Vina datang sore itu.
Adik perempuan Mas Hendra — tiga tahun lebih muda dariku, yang sejak pernikahan kami sudah tidak pernah benar-benar menyukaiku meski tidak pernah secara langsung mengatakan kenapa.
Ia datang dengan wajah yang sudah menyiapkan sesuatu.
"Mbak Bunga." Ia duduk di kursi tamu tanpa dipersilakan. "Aku dengar ada spanduk tadi pagi."
Berita cepat. Tentu saja.
"Iya." Aku duduk di depannya. Tegar, Rini, dan Ucup sudah aku minta main di kamar. "Sudah kucuci tangan itu."
"Siapa yang masang?"
"Belum tahu."
Vina mengangguk — cara mengangguk orang yang sudah punya dugaan tapi belum mau mengatakannya langsung.
"Mbak tahu kan, omongan orang-orang—"
"Tahu."
"Mungkin—" ia memilih kata, "—mungkin Mbak perlu lebih jaga sikap. Sebagai janda, banyak yang perhatiin. Kalau ada tamu laki-laki—"
"Pak Darwan datang dua kali untuk urusan jahitan istrinya." Aku memotong dengan tenang. "Pak Rizal belum pernah datang sama sekali. Fakta-faktanya seperti itu."
Vina terdiam.
"Aku hanya bilang—"
"Vina." Aku menatapnya langsung. "Aku menghargai bahwa kamu datang. Tapi kalau yang ingin kamu sampaikan adalah bahwa aku perlu mengubah cara hidupku supaya gosip orang berhenti, aku tidak bisa setuju dengan itu."
"Mas Hendra sudah tidak ada—"
"Aku tahu Mas Hendra sudah tidak ada." Nada suaraku tidak naik, tapi tidak lunak juga. "Aku yang memandikannya untuk yang terakhir kali. Aku yang menjelaskan ke tiga anaknya kenapa Ayah mereka tidak pulang. Jadi tolong jangan ingatkan aku tentang itu seolah aku lupa."
Vina diam cukup lama.
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Aku tahu." Dan aku sungguh-sungguh tidak mau bermusuhan dengannya — Vina adalah satu-satunya keluarga Mas Hendra yang masih mau berhubungan, meski hubungan itu tidak selalu nyaman. "Tapi aku butuh kamu percaya bahwa aku bisa menjaga diri dan anak-anak."
Vina berdiri untuk pergi. Di pintu ia berhenti.
"Mbak tahu Bu Lastri di nomor dua?" tanyanya pelan.
Bu Lastri. Nomor dua. Perempuan lima puluh tahunan yang sering duduk di teras dan matanya tidak pernah melewatkan satu pun yang bergerak di jalan kompleks ini.
"Kenapa?"
"Dia yang cerita soal spanduk itu ke semua orang sebelum jam tujuh pagi tadi."
Vina pergi.
Dan aku berdiri di pintu dengan satu nama yang baru bertambah ke dalam kepala.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar