Namaku Bunga Rahayu. Tiga puluh dua tahun. Penjahit.

Bukan penjahit yang punya toko di pinggir jalan dengan papan nama besar. Penjahit rumahan — mesin jahit di ruang tamu yang kadang mendengung sampai malam, gantungan baju di sepanjang satu dinding, dan pelanggan yang datang dan pergi lewat pintu yang sama dengan anak-anakku pulang sekolah.

Tegar, sebelas tahun — sulung yang terlalu cepat besar sejak Mas Hendra pergi. Ia yang selalu bangun paling awal, yang tidak pernah mengeluh ketika harus jalan kaki ke sekolah karena uang bensin habis, yang menggantikan lampu rumah yang putus sebelum aku sempat tahu itu putus.

Rini, delapan tahun — tengah yang paling banyak bicara di keluarga ini, yang komentarnya tentang segala hal sering lebih tepat dari orang dewasa, dan yang belum mengerti kenapa ibu-ibu kompleks selalu berbisik ketika kami lewat.

Ucup, lima tahun — bungsu yang masih sering memanggil "Ayah" ketika setengah tidur, dan setiap kali itu terjadi, aku pura-pura tidak mendengar sambil jantungku menyempit.

Tiga anak ini adalah alasan aku bangun setiap pagi.

Tiga anak ini juga alasan aku tidak bisa runtuh — meski beberapa kali rasanya sudah di tepi.

Kehidupan di Perumahan Kenanga — komplek kecil di pinggiran Bekasi dengan dua puluh tiga rumah dan kolam ikan di tengah yang sudah keruh setahun ini — bukan kehidupan yang mudah untuk janda muda.

Bukan karena semua orang jahat. Banyak yang baik — Bu Sari di nomor tujuh yang sering menitipkan lauk, Pak Bagus di ujung jalan yang selalu menawarkan antar kalau hujan deras, Mbak Eni penjual gorengan di mulut gang yang selalu sisihin satu bungkus untuk Ucup.

Tapi ada juga yang lain. Yang bicaranya tidak pernah langsung ke muka tapi selalu terdengar di telinga orang lain. Yang senyumnya manis di depan tapi matanya menghitung di belakang.

Seperti spanduk tadi pagi yang tidak muncul sendiri dari langit.

---