sesak yang tidak tahu ke mana harus pergi. Marah yang tidak tahu harus ditujukan ke siapa. Dan rasa lelah — bukan lelah fisik, tapi jenis lelah yang datang dari sudah terlalu lama berjuang sendirian.

Suamiku meninggal dua tahun lalu. Mas Hendra — kontraktor bangunan yang pergi terlalu cepat di usia tiga puluh delapan karena serangan jantung yang tidak ada yang prediksi.

Sejak itu, aku penjahit rumahan dengan tiga anak, rumah kontrakan yang cicilannya masih dua tahun, dan tetangga-tetangga yang mulutnya bekerja lebih keras dari tanganku.

Dan sekarang spanduk itu.

Aku tidak tahu dari siapa. Belum.

Tapi aku akan tahu.

---