Hanya suamiku pelindungku selama ini. Setelah dia menikah lagi dan menyakitiku demi melindungi istri barunya, aku putuskan untuk hidup di kakiku sendiri.
"Mas masih menuduh aku celakain Marsha? Mas sendiri yang bilang dia sakit jiwa. Omongan orang enggak waras mau dipercaya?" tegurku saat Mas Bagas kembali setelah mengantar Marsha ke Puskesmas.
Orang tuaku bercerai saat usiaku enam tahun. Aku hanya hidup dengan nenek di rumahnya yang reot di pinggir kebun kopi. Saat SMA aku baru tahu ayahku sudah tiada tiga tahun sebelumnya. Ketika nenek meninggal, ibuku datang bukan untuk membawaku, tapi menjual rumah nenek dan mengirimku ke panti.
Setelah lulus SMA, aku pergi kuliah animasi ke luar negeri dengan beasiswa dan kerja paruh waktu. Tadinya aku kembali untuk mengurus surat pindah karena akan bekerja di Korea. Tapi malah bertemu Mas Bagas yang nyaris nekat karena ditinggal Marsha menikah dengan laki-laki lain.
"Enggak, Kirana. Aku tahu rasanya lihat orang yang kita sayang nikah sama orang lain. Lebih dari kamu," Mas Bagas mengungkit luka lamanya untuk membenarkan pengkhianatannya.
"Dan sekarang kamu lakukan itu ke aku. Orang yang dulu mengobati luka kamu? Jahat kamu, Mas," ucapku kesal.
"Kirana, kalau rumah ini disita, toko juga. Kita mau tinggal di mana? Ini semua demi kalian. Nanti kalau Marsha ingat semuanya, dia pasti minta balikan sama suami lamanya," dia menepuk dadanya seolah dia juga korban.
Dia memegang tanganku, tapi aku tepis. "Sabarku ada batasnya."
"Aku tahu kamu cinta sama aku. Kalau masih mau bertahan hidup sama aku, terima Marsha untuk sementara," pintanya, mengira aku masih Kirana yang dulu, yang tak bisa hidup tanpa cintanya.
Justru sekarang aku tahu, cinta hanya akan membunuh pelan-pelan. Karier dan uang justru membuatku dihormati.
Aku ingat lima tahun lalu Mas Bagas berlutut di depan rumah Marsha agar perempuan itu kembali, dan aku memayunginya, tidak peduli diriku sendiri basah kuyup. Bahkan saat dia sakit, aku rela tidak tidur menjaganya, menggantikannya menjaga toko.
Alasan aku dulu pergi kuliah ke luar negeri karena sakit hati melihat Mas Bagas dan Marsha bertunangan.
"Aku sentuh kamu supaya Marsha cemburu. Jadi jangan banyak berharap," katanya dulu.
Tapi Marsha ketahuan hamil lima bulan padahal baru menikah dua bulan. Mas Bagas sadar dia sudah diselingkuhi. Barulah dia mulai menerimaku. "Tapi janji, kamu jangan kayak dia. Kamu mau jadi istri setia 'kan?" pintanya kala itu.
Setelah aku setia dan berkorban sejauh ini, malah dia yang berselingkuh dariku.
"Marsha enggak akan lepasin kamu, Mas. Dia nyesel karena diselingkuhi suaminya. Dia tahu cuma kamu yang setia," katanya.
"Enggak. Cuma kamu yang sayang sama aku. Kamu enggak akan tinggalin aku kayak dia. Iya 'kan? Kamu udah janji."
Kali ini aku tidak membalas karena aku akan meninggalkannya, membawa Nara bersamaku.
"Kamu pasti lapar. Diam-diam aku beliin nasi goreng kesukaan kamu," tawarnya.
Aku menunjuk nakas di mana bekas bungkus nasi belum kubuang.
"Kamu punya uang dari mana?" tanyanya. Aku diam. "Simpanan? Aku tahu kamu suka nabung buat hal mendadak."
Dia tersenyum mengusap kepalaku. "Aku enggak akan bilang ke Ibu. Sampai mereka enggak marah lagi, aku bawain kamu makanan ke sini terus, ya, Istriku."
Mas Bagas menggendong Nara. Karena rindu ayahnya, dia tampak bahagia diajak main.
Tak lama mertuaku dan Rina pulang membawa Marsha. "Mas, kamu di mana?" terdengar suara Marsha.
Mas Bagas meninggalkan Nara yang memanggil namanya begitu saja hingga anak kami menangis. Aku gendong Nara menenangkannya. Dari pintu, kulihat Marsha memeluk Mas Bagas dengan ketakutan.
"Mereka enggak bisa dibiarin serumah. Lihat keadaan psikis Marsha. Kalau makin parah, Pak Darman bisa salahkan kita," keluh ayah mertua.
"Terus Bagas harus gimana, Pak? Kirana juga istriku. Apalagi ada Nara di antara kami."
"Ibu 'kan punya kontrakan petak di dekat kebun kopi. Suruh Kirana pindah ke sana."
Kontrakan itu sudah lama kosong, jauh dari perkampungan, airnya keruh, orang-orang takut tinggal di sana. Setega itukah mereka membuangku ke sana?
"Enggak bisa, Bu. Tempat itu enggak layak. Apalagi Nara masih kecil."
"Ya udah, suruh Kirana aja yang ke sana. Nara tinggal sama kita di sini."
Mas Bagas melirikku. "Kirana udah banyak bantu kita."
"Bantu apa? Dia cuma numpang hidup. Ibunya aja kirim dia ke panti."
"Mas, aku takut sama Kirana. Sekarang dia lukai tanganku. Nanti gimana kalau dia sengaja bikin aku gila?" keluh Marsha.
"Ingat, Bagas. Marsha enggak boleh trauma. Istri bodoh kamu itu sumber traumanya!" timpal Rina.
Lagi-lagi aku harus mengalah demi ratu kesayangan mertuaku. Malam harinya Mas Bagas memintaku membereskan pakaian. Katanya sudah menyuruh orang memperbaiki kontrakan dan membersihkan halamannya dari semak.
"Biar aku yang asuh Nara, Mas. Buat mancing, supaya kita punya anak," pinta Marsha manja.
"Kamu ambil aja, Mas Bagas! Jangan mimpi bawa anakku, Marsha! Bisa sial nasib anakku dekat kamu," umpatku.
"Kirana, Marsha juga ibunya Nara," Mas Bagas menggenggam tangan Marsha di depanku.
"Enggak! Dia istri kamu, bukan ibu anakku!"
Aku membanting pintu kamar di depan mereka. Setidaknya dengan pisah rumah, aku bisa diam-diam mulai menggambar animasi untuk dikirim ke seniorku, agar dia makin yakin memberiku pekerjaan di Korea.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar