Gosip itu punya versi-versi.
Versi pertama yang aku dengar — dari Mbak Eni yang menceritakannya dengan nada seolah ia tidak enak tapi tetap menceritakan — adalah bahwa aku "dekat-dekat" dengan suami Bu Darmi di nomor empat belas.
"Katanya sering keliatan mampir ke rumah Bu Bunga sendirian, Mbak."
Pak Darwan — suami Bu Darmi — memang pernah mampir ke rumahku. Dua kali. Pertama untuk menitipkan baju jahitan istrinya karena Bu Darmi sedang ke pasar. Kedua untuk membayar ongkos jahit yang tertinggal.
Dua kunjungan. Masing-masing tidak lebih dari lima menit.
Tapi di mulut Perumahan Kenanga, lima menit bisa jadi satu jam, dan satu jam bisa jadi satu malam.
Versi kedua lebih kreatif: aku "menggoda" Pak Rizal di nomor sembilan yang baru saja pindah tiga bulan lalu. Pak Rizal yang, sejauh yang aku tahu, bahkan tidak hafal nama semua tetangganya.
Versi ketiga — yang ini yang membuatku paling lelah — adalah bahwa aku sengaja menjadi janda karena "mau bebas".
Sengaja menjadi janda.
Seperti Mas Hendra yang serangan jantung di usia tiga puluh delapan adalah bagian dari rencanaku.
Aku menceritakan ini ke Dewi — sahabatku sejak SMP yang sekarang tinggal di kecamatan sebelah dan selalu bisa aku hubungi untuk hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan ke orang lain.
"Mereka butuh topik," kata Dewi datar. "Dan kamu menarik karena kamu muda, cantik, dan tidak punya suami. Itu kombinasi yang bikin ibu-ibu kompleks tidak bisa tidur nyenyak."
"Aku tidak cantik."
"Kamu cantik. Itu masalahnya."
Aku menghela napas. "Terus aku harus apa?"
"Tidak harus apa-apa." Dewi serius. "Tapi kamu perlu tahu dari mana gosip itu berasal. Karena gosip yang punya sumber itu bisa diluruskan. Gosip yang tidak jelas sumbernya — itu yang berbahaya."
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar